Chapter 4

206 104 44

Kemudian Rendy kembali ke tempat duduknya, mengeluarkan selembar kertas dan alat tulis sebagai bekalnya mengerjakan soal kimia tersebut.

Baru saja dia membaca satu soal, dia dipusingkan oleh suara teman-temannya yang sangat memekakkan telinganya. Dia langsung menghentikan kegiatannya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelas. Suasana kelas saat ini sangat ramai. Bahkan saking ramainya tempat ini sudah tidak pantas disebut sebagai kelas. Mungkin sebutan 'pasar' lebih cocok diberikan.

Semua siswa terlihat sibuk dengan dunia mereka sendiri. Beberapa cewek ada yang membentuk sebuah lingkaran dan menggosip, lalu beberapa lagi ada yang berteriak histeris karena drama korea yang mereka tonton. Sebagian besar laki-laki memilih bermain game di PC-nya yang jika mereka kalah, maka mereka akan berteriak kencang melebihi toa.

Rendy mengacak-acak rambutnya. Dia benar-benar frustasi dan sesekali membenturkan kepalanya ke meja. Sungguh, dia tidak bisa berkonsentrasi.

Plekkk!!!

Suara buku yang menghantam meja kaca itu memecahkan konsentrasi Raina yang sedari tadi mengerjakan soal dengan tekunnya di bangku pojok kelasnya. Ekor matanya langsung melirik ke arah dimana suara tersebut berasal. Terlihat Rendy sedang duduk di sampingnya. Raina terkejut. Ia menolehkan kepalanya. Ia dapat melihat Rendy sedang membolak balikan buku dengan cepat sambil memasang raut muka yang masam dan tangannya mengetuk-ngetukkan pensil ke dahinya. Matanya menatap tajam ke arah soal yang ada di papan tulis dengan dahi yang berkerut.

Raina mengembalikan posisi kepalanya seperti semula. Ia sedikit terkejut dengan kehadiran Rendy. Ada perasaan senang yang muncul di dalam lubuk hatinya. Rasanya seperti ada seribu kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya. Jantungnya juga tidak mau berdetak dengan normal. Merasakan adanya perubahan dalam dirinya, ia langsung memegangi dadanya sambil menggigit bibir bawahnya dan memejamkan mata. Ia berusaha menyembunyikan semua hal yang dirasakannya. Ia hanya terdiam seribu bahasa di samping Rendy. Namun diam-diam ia juga memikirkan apa tujuan Rendy datang ketempatnya secara tiba-tiba.

"Nih soal apa soal sih? Susah amat diselesain." omel Rendy pelan ketika melihat soal yang ada di depannya.

Dia mendecak, "Apaan sih nih soal? Ngga bisa dipikir pake logika." Pensil yang dipegangnya dia ketukkan kembali di dahinya.

Pada dasarnya, Rendy memang tidak bisa pelajaran kimia. Oleh karena itu dia tidak menyukai pelajaran ini. Menurutnya, ada miss link yang tercipta di antara dirinya dan kimia. Terkadang untuk menyelesaikan satu soal saja, Rendy butuh waktu berjam-jam.

Raina yang sedari tadi mendengar omelan Rendy itu, tersenyum tipis. Namun, di sisi lain ia juga bingung dan kaget. Ia menyadari adanya perubahan pada sikap Rendy. Memang kali ini Rendy tidak seperti biasanya. Tidak seperti yang disaksikan Raina setiap harinya. Dingin. Kata itu seakan hilang dalam sekejap,entah kemana. Raina tidak mengerti.

"Apakah memang selama ini, aku ngga tau Rendy yang sebenarnya ya? Ah, mungkin ini cuma efek frustasinya aja." batin Raina.

Ini adalah pertama kalinya Raina melihat Rendy yang yang bersikap kekanak-kanakan, tidak seperti biasanya yang terlihat dewasa. Matanya yang memicing melihat soal, dahinya yang berkerut saat berpikir, dan bibirnya yang manyun saat dia tidak mendapat sebuah jawaban, itu semua terlihat sangat lucu bagi Raina.

Telinga Rendy peka akan suara tawa pelan. Dengan sigap, dia langsung menoleh ke arah Raina. Dan benar, dia mendapati bahwa suara tawa itu berasal dari Raina. Dia melihat Raina yang sedang menggembungkan pipinya dan mengulum senyum seakan menahan tawa.

Rendy menaikkan sebelah alisnya dan bertanya, "Lu ngapain ketawa kaya gitu?"

Raina diam tidak menjawab pertanyaan Rendy. Ia masih asyik menertawakannya.

"Gak jelas." balasnya sambil memalingkan pandangannya dari Raina.

