*Psst* Notice anything different? 👀 Find out more about Wattpad's new look!

Learn More

Menghilang

3.8K 463 32

Aku mengamati Axcel yang berjalan mondar mandir sambil merapikan bajunya yang baru saja ia ambil dari mesin cuci, lalu menggantungnya satu persatu ke dalam lemari gantung tanpa disetrika. Terlihat guratan-guratan gelisah didahinya. Sesekali ia mengucir rambutnya karena pita ikat yang sudah longgar. Aku hanya terduduk sambil mengamatinya dengan seksama. Berharap Axcel berhenti dari aktifitas mengulur waktunya dan mulai berbicara.

"Axcel." Panggilku.

"Tunggu sebentar. Aku harus membereskan yang ini." Axcel meraih gulungan selimut yang tampak kusut yang lembut lalu melipatnya dan melemparnya ketempat tidur.

"Ada yang bisa aku bantu? Sepertinya kau sangat sibuk sekali." Tawarku.

"Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri." Jawabnya tanpa menoleh sedikitpun.

Ponselku berdering pendek setelah beberapa detik. Kulihat pemberitahuan satu pesan masuk terpampang dilayar. Aku mebuka pesan dan nama Felix terpampang diatas isi pesan.

Bisakah kita bertemu malam ini?

Aku melirik Axcel yang masih tampak sibuk sendiri lalu kembali mentapan layar ponselku dan membalasnya.

Maaf Felix. Sekarang aku sudah berada dirumah Axcel. Sepertinya malam ini kita tidak bisa bertemu.

Satu pesan lagi masuk.

Ini darurat sekali. Si Pangeran datang lagi. Aku benar-benar bingung apa yang harus aku lakukan?

Aku terdiam sejenak memikirkan sesuatu. Mengingat bahwa Pangeran itu mirip sekali dengan Felix. Mungkin ia mengalami hal yang sama denganku sebelum ini.

Cobalah berinteraksi dengannya. Mungkin ada sesuatu yang ingin dia sampaikan padamu. Balasku lagi.

Setelah dua menit kemudian, ponselku kembali berdering. Baru kali ini, Felix membalas pesan begitu lama. Apa yang dia pikirkan?

Jujur saja, sebenarnya aku takut dengan hal-hal seperti ini. Tapi aku akan mencobanya sesuai saranmu. Semoga ini akan sangat menyenangkan.

Aku mengangguk dan tersenyum kecil lalu kembali mambalas pesan.

Beri tahu aku hasilnya.

Aku memasukan ponselku kedalam tas dan kini tatapanku tertuju pada Axcel yang entah sejak kapan ia menatapku.

"Kau sudah selesai Axcel?"

"Apa ada sesuatu yang terjadi pada Felix?"

"Entahlah. Dia bilang kedatangan seorang pangeran."

Axcel tertawa seketika sambil menutup mulutnya.

"Apanya yang lucu?"

Tawa Axcel mulai mereda perlahan. "Biasanya pangeran mendatangi tuan putri. Tapi ini, pangeran mendatangi pangeran."

Aku tersenyum masam mendengar jawabanya. "Mungkin itu terdengar sinting."

"Tidak juga. Itu—sangat menarik."

Dahiku berkerut seketika. "Menarik?"

Axcel mengangguk cepat lalu kembali tertawa sementara aku hanya terdiam melihatnya. Tapi—aku suka dengan Axcel yang sekarang. Ia sangat berbeda sekali dengan Axcel yang dulu waktu pertama kali bertemu. Aku hanya tersenyum dalam hati. Putri Es akhirnya mencair.

"Maaf Ririn. Aku—tidak bermaksud menyinggungmu." Wajah ceria Axcel kini berubah menjadi sendu.

Aku menggeleng cepat. "Tidak. Kau tidak menyinggungku sama sekali."

Loizh III : ReinkarnasiBaca cerita ini secara GRATIS!