Chapter 4

163 14 0

Tidak terasa sudah Selasa, batas akhir pengumpulan tugas sadis dari Mas Irul. Tiga hari ini aku tidak pernah bisa tidur nyenyak, paling hanya tiga atau empat jam saja. Selebihnya, aku begadang mengerjakan tugas laknat itu. Tapi, usahaku terbayar meski harus mencuri waktu di sela-sela pelajaran. Pekerjaanku selesai. Dan sekarang, aku duduk di sini, beristirahat setelah tadi nyaris ketiduran di kelas. Rasanya ingin tidur lagi, minimal lima menitanlah.

Ya, awalnya kupikir begitu. Tapi, suara merdu tidak jauh dariku itu membuatku tidak bisa menutup mata. Suara merdu itu sedang menyenandungkan ayat-ayat suci. Rasanya nyaman di telinga.

Aku cuma tahu kalau pemilik suara itu anak cowok. Dia lesehan di dekat mimbar. Di sebelahnya, tergeletak sebuah topi putih polos dan sebuah kruk tongkat kaki. Kutebak kaki kirinya yang bermasalah, karena di pintu masuk mushola, tadi aku lihat sebuah sepatu sebelah kanan dan sandal kulit sebelah kiri. Pasangan yang aneh untuk dijadikan alas kaki. Tapi, ketika kulihat kruk itu, aku langsung paham kenapa pemiliknya memasangkan sebelah sepatu dan sebelah sandal kulit.

 Aku tidak tahu dia anak kelas berapa. Aku bahkan tidak bisa lihat wajahnya. Hanya punggung lebar yang bergerak seirama suaranya yang bisa ditangkap mataku. Bacaannya indah, mungkin ini yang disebut tartil ya? Yang jelas, bacaan itu membuatku bergeming. Aku langsung tahu, aku tidak akan mau beranjak dari sini meski dibujuk seperti apa pun.

Atau, itu yang awalnya kupikirkan. Tapi, bel masuk setelah istirahat kedua mau tidak mau membuatku beranjak juga. Apa boleh buat. Setelah ini ada pelajaran Sejarah, yang meskipun boros tinta pulpen dan buku tulis, pelajaran itu tetaplah favoritku setelah pelajaran Seni Rupa dan Bahasa Indonesia.

Waktu aku kembali ke kelas, Alya yang sedang membaca buku entah apa sambil menopangkan kepala di tangannya, langsung menegakkan tubuh saat melihatku. Dia melambaikan tangan, mengisyaratkan aku mendekat.

“PR?” tanyanya setelah aku duduk.

Aku langsung mengernyit. “Lah, kamu belum ngerjain?”

“Kurang dua nomer.”

Tanpa bertanya lagi, aku merogoh tas dan mengambil buku tulis Sejarah. Kusodorkan kepada Alya, langsung direnggutnya. Dia membuka bukunya sendiri, lalu mulai menyalin dengan pulpen pink transparan bergambar Doraemon yang kepalanya sudah mengelupas di sana sini. Aku bahkan bisa melihat tintanya sudah mau habis. Tapi, cocok juga sih dengan ikat rambut pink dan tas pink yang selalu dipakai Alya. Hahaha, padahal Alya benci pink, tapi punya benda-benda pink lumayan banyak. Dia memang pernah bilang kalau itu semua dibelikan bapaknya waktu dia kecil. Bapaknya tidak tanya warna kesukaan Alya dulu sebelum beli. Makanya hasilnya tidak sesuai maunya Alya. Tapi, bagaimanapun dia tetap tidak bisa menyalahkan bapaknya. Sepertinya aku bisa mengerti kenapa.

***

“Aaah, gara-gara kamu, Is.”

“Kok aku?”

“Kalau istirahat ke-2 tadi kamu nggak ngilang, aku bisa ngerampungin tuh PR.”

Aku langsung tertawa mendengar keluhannya. Yah, itu sih bukan salahku. Dari jam pertama sampai istirahat ke-2 kan banyak waktu luang. Kenapa dia tidak tanya di antara waktu-waktu itu, coba?

“Emangnya tadi kamu ke mana?”

“Mushola.”

“Ngapain?”

Ini anak pakai tanya segala. Apa lagi yang bakal dilakukan orang di mushola di tengah hari?

“Kamu sholat? Bukannya biasanya dhuhuran di rumah?”

“Soalnya ada yang lagi tilawah bagus banget sehabis Dhuhur.”

“Hah?”

Aku langsung menggeleng cepat. Rasanya tidak mungkin membuat Alya mengerti kalau dia belum dengar sendiri. Jadi, aku diam. Tapi, sekarang bukan itu masalahnya.

The White Hat [COMPLETED]Read this story for FREE!