"Kamu lucu." suara itu tiba-tiba keluar dari mulut Raina. Membuat Rendy menatapnya bingung.

"Kok gue? Emang gue ngapain? Emang ada yang lucu dari gue?" jawab Rendy bingung.

Raina tertawa. "Iya, haha."

"Apaan emang?"

"Kamu ngga sadar? Dari tadi ngomel-ngomel ngga jelas. Ekspresi kamu kaya anak kecil. Lucu." jawabnya polos sampai tawanya semakin menjadi.

Rendy mengingat apa yang barusan terjadi. Dia berbicara sendiri, mengomel tidak jelas tentang soal kimia. Namun, dia tidak menyadari keberadaan Raina disampingnya. Dia lupa kalau dia pindah tempat gara-gara kelasnya yang ricuh itu.Dia menahan malu. Tidak biasanya dia seperti ini di depan orang lain. Khususnya orang yang tidak terlalu dekat dengannya.

"Emang lu denger?" sahut Rendy.

"Ya denger lah. Kita kan duduk sebelahan. Masa aku nggak denger kamu ngomong apa. Haha." balas Raina.

"Oh, iya ya. Ada benernya juga sih si Raina.Ah ngapain juga sih gue pake ngomel segala. Raina tau lagi. Duh mau ditaruh mana nih muka?" batin Rendy sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.

"Hehe sorry ya. Efek frustasi nih." kata Rendy sambil menunjukkan cengirannya.

Rendy menampakkan wajah memelas. "Ehm, lu kan pinter, bisa bantuin gue ngerjain ini ngga? Gue angkat tangan kalau masalah kimia."

"Aku bantuin kamu?" Raina mengerjapkan matanya beberapa kali dan menanyakan pertanyaan yang sebenarnya sudah ia ketahui jawabannya. Ia masih bingung tak percaya, Rendy meminta bantuannya.

Rendy hanya menganggukkan kepalanya cepat.

Raina bingung harus menjawab apa. Ada perasaan canggung yang timbul dan juga jantungnya yang tak karuan bila berada di samping Rendy. Namun, ia tidak tega melihat Rendy yang sudah dibuat kimia frustasi, sampai-sampai dia mengomel sendiri.

"Oh, okay deh." kata itu akhirnya keluar dari mulut Raina.

Rendy antusias mendengarnya jawaban Raina. Dia menggeser duduknya mendekati Raina. Raina yang menyadari akan hal itu, tak kuasa mengendalikan jantungnya yang terus berdebar-debar. Ia menutup matanya. Tak mau hal itu diketahui Rendy. Ia tak mau salah tingkah.

"Mulai dari awal ya." suara itu mengagetkan Raina.

"Oh, i-iya." jawabnya gelagapan. Ia salah tingkah. Ia segera membuang jauh perasaan canggungnya itu. Berusaha untuk menenangkan jantungnya.

Mata Raina tertuju pada buku kimia yang ada di meja. Bibir mungilnya terbuka untuk mulai mengeluarkan sepatah kata. "Jadi gini,.."

Gadis itu mulai menjelaskan materi dari awal secara fasih. Tangannya kadang-kadang ikut bergerak saat ia menjelaskan. Sebagai alat pendukung penjelasannya, agar Rendy lebih mudah memahami.

Rendy memperhatikan dengan seksama, mencoba memahami apa yang Raina jelaskan. Menurut Rendy, caranya menjelaskan lebih mudah dipahami daripada cara Bu Anna menjelaskan. Karena Bu Anna menjelaskan dengan tatapan mata tajam seakan mengintimidasi setiap siswa. Sedangkan Raina, ia menjelaskan dengan sangat lembut. Dengan nada yang halus. Dengan gerakan yang menurut Rendy itu adalah hal yang lucu. Caranya menjelaskan, melukiskan sifatnya.
Rendy tidak sadar sejak kapan dia memindahkan pandanganya dari buku ke arah Raina. Memandangi Raina. Mengamati wajah polosnya ketika menjelaskan. Dan Rendy baru sadar kalau Raina benar-benar manis. Dia menorehkan senyuman tipis.

-------–-------------------------------------------------

Haii readers...
Gimana? Sampe sini, ceritanya bagus ngga? wkwk
Author-nya lagi gegana gegara malam minggu gada yang ngajakin keluar --" #edisicurhat
Jadi ya maapkanlah kalo ceritanya jadi gaje :v

Vote and comment nya dinanti lho, hai para silent reader wkwk :v ngga usah malu-malu kalo comment, author ngga gigit kok wkwk :v
Boleh comment buat gimana kedepannya cerita ini. Juga boleh kasih kritik dan saran. Thank you :*

Rain [SLOW UPDATE]Baca cerita ini secara GRATIS!