Chapter 94: Pertarungan, Iblis dari Gurun Pasir

2.9K 186 7

Liliyn dan Shamoe melihat dari kejauhan, jadi mereka berdua standby di lokasi yang aman. Kelompok Hiiro mengikuti Jin-u. Dibelakangnya ada Kamui, Hiiro, dan Silva yang menutupi bekas langkah kaki mereka.

(Ada banyak benda penghalang disini. Di lautan batu ini kita mungkin punya keuntungan, tapi kalau monster itu sedikit berakal maka keuntungan itu akan menghilang.) (Liliyn)

Kalau kemampuan dan kecerdasan Rigund juga ikut terserap, maka tidak ada bedanya dengan bertarung dengan manusia biasa. Atas dasar kekhawatiran itu, musuh mungkin bisa menyusun taktik juga. Kelompok penyerang mungkin bisa bersembunyi diantara bebatuan lalu mendekat dan melancarkan serangan gerilya. Tetapi kalau musuh memiliki kecerdikan manusia, mungkin saja akan ada perlawanan yang sulit.

Mereka pun berkumpul didekat sebuah batu yang besar dan memperhatikan sekitar.

"Terakhir kali dia bersembunyi di gundukan pasir itu." (Jin-u)

Jin-u mengatakannya sambil melihat Kamui. Disana memang ada bukit pasir yang cukup tinggi. Didekatnya ada monster yang bernama「Mad Scorpion/Kalajenking Ganas」yang sedang melintas menggunakan kaki-kakinya. Pada saat itu...

~Swish!

Dari dalam pasir sesuatu yang mirip ekor muncul. Ekor itu pun melingkari tubuh Mad Scorpion dan menyuntikan suatu racun berwarna violet.

"KIIIIIIIII!?"

Mad Scorpion itu meraung sambil memberontak dengan putus-asa, tetapi kakinya hanya menendang-nendang udara. Kalajengking itu berusaha membebaskan diri dari cengkraman ekor itu, tetapi pemburu sekaligus pemilik ekor itu pun muncul.

"Itu dia iblis gurunnya!" (Jin-u)

Saat kalimat Jin-u terdengar, wajah Kamui menjadi kaku.

"... ayah..." (Kamui)

Hiiro pun memperhatikan monster itu dengan seksama. Memang lebih mirip Evilia ketimbang monster.

Monster itu memiliki ekor yang panjang dan kuat, juga tubuh yang diselimuti oleh pelindung/armor yang kuat. Monster itu juga masih memiliki ciri dari ras Ashura, kening yang datar yang diatasnya ada rambut putih yang tidak memberikan perasaan kematian. Tetapi mata berwarna merah-darahnya memberikan kesan kalau monster itu berusaha bertahan hidup.

Air liur menetes dari mulut monster itu saat ia menarik kembali ekornya dan mengangkat kakinya yang dipenuhi cakar yang tajam.

(Hm? Orb apa itu?) (Hiiro)

Dari apa yang Hiiro lihat, ada sebuah orb/bola cahaya berukuran sebesar kepalan tangan yang menempel di perutnya. Orb itu terlihat mengembang dan mengempis, mirip dengan jantung yang berdetak.

"Oy, bola yang menyala di perutnya itu apa?" (Hiiro)

"Kami berasumsi kalau itu adalah core/inti dari monster itu." (Jin-u)

Hiiro mengkonfirmasi pertanyaannya ke Jin-u.

"Jadi kita hanya harus menghancurkannya?" (Hiiro)

"Kurang-lebih..." (Jin-u)

"Kurang-lebih?" (Hiiro)

"Dulu kami mencoba menyerang orb itu, tapi kami bahkan tidak bisa menggoresnya." (Jin-u)

"Begitu ya. Kupikir dia sengaja memperlihatkan kelemahannya, tapi sepertinya tidak semudah itu. Pertahanan orb itu pasti tebal." (Hiiro)

"Mungkin semua... berkat itu." (Jin-u)

"Hmm?" (Hiiro)

Saat menunjuk monster itu, ekspresi Jin-u terlihat kesulitan.

"Lihat." (Jin-u)

Konjiki no Wordmaster - Arc 2: Pergerakan di NerakaBaca cerita ini secara GRATIS!