Bab 19

22.5K 2.3K 47

"Wajah Daddy kenapa?"

Satria menggaruk tengkuknya. "Um. Ini. Daddy nggak sengaja nabrak tembok kemarin."

"Makanya, Daddy kalo jalan hati-hati. Mommy suka marah kalau Alan jatuh pas lagi main. Mommy nggak marah sama Daddy?"

Satria tergelak lalu menggeleng. Dihadapannya ada sepiring nasi goreng, dari penampilannya saja sudah menggugah selera. Pasti Indira yang membuatnya. Tanpa menunggu waktu Satria langsung menyantapnya.

"Dad."

"Hmm."

"Masakan Mommy enak ya?"

Satria kembali melirik puteranya yang menyengir. Mulutnya masih penuh, makanan yang tadinya ia kunyah dengan semangat kini memelan. Pipinya memanas, ekspresinya pasti lebih seperti orang kelaparan.

"Um. Iya enak."

"Mommy mana sih. Kok nggak turun juga. Tadi bilang ke kamar mandi," gerutu Alan dengan ekspresi lucu.

"Mungkin Mommy masih ada yang diurus. Alan cepat habiskan makanannya supaya nggak terlambat," ujar Satria mengelus pipi Alan. Ia melirik sekilas ke arah tangga, Indira tidak mungkin turun, meskipun sebenarnya Satria ingin...

Terkadang perkataan memang tak sesuai dengan hati.

"Mommy bilang Daddy mau ajak Alan makan malem di rumah Opa," kata Alan memutus lamunan Satria.

"Iya. Alan maukan ketemu sama Opa, Oma."

Alan menggangguk sambil tersenyum senang, dan kembali memakan makanannya begitupun dengan Satria.


***

"Nyonya..."

Indira langsung menghentikan kegiatannya di halaman samping. Mengurus tanaman sembari menunggu Alan pulang sekolah.

"Ada apa Bi?"

"Ada yang ingin bertemu dengan Anda."

"Siapa.." Bi Rum tidak perlu menjelaskan karena orang yang mencarinya sudah berdiri tak jauh darinya.

"Beliau Ibu Tuan Satria." Papar Bi Rum sepelan mungkin lalu berlalu sopan.

Indira langsung melepaskan sarung tangan yang dikenakannya. Ia gugup, berjalan pelan sembari meremat sisi pakaiannya.

"Jadi kamu wanita itu."

Wajah sinis langsung menyambutnya. Indira menundukkan sedikit kepalanya. Wanita paruh baya yang ada dihadapannya memiliki sedikit kemiripan dengan Satria, wajahnya masih cantik meskipun usianya tidak muda lagi.

Indira semakin bingung harus berbuat apa. "Si—silahkan duduk Tante," ucap Indira terbata merujuk ke bangku teras samping.

Widya langsung berdecak. "Sudah merasa menjadi Nyonya ternyata."

"Tidak perlu. Langsung saja. Apa tujuanmu? Wanita sepertimu pasti sangat cerdik. Tapi jangan kira aku akan terjebak. Menggoda anakku, lalu membawa anakmu masuk ke keluarga kami. Apa tujuanmu? Harta? Berapa yang kamu mau? Sebutkan saja aku akan segera menyiapkannya."

Indira mendongak melebarkan bola matanya. "Tidak. Tidak seperti itu. Saya sama sekali tidak menginginkan harta atau apapun itu."

"Lalu apa!!" bentaknya. "Jangan berputar-putar! Memaksa Satria menidurimu. Meninggalkannya, lalu kembali membawa anak dan menjerat Satria. Itu semua taktikmu! Orang sepertimu benar-benar sangat menjijikkan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan."

Indira berusaha keras untuk tidak meneteskan air matanya. Ia sama sekali tak mengenal Ibu Satria, tapi wanita itu mencacinya dan mengecapnya tanpa tahu yang sebenarnya terjadi.

Revenge Baca cerita ini secara GRATIS!