Kafka #3 - Anaia

785 40 4

Kurasa saat ini aku adalah hantu yang paling bahagia di seluruh dunia, karena aku bersama gadis yang sangat aku sukai. Setiap hari selama dua puluh empat jam. Dia bahkan membiarkanku tidur di sampingnya. Meskipun aku nggak benar-benar tidur. Sejak menjadi hantu aku nggak lagi merasakan kantuk dan lelah. Jadi sepanjang malam aku bisa memandanginya saat tidur. Dan aku baru tahu kalau saat tidur kebiasaannya adalah suka kentut (untung aku nggak bisa mencium apa-apa, jadi nggak merasakan bau) dan kadang mengigau. Sayang sekali aku nggak bisa menyentuhnya.

Saat pertama kali aku mendengarnya mengigau, aku merasa sangat ingin membangunkannya agar berhenti mengigau. Tapi aku nggak tega. Biarkanlah dia beristirahat dan bermimpi indah. Meskipun bukan aku yang berada dalam mimpinya.

Tapi mungkin Kris.

Aku tahu Kris. Dia anak XI IPA 1, gebetannya Kirana sejak kelas X. Aku tahu Kirana sering memperhatikannya diam-diam seperti aku memperhatikannya. Triangle-one-sided-love. So funny.

Kirana membalikkan badannya menghadapku. Dan wajahnya cukup dekat dengan wajahku. Aku terkesiap memandang wajahnya sedekat ini. Tanganku perlahan bergerak menuju kepalanya, pura-pura dapat menyentuh dan mengelus rambutnya.

Tidur yang nyenyak ya, Kirana-ku. Mimpi yang indah.

Aku tersenyum memandang wajahnya yang sangat polos ketika tidur. Dan sepanjang malam aku habiskan untuk memandangi wajahnya tanpa berkedip karena aku nggak ingin kehilangan moment indah ini nol koma sekian detik pun.

Ah... Aku jadi kepengen nyanyi lagu Aerosmith – I Don't Wanna Miss a Thing.

Kirana menggeliat lagi dalam tidurnya. Mulutnya menggumamkan sesuatu, lalu perlahan dia membuka kelopak matanya dan mata kami bertemu. Buru-buru aku menarik tanganku dan tersenyum padanya.

Kirana memekik sambil melompat duduk dari posisi tidurnya.

"Kafka!" serunya sambil melotot padaku.

"Apa?" tanyaku bingung.

Kirana mengelus-elus dadanya sambil mengatur napasnya yang memburu. "Ya Tuhan... Kaget banget bangun-bangun langsung lihat hantu," gumamnya.

Dasar! Aku bukan hantu tahu!

Kirana meregangkan lengannya lalu bangkit dari tempat tidur. Dia mengambil sebuah kotak dari laci nakas dan membawanya ke meja belajar.

"Kamu ngelindur, ya?" tanyaku.

"Nggak," sahutnya. "Aku mau nulis surat cinta."

Aku menaikkan sebelah alisku sambil mengangkat tubuhku dari kasur dan menghampirinya. Aku memperhatikannya dalam diam dibelakang Kirana. Dia membuka kotak bergambar kartun dari bahan kaleng yang ternyata isinya adalah surat cintaku yang dikumpulkannya. Aku merasakan sebuah desiran aneh dalam dada.

Perasaan menyenangkan. Tapi tunggu...

"Kamu plagiat!" aku berseru saat Kirana menyalin puisiku untuknya.

"Aduh Kafkaaaaaa... Tanpa kamu teriak suaramu juga sudah cukup keras tahu!" omel Kirana sambil mengusap telinga. "Dan kutegaskan, ini bukan plagiat! Tapi mengutip!"

Aku mengernyitkan dahi. Aku benar-benar merasa kesal. Surat cinta yang kutulis sepenuh hati segenap jiwa disalin dan ditujukan untuk oranglain oleh cewek yang aku suka. "Kamu nggak mikirin perasaan orang yang nulis surat cinta itu, ya? Kalau dia tahu, dia pasti kecewa banget!"

"Dia nggak bakalan tahu," kata Kirana sambil terus menulis. "Lagian aku juga nggak tahu siapa yang nulis ini. Ummm," Kirana berhenti mendadak dan menoleh padaku. "Tapi kalo ternyata yang nulis ini Kris dan aku malah kirim balik ke dia, konyol nggak ya?"

Another Secret AdmirerRead this story for FREE!