Bab 21

23.8K 2.3K 38

"Boleh saya masuk?"

Indira langsung menoleh, sesaat tubuhnya melemah. Dulu Abdi adalah orang yang selalu membayang-bayanginya. Memikirkannya selalu membuat emosi terdalamnya menguar. Namun kini bukankah sudah tak ada alasan lagi ia membencinya? Kesalahpahaman mereka sudah jelas meskipun tak diselesaikan secara baik.

Indira mengangguk sekilas. Alan memperhatikan dengan minat, seorang ber-jas dokter tersebut bukan dokter yang tadi memeriksanya.

"Hallo... Boleh Om tahu siapa namanya?" sapa Abdi ramah pada Alan.

"Alan, Om."

"Kalian sudah mau pulang?" tanya Abdi kembali.

Indira mengangguk. Tadi dokter kembali memeriksa keadaan Alan dan memastikannya baik-baik saja dan sudah diperbolehkan untuk pulang. Indira kembali melihat ke arah pintu, seolah ada yang ditunggunya, sejak tadi Satria belum juga menampakkan batang hidungnya. Apa dia sudah pulang? batinnya.

"Indira... bisa kita bicara sebentar," ucap Abdi dengan nada rendah.

Indira menatap ragu, lalu berdiri dan mengecup kepala Alan sekilas lalu melangkah keluar ruangan diikuti dengan Abdi.

Indira menutup pintu kamar rawat Alan rapat, "Apa yang mau kamu bicarakan?" tanyanya yang masih berdiri di depan pintu.

"Apa semua baik-baik saja? Maaf, bukan aku ingin mencampuri urusanmu. Tapi aku merasa ambil andil dengan semua kekacauan ini. Apa..."

"Apa yang sebenarnya ingin kamu tanyakan? Hubunganku dengan Satria? Kami tidak baik-baik saja, jika itu yang ingin kamu ketahui," ujar Indira dengan melipat kedua tangannya di dada.

Abdi memandang nanar. "Adikku sangat mencintai Satria. Tapi aku tahu dari dulu hati Satria tidak pernah untuknya, bahkan sebelum kamu hadir ke kehidupannya. Tolong jangan jadikan itu hambatan bagi kalian. Sebagai Kakak aku berkewajiban untuk membimbingnya."

"Ada atau tidak ada Adel hubungan kami memang sudah retak. Aku yang menyebabkannya jadi begitu. Sudahlah. Alan butuh istirahat aku ingin segera membawanya pulang."

Indira langsung masuk kembali ke ruangan menolak berbicara lebih lama dengan Abdi, bagaimanapun rasa sakitnya belum sepenuhnya hilang, lebih baik mereka hidup sendiri-sendiri sebagai orang asing.


***

Satria duduk di kursi kerjanya sejak pagi sekali, ia bahkan datang sebelum petugas kebersihan datang, dan terkejut dengan kehadirannya disana. Begitupun dengan sekretarisnya, yang juga sama terkejutnya melihat sikap tak biasa atasannya.

Satria seperti orang yang melarikan diri. Ia menghubungi Pak Teguh untuk menjemput Indira dan Alan sementara dirinya duduk di kursi kerja dengan pikiran kosong.

Ia menatap layar ponselnya dan melihat panggilan masuk yang dilakukan Indira semalam. Sudah tidak ada lagi nama witch disana. Yang ada hanyalan nomor baru yang tak dikenalnya, begitupun dengan Indira yang sekarang, Indira yang baru yang tak lagi dikenal isi hatinya.

Sebuah panggilan telepon memutuskan lamunan Satria. "Pak Nyonya Widya ingin bertemu." Sahut Sekretarisnya dari balik telepon.

"Suruh masuk."

Satria mengernyit, untuk apa Ibunya menemuinya di kantor seperti ini, tidak biasa-biasanya. Satria langsung bangkit dari kursinya saat melihat ibunya memasuki ruangan.

"Mama..." ujarnya sambil mencium kedua pipinya. "Tumben kesini."

"Memangnya nggak boleh. Tadi Mama sekalian lewat." Kata Widya lalu duduk di sofa. "Gimana hubungan kamu sama istri kamu?" tanyanya tanpa basa-basi.

Revenge Baca cerita ini secara GRATIS!