18

294 13 4

Hari ini aku masuk sekolah seperti biasa. Sebenarnya aku tidak ingin masuk sekolah.. tapi yah, nanti siang sepulang sekolah aku ada eskul seni. Jadi aku masuk sekolah. (kalo gak masuk kasian Akihiko nungguinnya)

.

Bel pulang sudah berbunyi. Aku pun langsung menerobos keluar kelas dan dengan kekuatan berlariku, aku berlari menuju ruang seni.

Kau tau kenapa? Karena aku dan Akihiko sudah membuat perjanjian, barang siapa yang datang ke ruang seni terlebih dahulu. Dia akan ditraktir minuman.

"hah.. hah.." aku mengatur nafasku. Sekarang aku sudah berada di depan rjang seni.

"Yes, tidak ada orang." gumamku sambil tersenyum.

Aku pun masuk ke dalam ruang seni. Lalu mengambil tissue dan mengelang keringatku.

"Kau lelah?" ucap seseorang sambil tertawa.

"Ahh!" ucapku karena terkejut.

"se-sejak kapan kau ada disini?" ucapku terbata-bata karena terkejut.

"Haha, kau sangat lucu saat terkejut." ucap Akihiko.

"Huh.." aku mendengus kesal.

"Hari ini kau harus mentraktirku lagi, kk." ucapnya sambil menjulurkan lidahnya.

"hmm, kau saja kan setiap hari aku terus." ucapku sambil memberikan puppy face andalanku.

"Tidak mau, dan itu tidak lucu." ucapnya sambil menjulurkan lidahnya.

Wajahku pun langsung kembali datar. Aku pun mendekatinya. "Please?" ucapku sambil memberikan puppy faceku lagi dan mengoyang-goyangkan lengannya. (okesip, aku sudah muak dengan ini)

"Aishh! Ya, hari ini saja tapi. Hari ini aku lagi tidak ada niat melukis, jadi kita pergi saja, ayo!" ucap Akihiko.

"Yeayy!" ucapku.

"Tapi.. kita ingin pergi kemana?" ucapnya sambil menggaruk-garuk tengkuknya.

"hah.. kau yang mengajakku kan?" ucapku sambil memasang wajah yang datar.

"Hehe, iya sih.." ucapnya sambil menyengir.

"Ah, aku tau, kita pergi nonton saja, ayo!" ucapnya lalu menarik tanganku.

"Yaya." ucapku sambil membenarkan letak tasku.

.

Aku tidak bisa tidur, padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul 11.34 malam. Apa yang harus kulakukan?

Aku tidak takut dengan keberadaan sesuatu yang tidak dapat dilihat. Aku pun berjalan di koridor rumahku. Sudah sepi yang pasti.

"hiks.. hiks.." aku terkejut mendengar isakan tangis seseorang. Baik, aku tarik kata-kataku tadi. Sekarang aku merasa sedikit takut. Tapi aku penasaran.

Aku pun berjalan kearah sumber suara. Siapa itu? Minoru?

"Ya.. minoru, kau kenapa?" ucapku. Sepertinya dia terkejut dengan kehadiranku.

"ak-aku, aku tidak apa-apa." ucapnya. Lalu ia mendorongku keluar dari kamarnya dan menguncinya.

Hmm, aneh? Ada apa dengannya? Walaupun dia menangis dia tidak seperti ini biasanya. Apakah dia menangis karena ku?

.

Paper CraneBaca cerita ini secara GRATIS!