180 Derajat.

"Udah berapa kali Papa sama Mama bilang sama kamu Raskal. Jangan berkelahi di sekolah. Kamu cari keributan di sana-sini. Bikin ulah terus. Papa sama Mama dipanggil terus sama guru BK kamu. Apa kamu gak malu Raskal?!"

Pemuda dengan seragam sekolah putih abu-abu sedikit terkena noda merah darah yang sedang duduk tegap di sofa dengan pandangan sedikit merunduk ke karpet itu sedang disidang kedua orangtuanya.

Ia memegang dan menggerak-gerakkan rahangnya yang terasa sakit. Keadaannya saat ini babak belur, namun tidak terlalu parah. Ia masih ingat kemenangannya saat ia berhasil mengalahkan lawannya. Tentu saja kalau ia tidak menang, harga dirinya akan jatuh.

Bara, ayahnya menghela napas. Begitu juga dengan Vina, ibunya. Ia hanya bisa diam melihat kemarahan suaminya.

"Udah kelas 12 tapi kelakuan kamu kaya anak kecil," ucap ayahnya kontan membuat Raskal menatapnya. Ayahnya sedang memunggunginya. Ia masih lengkap dengan pakaian kantornya. Berjas hitam eksekutif. Sebelah tangannya di dinding untuk menyangga tubuhnya dan yang satunya lagi dipinggang. "Kamu juga Vina. Terlalu memanjakan dia," kini Bara menyalahkan Vina yang ada didekatnya.

"Aku? Kamu juga Bara. Kamu terlalu sibuk dengan dunia kerja kamu," kata Vina balik menyalahkan dan kini Raskal muak setengah mati mendengarnya.

"Udah selesai kan? Raskal capek. Mau tidur," kata Raskal ketus dengan bangkit sambil menepuk kedua celananya yang membuat Bara berbalik badan dan melihat putra sulungnya itu.

"Liat. Dia jadi gak tau sopan santun begitu," cetus ayahnya pada ibunya yang membuat Raskal mengeraskan rahangnya.

Nakal, pemberontak, dan keras kepala. 3 sifat yang dimiliki Raskal. 3 sifat paling dominan yang juga ia miliki dulu sewaktu remaja seperti Raskal. Mungkin ini yang disebut karma. Karma untuknya.

Kerjaan Raskal kalau tidak menghambur-hamburkan uang dan pergi ke tempat malam untuk dugem pasti main billiard dan berkelahi. Tabiat itu benar-benar tidak bisa dirubah dari Raskal. Mungkin benar; laki-laki ditakdirkan untuk hidup lebih keras dari perempuan.

"Dompet kamu mana?"

"Dompet? Tapi... shit."

"Dompet kamu, Raskal."

Raskal akhirnya merogoh kantung celananya dan memberikan dompetnya.

"Kunci mobil. Kartu kredit. Handphone."

"Jangan handphone Raskal Pa."

"Mau Papa sita motor kamu juga?"

Raskal mendengus lalu memberikan semua yang dimau ayahnya.

"Udah?" tanya Raskal.

Bara hanya mengangguk. Namun jelas sorot marah di matanya belum padam. Raskal bisa saja dipukul layaknya hukuman yang diberikan ayahnya sejak dulu karena ia anak laki-laki tertua namun kali ini tidak begitu. Hanya fasilitasnya yang disita. Raskal akhirnya memalingkan wajah, berdecak dan akhirnya berjalan untuk menuju kamarnya.

****

*Mulmed: Raskal.
**Ini cuman pengenalan doangg. Jangan lupa vote & komen ya! Hehe<3

Jangan jadi silent readers ya. Tetep voment biarpun ceritanya udah jauh. Next chapter? Komen di sini ya!

 Next chapter? Komen di sini ya!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
180 DerajatBaca cerita ini secara GRATIS!