~ memory ~

18.4K 876 37

Amira mendesah pelan. Perlahan ia memijit pangkal hidungnya setelah terlebih dahulu melepaskan kacamata minusnya. Hari ini merupakan hari yang melelahkan. Sederetan meeting yang harus ia hadiri, baik secara langsung maupun tele conference yang seakan tak ada habisnya benar-benar menguras tenaga dan pikirannya.

Tapi itulah konsekuensi yang harus ia tanggung. Demi menghilangkan perasaan terpuruk dan menurutkan egonya untuk membalaskan sakit hatinya, ia harus siap menjalani semuanya. Meskipun ia harus berdarah-darah, mengerahkan segala kemampuan terbaiknya dalam manajemen waktu, pikiran dan emosi, setidaknya ada sedikit perasaan puas dalam hatinya setiap melihat betapa tertekannya Ivan dari hari ke hari semenjak ia menggantikan posisi Phillip sebagai wakil presiden direktur.

Diam-diam Amira tersenyum kecut. Dalam hatinya terdalam bertanya pada dirinya sendiri, apakah benar jalan yang sudah ditempuhnya? Apakah ini akan memberikan kedamaian bagi dirinya sendiri?

Jawabannya, jelas tidak.

Jujur, dalam hati Amira semakin hari semakin merasakan beban berat yang menggelayuti hati. Sebenarnya, tak banyak yang ia dapat dari pertarungan tak kasat mata antara dirinya dan Ivan, selain rasa marah dan sakit hati yang kian hari kian bertumpuk. Namun ia masih belum rela. Belum mampu bersikap let it go pada kecurangan Ivan. Harga dirinya yang terluka masih ingin menghancurkan Ivan hingga menjadi kepingan-kepingan yang tak bisa disatukan lagi.

Tapi, apakah itu cukup? Amira sendiri tak yakin.

Kembali ia menghela nafas. Kali ini, ia menegakkan punggungnya dan mengalihkan perhatiannya pada sederet pesan masuk dalam surelnya. Secara seksama ia membaca satu persatu pengirim dalam kota pesan miliknya. Hingga matanya terpaku pada satu nama.

Barra Malik Wibowo. Terwaktu dini hari tadi.

’Barra?’

Cepat-cepat Amira membuka surel itu.

’Hi Amira... Apa kabarmu dan Ivan? Apakah Edgar sudah memiliki adik lagi? Hopefully you have a great momment in every second of your life’

Ditutup dengan tanda senyum, surel singkat itu begitu berpengaruh pada Amira. Hatinya berdenyut nyeri sekaligus bahagia. Tanpa sadar, mata indah Amira berkaca-kaca. Kenangan itu kini hadir menyentak, menyeruak dari alam bawah sadarnya.

”Jadi kau akan menikah dengan Ivan?”

Itu respon yang diberikan Barra ketika ia menyampaikan kabar acara lamaran Ivan pada dirinya.

”Iya, hari ini tadi acara lamaran kami Barra,”

”Selamat ya... Akhirnya papamu menerima Ivan...”

”Begitulah Barra, tapi sepertinya papa belum sepenuhnya bisa menerima Ivan, kau tahulah seperti apa papa. Untungnya Ivan bisa meyakinkan papa bahwa ia tak akan mengecewakan aku... Btw, sayang kamu tidak bisa hadir, padahal Doni dan Lina datang lho...” balas Amira disertai tanda senyum terbalik di akhir pesan instannya.

”Lebih baik aku tidak datang, Amira...”

”Lho kok gitu sih? Jahat banget kamu bilang begitu... Memangnya kamu tidak menganggap kami ini sahabat kamu?”

Kala itu Barra tak lagi membalas pesan dan Amira terlalu sibuk dengan perasaan bahagianya sehingga ia tidak terlalu memusingkan hal tersebut. Bahkan hingga beberapa waktu berselang Barra tak lagi bisa menemani Amira jika ia membutuhkan teman bicara. Hanya sebuah surel singkat ucapan selamat atas pernikahannya dengan Ivan, dan setelah itu tak ada lagi. Barra seakan menghilang begitu saja, hanya sesekali waktu mengirim surel, itupun hanya singkat dan seolah tak membutuhkan balasan. Walau terbersit sedikit perasaan kecewa di hati Amira, ia berusaha memaklumi. Kesibukan Barra dan perbedaan waktu serta sulitnya sinyal di tempat Barra beraktifitas, dianggap Amira sebagai alasan Barra untuk tidak menjawab pesan instan darinya.

WANITA PILIHANBaca cerita ini secara GRATIS!