Chapter 3

178 12 0

Di dekat tugu Adipura, Alya melambai-lambaikan tangannya ke arahku. Aku langsung menghampirinya. “Kok belum mulai? Katamu jam tiga.”

“Ah, kamu kayak nggak tau orang Indonesia aja, Is. Palingan juga 5 menit lagi mulai.”

Aku hanya manggut-manggut. Sepertinya sih benar. Soalnya, lapangan sudah penuh dan anak-anak cowok berseragam sudah masuk lapangan. Tapi, tidak tahu kenapa, sepertinya aku pernah melihat salah satu yang sedang berada di lapangan. Orang itu serasa familiar. Aku lalu menoleh pada Alya yang sekarang sibuk dengan kameranya. Kamera? Tadi aku tidak lihat. Apa mungkin barusan dikeluarkannya?

“Kamera siapa, Al?”

“Punya tetangga. Rol filmnya masih sisa banyak, jadi kuminta dikit deh buat pertandingan ini.”

“Oh gitu. Al, kok kayaknya ada yang kukenal ya? Gak keliatan jelas tapi.”

“Siapa? Yang di deket pinggir lapangan itu? Yang posisinya sayap kanan itu?”

Suara enteng dari arah belakangku itu langsung membuatku kaget. Aku menoleh demi mendapati Uut yang langsung menyandarkan sikunya ke bahuku—ugh, mentang-mentang aku lebih pendek. Aku langsung memberengut, tapi tersenyum tidak lama kemudian. Aku sendiri tidak tahu kenapa.

Di belakangnya, anak-anak cewek teman sekelas kami sudah menyusul. Aku memandang takjub. Tidak kusangka kalau peminat pertandingan ini lumayan banyak. Tidak seperti di sekolahku dulu. Mungkin gara-gara dulu di sekolahku ekskul basket jauh lebih populer.

“Kok tau?” tanyaku kemudian.

“Ya taulah, itu kan Mas Irul.”

Aku meneleng kepada Alya. “Eh? Jadi, pas Mas Irul bilang ‘ekskul yang satu lagi’ itu….”

“Iya, sepak bola.”

Aku langsung menepuk jidat. Ih, Mas Irul tidak pakai kacamata sih, jadi aku pangling. Ya ampun, tidak di sekolah, tidak di sini, kok bisa-bisanya aku ketemu dia lagi? Apa dia bakal tanya soal perkembangan tugasku, ya? Ah, tahu begini aku begadang saja semalaman sampai paling tidak tugasku beres sepertiganya.

Tapi, aku juga tidak bisa kabur. Sekarang ini, satu-satunya alasanku ada di sini, gara-gara Mas Alif. Tapi, waktu aku celingukan tadi, dia tidak kelihatan di mana pun. Aku sih yakin dia tidak akan melanggar janji. Mungkin telat, tapi dia pasti datang. Ah, lebih baik sekarang aku fokus dulu nonton pertandingan, sambil menghabiskan waktu. Lagi pula, seperti yang dibilang Mas Alif, ini pertandingan penentuan. Karena pakai sistem gugur, tim kami akan selesai kalau sampai kalah. Jadilah, aku ikutan teman-temanku teriak-teriak memberi dukungan.

Ironis, biasanya aku akan ngomel-ngomel sendiri kalau lihat ada cewek yang teriak-teriak tidak jelas cuma demi mendukung segelintir orang. Eh, kok ya nasib. Sekarang aku sama seperti cewek-cewek macam itu. Untungnya, kehisterisan teman-temanku ini masih jauh mengalahkanku.

Kalau boleh bilang, ini pertandingan yang lumayan. Memang tidak sekelas liga senior, ya tidak adil kalau dibandingin sama liga macam itu. Tapi, sejauh yang kulihat, aku bisa bilang kalau ini pertandingan bagus. Kedua tim ngotot, mungkin gara-gara terancam terdepak dari turnamen kalau sampai kalah. Benar-benar seimbang. Kedua tim pun main menyerang, kan itu yang bikin menarik sebuah pertandingan. Beberapa kali aku sempat tegang waktu gawang kami nyaris kebobolan, untungnya bisa ditepis.

Ah, tim lawan hebat juga. Bisa dibilang semua lini seimbang, dan mereka benar-benar memanfaatkan lebar lapangan. Taktik-taktiknya juga jitu. Wajar sih, mereka kan punya pelatih. Waktu aku tanya ke Alya, dia bilang tim sekolah kami tidak punya pelatih. Bahkan, guru Olah Raga yang notabene pembimbing mereka juga jarang datang waktu latihan. Bisa dibilang, tim kami itu serba sendiri. Apa-apa sendiri. Bahkan tidak punya manajer yang mengurus keuangan dan mengatur latih tanding. Paling juga yang mengurus itu kapten tim—kata Alya, kaptennya itu anak kelas 3-D—dan siapa pun yang mau. Mas Irul sih tidak termasuk yang suka mengurus tim, dia kan sudah sibuk di mading. Dia terima main saja tiap ada pertandingan. Ya, aku bisa paham, soalnya aku pernah sesibuk itu juga waktu SD. Sampai-sampai satu atau dua ekskul yang kuikuti terbengkalai.

The White Hat [COMPLETED]Read this story for FREE!