Bab 18

22.7K 2.3K 48

Mobil Adelia berhenti di depan pagar rumah Satria, menurut kabar yang diterimanya Satria telah kembali dari Kanada, namun hari ini pria itu tak tampak batang hidungnya di kantor. Ia mengklakson beberapa kali. Biasanya pembantu rumah tangga langsung membukakan. Namun kali ini hanya ada seseorang dari balik pintu gerbang yang melihat ke arah luar melalui pintu yang berupa kotak kecil yang ada di sisi paling sudut pagar.

Adelia menghela napas kesal. Dan turun dari mobilnya. "Cepat bukakan pintu!" suruhnya angkuh.

"Anda siapa? Ingin bertemu dengan siapa?" tanya petugas tersebut dengan nada tegas.

Sebelah alis Adelia terangkat. Sejak kapan Satria mempekerjakan orang itu, batinnya. Ia merasa tak perlu menjawabnya dan langsung menghubungi Satria. Namun sial, nomor Satria tidak aktif.

"Kak Satria ada di rumah?" tanyanya kesal.

"Tuan Satria sedang tidak ada ditempat."

Adelia menggeram, ia berdecak dan kembali ke mobilnya. Memutar setir sembari menggerutu.

Dari balik pagar pintu pagar rupanya tak hanya Indira yang tertarik mendekat tetapi juga Bi Rum yang biasa membuka pintu untuk Adelia.

"Siapa?" tanya pelan Indira pada pria yang baru diketahuinya bernama Pak Teguh.

"Ada seorang wanita yang mencari Tuan Satria." Jawabnya.

"Pasti Nona Adelia."

Tubuh Indira menengang menatap Bi Rum yang ada disebelahnya. "Dia sering kesini." Sambung Bi Rum.

"Oh. Mereka pasti sangat dekat," sahut Indira.

Namun Bi Rum yang sadar telah salah bicara langsung menunduk dan permisi ke dalam. Ia mengingat kembali peringatan Satria, untuk tidak bicara terlalu banyak.

Indira yang melihat ekspresi Bi Rum hanya mampu membuang napas, ia kembali ke kamarnya dengan pikiran bercabang, Adelia tidak mungkin pergi dari kehidupan Satria, dialah perusak hubungan mereka.

Indira berjalan menuju lemari mengambil kotak kayu yang tersimpan disana dan meletakkannya di atas ranjang, ia memungut kotak cincin yang tadi tercampak sembarang oleh Satria.

Ia mengecup kembali cincin sebelum memasukkannya ke dalam kotak. Cincin yang telah dibuang Satria namun memiliki arti yang sangat penting untuk dirinya. Ia memasukkan kotak cincin ke dalam kotak kayu dan kali ini ia menyembunyikannya ke bawah tempat tidurnya.

Indira duduk di tepi ranjang mengambil ponselnya dari atas nakas. Adelia sering ke sini, tentu saja, dia pasti masih berhubungan dengan Satria, dan entah mengapa itu membuat hatinya berdenyut nyeri. Ia hanya bisa mencintai Satria dari sisinya, dan tak mempunyai kuasa untuk mengakuinya di depan Satria. Karena sebesar apapun rasa cintanya ia sama sekali tak pantas mengharap Satria kembali seperti dulu.

Senyum tipis tertampil di wajahnya melihat email masuk yang berasal dari Jessi, ia segera membalas dan mengabarkan kalau ia telah sampai dengan selamat. Indira kembali menjelajahi layar ponselnya, dan berhenti sampai menemukan nama Panji dalam tampilan kontaknya. Apa kabarnya Panji saat ini? Ia sangat ingin sekali bertemu, Panji pasti akan memaksanya menceritakan segala hal, dan Indira jika sudah sangat tertekan akan menangis dipelukannya.


***

Satria membelikan banyak perlengkapan sekolah juga mainan untuk Alan. Anaknya terlihat begitu girang. Alan bahkan menceritakan semua yang dilakukannya hari itu pada Indira. Wanita yang akhirnya menjadi istrinya itu namun bukan dalam arti yang menyenangkan, tampak tenang menyambut cerita Alan.

Revenge Baca cerita ini secara GRATIS!