Bab16

25.2K 2.6K 27

“Jessi.”

Jessi yang tengah duduk di kursi kerjanya langsung menoleh. “Ada sesuatu yang serius?” tanya nya langsung. Mereka terbiasa to the point. Jessi langsung bangkit dari kursinya dan berjalan berdampingan dengan Indira menuju lorong yang biasanya sepi.

“Ada apa?”

Indira mendesah. “Dia menemukanku.”

Sebelah Alis Jessi terangkat. “Daddy Alan.”

“Hmm.”

“Lalu.”

“Dia ingin mengambil Alan.”

Jessi berdecak. “Kalau melihat dari posisimu aku sangat tidak setuju. Tapi kalau aku jadi dia aku juga akan melakukan hal yang sama. Kau beruntung sepertinya dia sangat bertanggung jawab.” Katanya. “Tidak seperti mantanku, meninggalkan begitu saja saat tahu aku mengandung. Untung anak itu menolak untuk dilahirkan, mungkin dia menolak bertemu dengan Ayahnya, jadi dia pergi sebelum sempat melihat dunia.” Geram Jessi mengingat kembali pengalamannya.

“Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya Jessi.

“Aku bersikeras ingin dengan Alan. Jika aku ingin bersama Alan maka aku harus ikut dengannya. Tapi kau tahu sendiri, bersamanya bukan dalam artian baik. Dia pasti sangat membenciku.”

“Jadi kau tidak punya pilihan lain selain ikut dengannya pulang, begitu kan?”

Indira mengangguk lemah. “Aku akan mengajukan surat pengunduran diri.”

Jessi menepuk pundak Indira. “Kau pasti bisa melaluinya. Sejauh ini semua baik-baik saja kan? Aku yakin tak akan lebih buruk dari pada kau yang harus melahirkan sendiri tanpa ada siapapun disampingmu.”

“Kau sangat membantu saat itu.”

“Aku hanya membantu membawakan baju gantimu!” decak Jessi. “Aku tahu dalam hatimu kau pasti berharap ada seseorang yang memegang tanganmu saat itu. Perbaiki hubunganmu dengannya, aku yakin ia hanya marah denganmu. Kalau dia memang mencintaimu, sebesar apapun kesalahanmu dia pasti memaafkan.”

“Aku sudah tidak pantas untuk mengharapkan apapun. Apalagi mengharapkan dia kembali mencintaiku seperti dulu. Rasanya itu mustahil.”

“Tidak ada yang mustahil Indira.”

Indira menggeleng kuat. “Dia terlalu baik untuk bersama orang sepertiku.”
Jessi memutar bola matanya, lalu memeluk temannya itu. selama beberapa tahun tinggal bersama dengan Indira ia sangat tahu sifat Indira yang pekerja keras dan tidak suka merepotkan orang lain. Ia akan memendam masalahnya sendiri dan berusaha menyelesaikan meskipun itu akan lebih mudah jika ada orang lain yang membantunya.

“Aku banyak sekali pekerjaan. Tidak tahu bisa mengantarmu sampai bandara atau tidak.”

“Tidak masalah.”

“Kabari aku setelah kamu sampai.”

“Hmm. Aku senang bisa bertemu dengan orang sepertimu.”

Jessi melonggarkan pelukannya.
“Kapan, jika ada waktu aku pasti kesana.”

Indira mengangguk seraya tersenyum tipis, ia pasti akan sangat senang jika Jessi berkunjung, itu pun jika Satria tidak melarangnya, karena sejauh ini ia tak yakin kehidupan seperti penjara apa yang akan diberikan Satria.

***

Langkah Indira semakin memelan saat meraih handle pintu, suara cekikikan dari arah dalam semakin terdengar jelas. Ia memutar knop perlahan. Tidak ada apapun, namun suara terdengar dari kamar Alan.
Indira melepas sepatu juga coatnya. Perhatiannya tertuju pada sepatu pria yang tergeletak di lantai. Dia disini? Tanya batinnya.

Revenge Baca cerita ini secara GRATIS!