Pola Ilusi

2.8K 332 22

Pagi yang dingin membuatku terpaksa memakai sweater tebal. Aku segera berlari menembus kabut menuju kedai yang sekarang menjadi rumah keduaku.
Hujan semalam membuat embun bertebaran diudara yang sejuk menusuk.
Tampaknya matahari diatas sana enggan untuk membuka tirai awan yang tebal layaknya mantel. Aku segera mendorong pintu kedai dengan harapan akan melihat senyum Axcel diawal hari ini yang temaram. Tapi—meja counter tampak
kosong.

Kulirik jam dinding yang memecah kesunyian ruangan sudah menunjukan pukul tujuh lebih delapan belas menit. Dan—yang membuatku heran, Axcel belum ada
ditempatnya. Apa yang terjadi?

Aku melepas sweaterku dan meletakan tasku diloker bawah meja. Aku manatap lantai sesaat lalu mengetuknya perlahan.

"Axcel. Apa kau disana?" Panggilku berbisik.

Tidak ada jawaban.

"Axcel kau diasana?"

Masih tidak ada jawaban.

Aku mengetuknya sekali lagi. "Axcel—"

"Ririn sedang apa kau?"

Sebuah suara mengagetkanku dan membuat kepalaku terbentur meja. "A-Adelia."

"Kau sedang apa dibawah meja?" Adelia menatapku penasaran.

"Oh-hmm—aku sedang menaruh tas dan koinku jatuh." Aku memalingkan wajah dan pura-pura mencari. "Tadi koinku menggelinding kesini tapi—kucari-cari tidak ada." Gumamku berbohong.

"Hmm apa itu koin keberuntungan?" Adelia memasukkan kepalanya di kolong meja dan mengamati lantai.

"Hmm—iya. Itu hadiah dari seseorang."

"Apakah itu Felix?" Adelia menyeringai. "Kau tidak perlu menyembunyikannya. Kami disini sudah tahu semuanya."

Aku mengangguk kaku.

"Hmm sebaiknya kau hubungi Felix dan meminta maaf padanya karena telah menghilangkannya tanpa sengaja. Mungkin lain kali aku akan membantumu untuk mencarikannya--."

"Kau tidak perlu membantuku." Sergahku cepat. "Sebaiknya aku hubungi saja dia dan meminta maaf."

"Baiklah. Tapi jika nanti aku menemukan koinmu, kau harus mentraktirku makan siang." Adelia tersenyum dan keluar dari bawah meja.

Aku hanya tersenyum mendengarnya lalu menyusul keluar meja.

"Adelia." Panggilku saat Adelia melangkah kedapur.

"Iya." Adelia membalikkan tubuhnya.

"Hmm—kau melihat Axcel?"

Adelia menggeleng. "Hmm kudengar hari ini Axcel sedang tidak enak badan jadi mungkin untuk sementara Axcel tidak masuk kerja. Tuan Erick yang memberitahuku."

"Axcel sakit? Apa yang terjadi?" Gumamku membatin.

"Sepertinya hari ini kau harus bekerja ekstra keras Ririn. Jika kau butuh
bantuan dalam melayani pelanggan, aku siap membantumu dan menggantikan Axcel untuk sementara." Tawarnya ramah.

"Terimakasih Adelia. Mungkin aku harus mencobanya sendiri dulu tanpa
Axcel." Tolakku sambil tersenyum.

"Baiklah. Kalau begitu selamat bekerja Ririn." Adelia tersenyum lalu
melanjutkan langkahnya menuju ke dapur.

Aku menatap lekat lantai dibawah meja. Membayangkan Axcel yang terbaring sendirian dibawah sana.

   - * * *

Tak terasa waktu cepat berlalu. Hari yang basah membuat pelanggan tak
terlalu ramai. Sepertinya hari ini sedang berbaik hati padaku karena aku bekerja tanpa partner. Aku menghela nafas sejenak sambil merapika meja counter. Sesekali kulirik lantai dibawahku yang tampak gelap pekat. Aku ingin sekali masuk kesana. Aku ingin tahu bagaimana keadaan Axcel sekarang.

Loizh III : ReinkarnasiBaca cerita ini secara GRATIS!