bagian 12

2 1 0

Aku pikir persepsi orang mengenai tinggal dirumah saudara itu gak enak adalah pendapat oleh dirinya sendiri, dan itu gak mustahil adanya, cuma bohong-bohongan saja. Tapi ternyata aku salah besar menganggap pendapat yang "kata orang" itu salah.

Awalnya tinggal dirumah saudara itu rasanya enak, manis banget malah. Tapi ternyata ujung-ujungnya semua sama aja seperti apa kata orang pada umumnya.

Aku bukan tipe orang yang inisiatif untuk langsung ngerjain ini dan itu, aku tipe orang yg justru kalau dibilang "ini" baru aku mengerjakannya. Ya mungkin untuk beberapa orang yang tidak sabaran dan tidak mau memerintah orang lain dan mengharapkan inisiatif orang lain, ya dia pasti akan naik darah menghadapi orang yang seperti ku.

Tapi mau bagaimana lagi... karena keadaan yang sejak dari lahir aku ditakdirkan jadi orang yang lebih suka diam serta memendam semuanya sendiri, jadi ya... beginilah adanya aku. Harus dibilang "ini, itu" dulu.

Awalnya sebulan tinggal dirumah saudara itu rasanya tentram. Tapi pada saat itu saya masih pengangguran, jadi ya masih bisa pegang ini, itu dirumah dan bantu sedikit-sedikit. Tinggal dirumah saudara tanpa adanya pekerjaan membuat ku jadi tidak bisa bangun cepat kalau dipagi hari. Saya rasa untuk hal bangun tidur yang satu ini dikarenakan AC dikamar kakak (anaknya saudara) saya itu agak sedikit dingin. Maklum lah ya saya orang dari kampung yang tidak terbiasa dengan AC, jadi kalau mau bangun itu rasanya susah sekali. Namanya juga dingin, jadinya selimutan terus dan jadi lupa entah sudah jam berapa dipagi itu.

Tinggal dirumah saudara tanpa pekerjaan dan keadaan yang seperti "itu" membuat ku semakin lama ssmakin merasa tak enak hati. Hanya bisa makan tanpa bisa membayar sepeser pun pada mereka dengan uang ku sendiri.

Pada bulan berikutnya ternyata aku dapat tawaran traning bekerja di daerah yang jauh dari rumah. Untuk ongkos saja bisa habis 30 ribuan setiap hari. Mungkin kalau untuk orang-orang yang mampu sih ya mungkin gak seberapa mereka lah. Tapi bagi ku 30ribuan setiap hari itu besar sekali loh. Malah justru sangat besar sekali. Bahkan hanya karena ongkos yang bedanya 2000 rupiah pun aku jadi rela jalan kaki. Ya itu lah effect karena masih "traning" dan belum bisa punya gaji sendiri.

Hari pertama traning saudara ku ini masih baik sekali.... "sudah dibawa bontot nasinya? Minumnya sudah?"

Hari kedua ketika aku mau pergi traning ternyata nasi di rice cooker tinggal sedikit, jadi ya lebih baik aku tanya dulu siapa tahu mau langsung dimasak atau menunggu nanti saja.

Akhirnya aku memindahkan nasi yang tinggal sedikit itu ke tempat yang lain, lalu mencuci pancinya. Dan ketika aku bertanya apa nasinya langsung dimasak saja, dia mengatakan nanti saja.

Hari ketiga aku melakukan hal yang sama dipagi hari, tapi aku tak langsung memasak nasi yang baru karena berpkiran, "akh mungkin masak nasinya nanti saja. Kan semalam juga dia bilang nanti saja karena tempat buat masak nasinya masih basah karena baru dicuci.

Dan dihari yang sama ketika aku mencuci baju ku sendiri, aku memutuskan untuk tidak memerasnya di mesin cuci agar tidak ribut karena kan sudah jam 10 malam, jadi takut mengganggu yang lain. Ya akhirnya aku jemur begitu saja di gudang dengan mengandalkan perasan tangan saja. Eh ternyata saudara ku itu marah karena ubinnya mengembang dan tidak tahan air, jadinya aku kenak marah.
Dan ketika aku sudah dimarahin, aku orangnya justru semakin takut untuk keluar kamar, karena takutnya dia marah lagi dan ennek liat wajah ku. Ya aku pun mendem dikamar saja sampai ke esokan paginya. Tapi meskipun begitu, rasa bersalah ku itu masih besar sekali, aku malah minta maaf berkali-kali sama Tuhan karena hal itu.

Hari ke empat, aku melakukan hal yang sama dipagi hari, memindahkan nasi yang tinggal sedikit dan mencuci pancinya. Eh ternyata saudara ku itu masih marah. Aku permisi untuk pergi traning, dia malah tidak melirik sedikit pun dan tidak menyahut sedikit pun. Aku asli dicueakin, dan itu rasanya sangat teramat menyakitkan. Akhirnya berbagai skenario bermunculan di otak ku. Dan apa kau tahu... selama perjalanan hampir 2 jam lebih, aku selalu kepikiran hal itu, dan tidak tahu lagi sudah berapa kali aku menahan air mata ku agar tidak keluar diangkutan umum yang sedang aku naiki. Entah kenapa skenario-skenario kejadian itu selalu muncul di benak ku dan membuat ku ingin menangis.

Dan dihari kelima, hari ini, akhirnya dia ngomong blak-blakan, ya mungkin sih sudah karena sangkin emosinya melihat ku, dia bilang "saya minta "tolong" ya kalau pagi-pagi itu selesai kamu ngambil nasi buat bontot mu, masakin nasi kenapa? Kita disini hidup sama--sama, saya lihat kamu hanya memikirkan dirimu sendiri. Kami kan juga perlu makan pagi disini, jadi kalau kamu gak langsung masakin kan jadinya lama nunggu masaknya lagi baru bisa makan pagi. Kamu jangan bangun jam 7 pagi-pagi, ya bangun kek lebih cepat, nyapu gitu sedikit. Saya kan sudah usahakan makanan biar kalau kamu mau pergi traning, kamu bisa bawa bontot, dan kalau kamu pulang juga ada makanan. Saya bukannya gak bisa masak nasih hanya 3 muk doang, tapi kalau saya masak hanya 3 muk ya kamu gak akan bisa makan karena kehabisan makanan. Saya gak mau melapor-lapor ke orang tua mu tentang kamu, karena saya gak mau dianggap gimana-gimana nantinya.

Ya itu lah katanya.

Bukannya aku tidak mau memasak makanan ku sendiri, hanya saja aku gak mau mubajir, ada ikan yang tidak disambal di lemari, tapi aku justru masak telur, kan sayang ikannya, jadi bukan karena aku gak mau masak atau apa. Aku hanya gak mau mubajir saja. Masa aku udh numpang gratis, tapi masih ngebuat makanan dirumah mereka mubajir.

Jujur saja saya tidak sakit hati ketika dia tadi marah dengan emosinya ke saya, karena saya lebih baik dimarahin daripada di diamin, dan dicuekin.

Tapi 1 hal yang saya tidak suka adalah disaat dia marah, selalu saja semua anggota keluarga disitu lengkap, ya seakan2 saya terasa sangat tersudutkan dan tidak berguna.

Kadang jadi serasa ingin pulang kerumah asal, tapi... saya gak mau membebankan ongkos pulang yang luar biasa mahal kepada bapak saya.

Ya intinya ternyata kehidupan dirumah keluarga itu tuh gak enak.

Keadaan ramai juga pasti merasa sepi sendiri.

Just Story About LifeBaca cerita ini secara GRATIS!