Chapter 96: Penyelesaian dan Perpisahan yang Menyentuh

3.3K 179 35


"Jii-chan/Paman... mundurlah. Sisanya... akan aku urus." (Kamui)

Melihat ekspresi Kamui saat ia bergegas menuju Silva, Silva pun menggumamkan "Houhou" dengan nada memuji.

"Sepertinya tidak akan ada masalah jika saya langsung menyerahkan ini pada anda, benar?" (Silva)

"Nn... tidak perlu khawatir." (Kamui)

"Nofofofofo! Kalu begitu saya akan menemui dua orang yang lain. Apakah anda tidak keberatan jika saya menyerahkan target utama kepada anda?" (Silva)

Kamui mengangguk pada rencana Silva.

"Uun. Aku akan melakukan... semuanya. Jadi tolong... mundurlah." (Kamui)

"Nofo?" (Silva)

Walaupun dia memiringkan kepalanya karena tidak mengerti maksud Kamui, Silva tetap mematuhi perintah Kamui yang mulai maju.

Kamui menatap tajam monster itu.

"Maaf... aku... tidak tahu." (Kamui)

"Gururururu!"

Menajamkan matanya, monster itu menggeram dengan keras ke arah Kamui.

"... memakai penampilan itu... yang paling terluka itu... Ayah, kan? Itulah kenapa... aku..." (Kamui)

Mengatakan itu, Kamui mencabut sebuah katananya. Seakan membuat orang lain bertanya-tanya apa yang akan dia lakukan, Kamui memposiskan pedangnya. Lalu

*Tsu-*

Kamui pun melukai tangannya sendiri. Tentu saja, setelah suara daging yang terpotong terdengar, darah merah pun mengalir dari lengannya.

*pota pota pota*

Darah Kamui terjatuh ke pasir di sekitar Kamui sesuai dengan hukum gravitasi. Kamui pun menyarungkan kembali Katananya ke sarungnya. Saat Hiiro dan Silva tidak mengerti apa yang dilakukannya ini, mereka hanya melihatnya dengan tatapan kosong. Saat itu, pasir yang terkena darah Kamui mulai menyebar.

"Darahku... sudah menyebar." (Kamui)

*Gogogogogogogogogogo!*

Pasir disekitarnya mulai bergetar lemah. Seakan baru saja terjadi gempa bumi. Lalu, bagian pasir yang sudah berwarna merah cerah pun mulai berterbangan ke udara. Ukuran pasir yang mengambang mungkin sebesar mobil.

"Aku yang sekarang... mungkin hanya bias menggunakan pasir ini, tapi..." (Kamui)

Pasir yang telah diwarnai degan darah itu mulai bergerak. Itu berkumpul di sekitar tangan kanan Kamui yang sedang dilebarkan ke arah atas. Lalu pasir-pasir itu mulai menjulang ke langit, kumpulan pasir itu mulai terbagi-bagi menjadi bagian kecil.

Karena terbagi menjadi seperti ukuran kelereng, jumlah pasirnya menjadi sangat banyak sampai sangat sulit dihitung. Bagian-bagian seukuran kelereng itu mulai berputar-putar di atas langit.

"Ini dia...「Red Idol./Berhala Merah.」(1)

Kamui menatap tajam.

"「Model-Rain/Bentuk Hujan.」" (Kamui)

*Hyunhyunhyunhyunhyunhyunhyun!*

Bagian-bagian kecil itu meluncur dengan kecepatan dewa ke arah monster-monster itu. Itu terlihat seperti sedang terjadi hujan merah.

"Giiiiiiiiiiiii!?" (Desert Monster)

Saat awan pasir tengah mengedar di langit, ratusan peluru menembus tubuh monster yang ada.

Konjiki no Wordmaster - Arc 2: Pergerakan di NerakaBaca cerita ini secara GRATIS!