Bab 20

25.4K 2.4K 41

Sudah berhari-hari berlalu sejak kejadian malam itu. Sikap berbeda malah ditunjukkan oleh Satria. Ia selalu diam dan lebih menganggap Indira tidak ada, selalu mengalihkan tatapannya saat bersisian dengan Indira.

Nyaris tak ada percakapan diantara mereka. Jika malam mereka selalu tidur saling memunggungi, terkadang ditengah malam Indira sadar jika Satria keluar dari kamar, entah dimana dia tidur, Indira tidak berani mengikutinya. Situasi canggung selalu terjadi saat Alan menarik tangan Indira untuk bergabung menonton TV bersama dengan Ayahnya, jika sudah begitu maka Satria yang akan mencari alasan untuk pergi ia selalu bilang ada pekerjaan, dan mengurung diri di ruang kerjanya.

Sama halnya dengan Indira, ia selalu mencari alasan untuk tidak berada di meja makan meskipun Alan selalu mendesaknya. Tapi satu hal yang disyukuri oleh Indira, Satria tidak pernah menolak makanan yang dibuatnya. Setiap kali ia mengintip dari balik ruangan Alan pasti selalu bertanya pada Ayahnya apakah masakan Ibunya enak. Dan Satria selalu menganggukkan kepala lalu mengusap kepala Alan.

Dan seperti pagi ini. Indira membantu Alan memakaikan baju seragamnya, dan membereskan perlengkapan sekolah yang akan dibawanya.

"Mom."

"Hmm."

"Kemarin Oma sama Tante Adel datang ke sekolah Alan sambil bawa makanan banyak, Mom. Alan bagi-bagiin sama temen-temen yang lain."

Indira langsung menegang ditempatnya.

"Mereka ... Um. Maksud Mommy. Oma sama Tante Adel sering ketemu sama Alan?"

Alan mengangguk. Jantung Indira semakin berdegup kencang. "Kenapa Alan nggak cerita sama Mom."

"Lupa."

"Tapi biasanya Alan selalu cerita." Cecar Indira.

"Iya. Mom. Tapi tugas sekolah Alan banyak jadi Alan lupa cerita, kalau malam Alan kan main sama Dad."

Semua yang dikatakan Alan benar. Jika siang ia memang selalu menyelesaikan semua tugasnya, karena ia tak ingin waktunya dengan Ayahnya terganggu di malam hari.

Indira mendesah, ia langsung memeluk tubuh Alan. "Alan sayang kan sama Mommy?" tanyanya dengan nada bergetar.

"Iya. Alan sayang... banget sama Mommy."

"Kalau gitu, Alan harus cerita semua sama Mommy, apapun itu. Mommy harus tahu semuanya, Alan." Ujar Indira cemas.

"Iya Mom."

***

Adelia meladeni dengan sabar semua pertanyaan Alan yang selalu ingin tahu. Ia harus bersikap pro agar Alan nyaman dekat dengannya. Hari ini ia sengaja menjemput Alan kesekolahnya. Dan tibalah mereka di rumah.

Tangan Adelia mencengkram setir semakin erat, setelah pintu pagar terbuka, ia langsung memarkirkan mobil di tempat yang tersedia. Langkahnya untuk bertemu lagi dengan wanita itu semakin dekat.

"Mommy Alan ada di rumah?"

"Pasti. Mommy selalu di rumah." Jawab Alan dengan nada bahagia, "Ayo Tante." Ucapnya sebelum turun dari mobil.

Adelia membuka sabuk pengamannya dan ikut turun dari mobil. Ia mengandeng tangan Alan. Namun Alan melepaskan tangannya sampai di depan pintu. Alan membuka pintu, lalu menyapa. "Mom... Alan pulang." pekiknya seperti biasa.

Adelia benar-benar mempersiapkan mentalnya, ia bukan lagi wanita lemah yang tunduk seperti dulu. Indira terlihat turun menapaki anak tangga. Begitu pandangan mereka bertemu, Adelia langsung menyunggingkan senyuman tipis, Indira tampak menegang ditempatnya.

"Mom. Tadi Alan pulang sama Tante Adel. Yuk Mom. Alan kenalin sama Tante Adel." Alan menarik-narik tangan Indira namun Indira masih bergeming ditempatnya.

Revenge Baca cerita ini secara GRATIS!