Bab 17

25.7K 2.6K 85

Jantung Indira tidak berhenti berdegup kencang, semenjak pesawat mendarat perasaan cemasnya semakin menjadi-jadi. Tangannya sedikit bergetar sudah berapa lama ia meninggalkan negara ini. Namun bukan perasaan senang kembali ke kampung halaman yang dirasakannya. Melainkan ketakutan.

Seorang bertubuh tinggi tegap langsung menghampiri. Membantu Satria mengambil barang-barangnya dan meletakkannya ke bagasi mobil. Orang baru yang sengaja dipekerjakan Satria, ia akan menjaga Alan selama Satria harus bekerja, keamanan Alan yang paling utama baginya, juga sekaligus menjaga kemungkinan Indira akan pergi keluar disaat dirinya tidak ada, itu mungkin saja terjadi meskipun Satria sudah mengancamnya untuk tidak kemanapun tanpa seijinnya.

Hari sudah sore ketika mereka sampai, namun semangat Alan sama sekali tidak mengendur, perjalanan panjang sama sekali tidak menguras energinya. Ia terus saja bertanya berbagai hal pada Ayahnya sepanjang perjalanan menuju rumah Satria. Mereka duduk di kursi belakang sehingga Indira yang duduk disebelah Alan hanya diam tak mengeluarkan sepatah kata pun hanya anggukan ketika Alan mulai menanyainya lalu kembali menoleh ke arah kaca jendela.

Dua jam berlalu akhirnya mereka sampai di rumah Satria. Rumah dua lantai dengan pagar tinggi yang menggelilinginya. Indira memandang nanar, di rumah besar inikah ia akan menghabiskan hari-harinya? Tak akan ada adegan seorang istri yang mengantar suami ketika hendak pergi bekerja. Bermain bersama buah hati saat akhir pekan. Atau hal indah apapun yang ada dalam bayangan sebuah keluarga bahagia, ia hanya akan terkurung dan menuruti semua perkataan Satria.

***

Alan melompat riang di atas kasur, kamar yang disediakan Ayahnya dua kali lebih besar dari kamarnya yang terdahulu.

“Suka?” tanya Satria.

Alan mengangguk kuat lalu memeluk Satria yang berdiri di sisi tempat tidur. “Terima kasih, Dad.”

Satria tidak bisa mampu mengungkapkan rasa hatinya, darahnya selalu berdesir saat Alan berada dalam dekapannya, menemukan Alan seperti menemukan kehidupan baru dalam dirinya, dengan teguh Satria ingin menjadi penjaga dan tempat berlindung bagi anaknya.

Indira tertegun berdiri tepat di depan pintu. “Ini mau di taruh dimana, Nyonya.” Ucap seseorang yang kini berada disampingnya sambil menggeret koper besar milik Indira. Indira hanya menatap bingung.

“Bawa ke kamarku.”

“Daddy sama Mommy tidur satu kamar?” pertanyaan yang keluar dari mulut Alan membuat Indira langsung menunduk, ia tak ingin melihat ekspresi wajah Satria.

“Tentu saja,” jawab Satria mengacak lembut rambut Alan. Alan kembali kegirangan, Ibunya tidak tidur sendiri lagi, ia punya kamar tidur yang bagus dan luas, dan tidak ada lagi pertanyaan mana Daddymu? Sekarang semuanya terasa lengkap.

Alan turun dari kasur dan menghampiri Indira. Indira membungkuk dihadapannya, semua itu tak luput dari perhatian Satria bahkan ketika Alan terlihat membisikkan sesuatu dan membuat pipi Indira merona, ia segera mengalihkan perhatiannya ia tak ingin mengingatnya lagi, senyuman itu. Wajah merona itu. Semua kenangan indahnya dulu.

Indira menggandeng tangan Alan dan melewatinya menuju kamar mandi. Lalu keluar lagi, dan berkata, “Aku akan menidurkan Alan, dia terlihat sangat bersemangat tapi dari matanya aku tahu dia sangat, lelah, jadi..”

“Aku tidak butuh penjelasanmu,” potong Satria cepat dan keluar dari kamar Alan. Dadanya bergemuruh kencang, ia melangkah lebar menuju kamarnya. Hingga detik ini ia masih marah.

Entah apa sebab kemarahannya yang selalu tak terkendali saat berbicara langsung dengan Indira, ia tidak suka Indira menjadi setenang itu. Indira setidaknya harus mengatakan sesuatu, paling tidak tentang tindakannya dulu. Penat langsung melingkupinya, Satria berlalu ke kamar mandi dan membanting pintu kencang. 

Revenge Baca cerita ini secara GRATIS!