Chapter 8

383 31 1

Aku baru tahu kalau orang terkenal jika sedang bepergian akan membawa krunya sendiri. Termasuk Marc Marquez dan Dani Pedrosa yang ikut dalam rombongan untuk tur Repsol Honda di sekitar Asia Tenggara kali ini. Kalau aku tahu akan banyak orang yang ikut, aku pasti akan menolak untuk bergabung dengan mereka. Kalian tahu? Ketika kalian sedang berada di tengah-tengah orang yang baru kalian kenal dan harus menyesuaikan diri pada obrolan mereka yang tidak kau mengerti itu seperti menjadi seorang idiot di antara para profesor. Aku terlihat aneh di sekitar mereka dan aku merasa tidak nyaman. Tapi aku sudah terlanjur masuk ke dalam dan sulit untuk keluar(baca: tiket pesawat kembali pulang sangatlah mahal). Jadi, aku akan membiasakan diri untuk berada di antara mereka. Untungnya ada Marc, Alex, dan Joe yang masih dapat mengobrol denganku, kalau tidak aku pasti sudah menangis seperti anak yang kehilangan orang tuanya.

Baiklah, Indonesia adalah negara pertama yang kru Repsol Honda datangi. Marc mengatakan, dia sudah beberapa kali mengunjungi negara ini untuk promosi dan menemui fans-fansnya. Dan dia tidak pernah bosan untuk datang ke sini karena menurutnya orang Indonesia baik dan ramah. Dia juga mengatakan ada beberapa jadwal yang harus dia laksanakan di negara ini, yaitu menjadi bintang tamu dan menemui fansnya di sirkuit. Kami di sini hanya tiga hari dan entah apa aku bisa bepergian keluar atau tidak. Kalau jadwal Marc yang padat menggagalkan rencanaku pergi, mau tidak mau aku akan nekat pergi sendiri. Ayolah, aku ikut dengannya untuk jalan-jalan bukan untuk menemaninya bertemu fans.

"Bria, pegang ini." Marc menyodorkan ponselnya ke arahku. Sesaat aku memandangi ponselnya dan menatap Marc dengan dahi berkerut. Apa dia sedang baik hati memberi ponsel mahalnya untukku?

"Bisa kau ambilkan fotoku? Aku ingin upload foto untuk di Twitter dan Instagramku." Katanya yang membuyarkan anganku bisa memiliki ponsel mahal itu. Aku memberengut ketika mengambil ponsel milik Marc, tapi aku rasa Marc tidak memperhatikan raut wajah kesalku.

Aku memposisikan diri agar pas dalam mengambil gambar Marc yang sudah berdiri di depanku sambil berpose dua jari ke arah kamera lengkap dengan senyum khas miliknya.

"satu... Dua... Tiii..ga." Aku menghitung dan hasil jepretanku terlihat. Marc mendekatiku dan langsung merebut ponselnya.

"Aku tampan sekali." Komentarnya setelah melihat fotonya sendiri. Aku mendengus, kenapa ada manusia sepercaya diri itu?

"Menurutmu aku harus menuliskan caption apa?" Tanyanya tanpa menoleh ke arahku.

"Tulis saja 'duh, aku baru tiba di Indonesia. Jetlag ini membunuhku." Kataku asal.

"Itu tidak bagus."

"Kalau begitu pikir saja sendiri." Balasku sambil berlalu. Aku berjalan meninggalkan Marc dan memilih mendekati Alex. Alex sedang berbicara dengan Dani Pedrosa dan benerapa orang lain. Aku jadi segan untuk mendekati mereka, dan akhirnya aku memilih untuk duduk sendiri sambil menunggu barang-barang kami.

Aku membuka ponselku berniat untuk menghubungi ayah, memberitahunya kalau aku sudah sampai dengan selamat. Kemarin saat aku dan Marc menghubungi ayah untuk meminta izin pergi dengannya, ayah tidak percaya kalau pria itu benar-benar Marc Marquez. Ayah terdengar sangat senang saat aku menceritakan bagaimana aku bisa kenal dan dekat dengan Marc. Dia bahkan terus tertawa dan mengatakan 'astaga, Bria. Ayah bangga padamu' terus menerus hingga panggilan berakhir.

Maka dari itu aku berakhir ikut dalam rombongan Repsol Honda goes to South East Asia. Dan bisa jalan-jalan gratis tanpa uang sepeserpun. Ah, betapa senangnya bisa kenal dengan seorang artis.

Brianna Reign: Ayah, aku sudah tiba di Indonesia. Negara tropis yang menyenangkan!

Race To Your HeartBaca cerita ini secara GRATIS!