Chapter 7

438 41 4

"Bria, kita lanjutkan besok ya?"

Kakiku berhenti melangkah saat suara Marc terdengar. Aku berbalik dan menatapnya yang tengah duduk di salah satu kursi panjang tepat di bawah sebuah pohon. Dia menyenderkan punggungnya dan matanya terpejam.

Pencarian Christie belum juga selesai. Kami sudah mencari kemana pun tapi Christie belum bisa di temukan. Dan sekarang sudah lebih dari empat jam kami mencari, kakiku sudah kebas karena mengelilingi taman yang cukup luas ini. Aku rasa Marc juga merasakan hal yang sama, itu terbukti saat dia terlihat lelah di bawah pohon itu.

"Kau capek?" Tanyaku saat sudah bergabung dengannya di kursi.

"Sedikit." Balasnya masih sambil memejamkan mata.

"Kau boleh pulang, Marc. Terima kasih sudah mau membantuku mencari Christie."

Marc membuka matanya dan langsung menatapku, "dan aku membiarkanmu mencari dia yang tidak punya otak karena pergi entah kemana? Bagaimana kalau kau yang hilang?"

"Aku sudah dewasa, Marc. Kalau hilang, setidaknya aku bisa bertanya pada orang-orang disekitar sini." Jawabku.

"Itu, Bria! Temanmu juga sudah dewasa, dia tidak mungkin menghilang. Jadi lebih baik kau kembali ke hotel dan tunggu temanmu di sana. Sedaritadi kita mencari, tidak ada satupun orang yang melihat temanmu itu."

"Tapi..."

"Terserah." Marc menyela omonganku. Aku langsung terdiam mendengar bentakannya. Bahkan dia tidak mau mendengar alasanku. Aku hanya khawatir pada Christie, apa dia tidak mengerti hal itu?

"Kalau kau tidak mau membantu, sudah sejak awal aku melarangmu ikut. Kalau kau marah padaku karena hal ini, aku minta maaf karena merepotkanmu." Kataku pelan.

"Bukan, aku tidak marah padamu. Maksudku, kau tidak perlu khawatir pada temanmu itu. Aku yakin dia baik-baik saja, mungkin dia sedang bersembunyi di suatu tempat untuk menenangkan diri. Kalau kalian memang bersahabat, dia akan paham posisimu sekarang."
Aku merasakan Marc yang mendekat ke arahku.

"Walaupun dia kadang menyebalkan, aku sangat khawatir akan ada sesuatu yang buruk terjadi. Dia seperti adikku, Marc."

"Aku paham. Tapi kau juga jangan memaksakan diri. Aku mengerti apa yang kau rasakan karena aku juga seperti itu jika Alex menghilang atau susah dihubungi. Percaya atau tidak, walaupun kami sering bertengkar, aku dan dia tidak pernah terpisahkan."

"Aku bisa melihat hal itu." Kataku tersenyum kecil. Marc ikut tersenyum padaku dan langsung menarik tubuhku hingga menempel pada tubuhnya. Aku membeku selama beberapa saat, Marc memelukku. Aku ulangi. Marc memelukku!

"Jangan main peluk seseorang sembarangan, Marc Marquez. Ini sudah yang kedua kalinya kau melakukan hal itu." Kataku seraya mendorong tubuhnya menjauh. Aku hanya bercanda saat mengatakan hal itu, karena itu hanyalah alasan agar pipiku yang memanas tidak terlihat olehnya.

"Ck! Tidak perlu jual mahal padaku, Bria. Aku dapat membaca dengan jelas di wajahmu kalau kau senang dapat aku peluk. Kau harus bangga bisa dengan mudah memelukku, tidak seperti gadis di luar sana yang harus bersusah payah menunggu keberuntungan agar bisa memelukku."

"Terserah, Marc. Kau terlalu banyak bicara hari ini." Kataku. Marc tertawa keras, "Aku juga tidak tahu kenapa bisa secerewet ini pada seorang gadis." Katanya.

"Lalu sekarang apa? Kau masih mau mencarinya?" Tanya Marc. Aku mengendikkan bahu, langit sudah berwarna orange nyaris gelap, dan sepertinya aku akan memilih beristirahat.

"Kita pulang?" Marc bertanya lagi dan aku mengangguk. Marc bangkit dari duduknya dan memberi tangan kanannya untuk membantuku bangun. Aku memutar bola mataku, "aku belum setua itu, Marc. Aku masih sanggup untuk berdiri sendiri."

Race To Your HeartBaca cerita ini secara GRATIS!