Korawa

1.1K 88 6

Meski Drestarasta putra tertua dinasti Kuru, kebutaan membuatnya tak mungkin menduduki tahta. Drestarasta tak bisa melihat. Namun telinganya lebih tajam dari telinga orang yang bisa melihat.

Sedari kecil, dia sering mendengar para pelayan menggunjingkan dirinya. Para bangsawan, termasuk Maharani Satyawati, dan Bisma... mengelu-elukan Pandu. Bukan dirinya. Hanya Pandu yang diizinkan memimpin upacara, dan yang terpenting, Pandu yang diminyaki lalu dikalungkan bunga saat upacara penobatan putra mahkota.

Kepergian Pandu membuat Drestarasta mulai menaruh harapan. Dia ingin membuktikan kemampuannya dalam mengelola kerajaan. Tapi sekali lagi, seakan-akan nasib sedang mempermainkannya. Permaisuri Drestarasta, Gandhari tak kunjung-kunjung mengandung. Meski tahun demi tahun berlalu.

Tuntutan Maharani Satyawati dan para Ibu Suri pun semakin membuatnya pusing. Saat itu, pembahasan istana hanya berkisar pada Raja Buta dan permaisurinya yang mandul.

***

"Apakah Permaisuri Gandhari adalah permaisuri yang senantiasa menutup matanya dengan sehelai kain itu?" tanya Drupadi. Anggukanku saat itu membuat Drupadi semakin penasaran.

"Mengapa dia menutup matanya?"

Itu adalah penghormatan bagi suaminya, jawabku, Dia ingin merasakan penderitaan yang sama seperti penderitaan suaminya.

"Sungguh beruntung Raja Drestarasta memiliki seorang istri yang setia seperti itu.

Tidak, Putri, aku menggeleng.

"Eh? Bukankah tidak semua wanita rela melakukan hal itu? Kebanyakan wanita pasti memilih untuk acuh."

Raja Drestarasta menganggap tindakan permaisurinya itu sebagai sebuah ejekan besar, Putri, aku berkata, Ada yang bilang situasi diperkeruh oleh hasutan-hasutan Sengkuni, raja Gandhara yang merupakan kakak dari permaisuri.

"Sengkuni?"

Kakinya pincang, dan dia selalu membawa dadu. Orang-orang meributkan asal-usul dadu itu, yang katanya dibuat Sengkuni dari tulang pahanya. Karena itu, dia selalu menang dalam judi dadu.

Drupadi bergidik karena ngeri.

"Ceritakan tentang Gandhari saja," akhirnya dia berkata ketakutan, "Ceritakan bagaimana dia bisa memperoleh seratus putra."

***

Setelah kelahiran Yudhistira, Hastinapura bergembira. Semua orang, dari anggota kerajaan hingga rakyat di luar istana bergembira. Sebaliknya, Raja Drestarasta malah merasa posisinya mulai terancam. Jika dia tidak memiliki putra, maka dia akan kembali diremehkan. Semua orang akan kembali mengusirnya dari tahta. Terlebih ketika keluarga Pandu kembali ke Hastinapura.

Tuntutan Drestarasta meneror Gandhari. Raja itu menuduh istrinya mandul. Mengancam, memaki... Setiap hari, Gandhari menangis di peraduannya, mengadukan nasib kepada para dewa. Dia berdoa, melakukan berbagai upacara untuk memohon keturunan.

Dewa Siwa yang akhirnya mengabulkan permohonan Gandhari. Sang Dewa menganugerahkan seratus putra yang akan menjadi ksatria tangguh. Gandhari mengandung tak lama kemudian. Drestarasta sempat bergembira, namun sekali lagi... dia merasa dipermainkan. Selama setahun lebih, kandungan Gandhari tidak membuahkan hasil.

Drestarasta marah. Dia mengguncang tubuh Gandhari. Dia menyumpahi istrinya. Dia langsung memanggil pelayan istrinya ke tempat tidur. Ingin membuktikan kalau Gandhari memang mandul.

Sementara Gandhari mulai larut oleh kemarahan. Di depan lingga Dewa Siwa, dia berteriak dan menuntut. Dia memukul perutnya... berkali-kali. Dalam penderitaannya yang panjang, Gandhari melahirkan seonggok daging.

Drestarasta makin merasa terhina. Dia mulai meremehkan anugerah dewa. Namun Maharani Satyawati datang dan menengahi pertengkaran Drestarasta dengan Gandhari. Mereka diminta mendatangi Begawan Abyasa untuk membantu kelahiran bayi dari seonggok daging itu.

Demikianlah, seonggok daging itu dibagi menjadi seratus bagian. Begawan Abyasa merapal mantra sebelum memasukkannya ke dalam kendi-kendi berisi aneka ramuan. Raja Drestarasta merasa senang, akhirnya putra-putranya akan dilahirkan. Putra-putra yang dia harapkan akan mengamankan posisinya di Hastinapura.

 #StopPlagiarism

Author Putfel

Legenda Negeri Bharata [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang