***

Sepanjang jalan Alan tersenyum riang karena kali ini ia ditemani oleh Indira. "Mom, hadiahnya apa?" tanyanya mengacungkan bungkusan kadonya.

"Mobil-mobilan." Jawab Indira. Ia bahkan tak sempat berganti baju karena Alan sudah menariknya, Alan takut acaranya sudah dimulai.

"Mobil-mobilan kayak punya Alan?"

"Um. Mommy nggak inget."

"Hmm... Mommy cepat lupanya."

"Mobil-mobilan kamu kan banyak sayang, mana mungkin Mommy inget satu-satu."

"Iya juga." Kekehnya pelan memeluk pinggang Indira.

"Anak Mommy cepet banget ya tingginya," ujar Indira mengelus kepala Alan yang tingginya sudah melewati pinggangnya.

"Alan kan rajin minum susu Mom."

"Iya. Iya .."

Sampai di depan rumah yang dituju Alan langsung berseru memanggil Genta. Acara di adakan di halaman belakang, Alan memang sangat sering main kerumah Genta, dan Indira sangat bersyukur meskipun di negara asing, ada beberapa keluarga pribumi yang tinggal dekat dengan tempat tinggalnya.

***

"Aku terkejut kamu tiba-tiba kirim kabar mau kesini." Ucap Robby sambil menyetir mobilnya.

"Sekalian liburan, penat kerja terus." jawab Satria basa-basi, tentunya bukan itu tujuannya. Dunia terasa sempit, ternyata keberadaan Indira tak jauh dari sepupunya, Robby.

"Tapi lagi musim kerja, jadi aku nggak bisa ngajak kamu keliling. Dirumah ada Genta sama Lina, nanti aku bilang sama mereka buat ajak kamu jalan."

"Nggak apa. Aku bisa keluar sendiri. Lama disini bahasamu berubah ya .. nggak pake lo gue lagi."

"Haha ... iya udah kebiasaan soalnya."

Mobil Robby memutari pekarangan rumah tanpa pagar.

"Ada acara apa kok rame?"

"Ulang tahun Genta. Biasalah anak-anak maunya dirayain, kecil-kecilan aja sih, cuma undang teman-teman Genta disekitar sini."

Sorot mata Satria langsung menajam, jika tebakannya benar maka ia bisa bertemu dengan anak itu. "Kok nggak bilang tahu gitu aku bawa hadiah."

"Nggak usah lah, kamu beliin mainan pun mainannya udah banyak, kamarnya sampe udah nggak cukup lagi buat nampung mainannya."

Pandangan Satria berubah teduh, lalu bertanya, "gimana rasanya punya anak?"

"Asyik. Kalau lagi badmood sama istri bisa main sama anak. Nggak enaknya kalau udah minta macem-macem bawaannya mesti diturutin, maklum aja baru sebiji, jadi berasa dimanja gitu. Makanya nikah biar tahu rasanya, udah tua juga, apa lagi yang ditunggu?"

"Cara kamu ngomong udah kayak Mama."

"Sial!" umpat Robby dengan kekehan, lalu turun dari mobilnya. Satria mengambil kopernya dari bagasi lalu mengikuti Robby masuk ke dalam rumahnya.

Robby membukakan pintu kamar Genta. "Tidur disini nggak apa kan? Biar Genta tidur sama aku."

Satria mengangguk. "Aku ke belakang ya, kayaknya acaranya udah mau mulai."

Satria keluar setelah menutup pintu kamar Genta, benar apa kata Robby banyak mainan disana. Satria menarik napas sedalam-dalamnya sebelum melangkah ke halaman belakang, besar kemungkinan kalau orang yang dicarinya ada disana juga.

Jantungnya berpacu cepat saat matanya mulai menyapu sekeliling. Tepat disana... Tepat seperti dugaannya...

Dengan perlahan Satria mendekat, hatinya terasa nyeri, jantungnya seolah teremas melihat pemandangan itu.

Revenge Baca cerita ini secara GRATIS!