Bab 22

27K 2.5K 60

Seperti biasa Alan dan Satria duduk berdua di meja makan memulai aktifitas paginya. Namun belakangan hari ini ada yang terasa mengganjal di hati Satria. Sejak awal ia selalu merasa marah ketika bersisian dengan Indira, namun lambat laun hati memang tak bisa dibohongi, ia merindukan Indiranya yang dulu, yang selalu berkata lugas dan pandangan mata yang selalu menggodanya. Tak sungkan untuk membawanya kedalam dekapan hangat yang sangat dirindukannya.

"Alan..."

"Ya Dad."

"Mommy mana?" tanya Satria ragu-ragu. Pertanyaan macam apa itu? bukankah ia yang menyuruh Indira untuk tak terlihat, jika ia sedang bersama Alan.

Alan langsung melihat ke arah tangga seraya berpikir. "Hmm. Mungkin beresin kamar Alan." Jawabnya.

Satria tersenyum getir lalu kembali menikmati masakan buatan Indira. Setelahnya Satria beranjak dari kursinya, mengatakan pada Alan hendak mengambil sesuatu dikamarnya dan menyuruhnya menunggu sebentar.

Satria memutar gagang pintu perlahan. Ranjangnya telah rapi, tak terdengar suara apapun disana, namun pintu ke arah balkon terbuka. Apa yang sedang dilakukan Indira disana, pikirnya. Satria melangkah perlahan. Indira yang masih mengenakan dress tidurnya berdiri memunggungi dengan kepala menengadah, rambutnya bergoyang mengikuti hembusan angin pagi.

Langit tampak menggelap hujan di pagi hari mungkin akan turun sebentar lagi. "Sebentar lagi hujan, kenapa berdiri di situ."

Meskipun dengan suara pelan Indira yang sedang melamun menjadi demikian tersentak, ia langsung memutar tubuhnya dan kehilangan keseimbangan saat dress panjangnya membelit salah satu kakinya.

Dengan tangkas Satria langsung meraih pinggangnya. "Hati-hati." Gumamnya. Titik air masih bersarang di wajah Indira membuat Satria tercenung dan tanpa sadar mengarahkan jemarinya mengusap air matanya. "Kamu menangis? Kenapa?"

Indira gugup ia menggigit bibir bawahnya lalu berusaha melepaskan kaitan tangan Satria. Tetapi Satria malah mempererat kaitan tangannya, dengan pandangan mata menusuk. "Jawab aku Indira, kenapa? Sejauh ini yang kulihat kamu selalu tenang. Kamu selalu terlihat seperti tak memiliki penyesalan apapun. Menolak menatapku. Menolak mendekat. Dulu sekasar apapun ucapanku untuk membuatmu menjauh kamu tetap mengejarku. Kemana keberanianmu yang dulu. Kenapa..."

"Daddy... Alan udah telat nih..." jeritan Alan dari luar kamar memaksa Satria melepaskan dekapannya. Indira meremat dadanya jantungnya bertalu cepat hingga terasa sesak.

Satria menipiskan bibirnya. Emosi yang membara dalam tubuhnya belum menyurut. "Daddy..." Satria menggeram dan memutar tubuhnya melangkah keluar dengan cepat.

Bibir Indira bergetar, tangisan kecilnya berubah isakan. Ia meluruh ke lantai dengan menekuk lutut. Satria benar. Ia tidak lagi mempunyai keberanian apapun.


***

Abdi menghampiri Malik yang baru saja menyelesaikan pemeriksaan kesehatannya kini ia sedang duduk di pinggir ranjang hendak turun setelah dibantu petugas melepaskan alat-alat yang berkenaan untuk pemerisaan kesehatannya yang selalu dilakukannya secara rutin itu.

"Om..." sapa hormat Abdi saat mendekat.

Malik tersenyum ramah. "Akhir-akhir ini pinggang Om sering merasa sakit." Sahut Malik menyertakan keluhannya.

"Nanti Abdi lihat hasil pemeriksaan Om. Oh ya Om, kemarin Satria habis dari sini juga."

"Satria? Ngapain dia disini?" tanya Malik langsung.

"Anaknya terkena alergi."

Malik menghela napas. "Anak itu! nggak pernah kabarin apapun ke orang tuanya. Jadi gimana keadaan cucuku."

Revenge Baca cerita ini secara GRATIS!