Dalam Diam

10.4K 258 71

Gadis itu duduk sambil menatap rintikan air hujan yang ada di hadapannya. Memperhatikan rintikan air itu dengan lekatnya. Sesekali mengulurkan tangannya untuk merasakan rintikan air itu.

Reina masih suka hujan. Apalagi aroma petrichor selepas hujan. Membawa kedamaian sendiri untuk gadis itu.

Sore ini, ia masih menunggu dijemput oleh ayahnya di sekolah. Menunggu di dekat gerbang sekolahnya. Berteduh di bawah naungan atap koperasi sekolahnya. Kebetulan, koperasi sekolahnya sangat dekat dengan gerbang sekolahnya.

Nana, teman dekatnya, baru saja beranjak pulang. Meninggalkan Reina di tengah-tengah gemericik air, sendirian. Seharusnya tadi Reina sudah pulang. Namun, Nana meminta Reina untuk menemaninya dulu. Akhirnya, ia menemani Nana sampai cewek itu dijemput.

Sambil menunggu, suara gelak tawa menghiasi indera pendengarannya. Penasaran, ia menoleh ke arah lapangan utama sekolahnya. Melihat kawanan anak cowok sedang bermain bola basket dan bola kaki di tengah-tengah hujan yang membasahi lapangan.

Tanpa sadar, Reina juga tersenyum melihat teman-teman seangkatannya itu. Terlihat sangat gembira. Saat itu juga, matanya menangkap seorang Arya yang baru saja tersungkur di tengah lapangan. Baju cowok itu telah basah kuyup. Wajahnya terkena cipratan air dari genangan.

"HAHAHA, Ar, lo kenapa? Sampe nyusruk gitu jatohnya."

"Ar, awas jatoh!!"

"UDAH TELAT WOI! GUA UDAH JATOHHH!"

Percakapan yang Reina dengar dari kejauhan itu, menimbulkan gelak tawa yang semakin keras dari yang lainnya. Termasuk Reina yang mentertawainya dari kejauhan.

Lalu, datang sekelebat memori yang menghinggapi pikirannya. Mengingat kala memendam perasaan dengan cowok itu. Ah, sekarang, Reina sama sekali tidak memendam perasaan dengan cowok itu lagi. Bersyukurnya, ia tidak lagi sekelas dengan Arya pada tahun terakhirnya di sekolahnya.

Pikiran Reina kemana-mana. Memikirkan segalanya. Mulai dari semua kejadian yang ia alami di sekolah kesayangannya ini, pelajaran cinta yang ia dapatkan, dan masih banyak lagi.

Terpikir olehnya saat nanti ia sudah lulus, ia akan sangat merindukan masa-masa itu. Tidak ada lagi si Reina yang menggalau karena Arya. Tidak ada lagi si idiot Arya. Tidak ada lagi kata ledekan kala ia berpapasan dengan sang mantan. Semoga saja, tidak ada lagi Reina yang mahir mencintai seseorang dalam diam.

Perlahan, ia menarik nafasnya. Merogoh ponsel yang ada di sakunya. Merusuh kembali di grup kelasnya. Kelas yang meninggalkan banyak kenangan berarti untuknya.

Kemudian, ia mengeratkan cardigan yang membalut tubuhnya. Kembali menatap hujan sampai suara telepon menyadarkannya.

"Halo?"

Setelah itu, ia berjalan menembus rintikan hujan. Berjalan dengan cepat menuju luar gerbang.

***

Arya Ridhatama. Seorang cowok berperawakan tinggi yang memiliki paras lumayan tampan. Rahangnya tegas. Membuat wajahnya terlihat rupawan. Kulitnya sawo matang. Kalau tersenyum, ia terlihat mempesona.

Wajah jawanya yang manis, sukses membuat para kaum hawa tertarik dengannya. Tak jarang, setiap ada event sekolah, banyak kaum hawa yang meminta foto dengan Arya. Kecuali Reina.

Reina tak terlalu mengagumi cowok itu. Reina tak terlalu terpikat dengan parasnya itu. Hanya saja, Reina jatuh pada senyuman milik Arya. Hanya sekedar mengagumi cowok itu dalam hatinya.

Cowok yang pernah menjadi teman sebangkunya beberapa bulan lalu. Cowok yang dapat membuatnya jatuh cinta hanya dalam jangka waktu yang pendek. Cowok yang memiliki seribu sikap misteriusnya yang membuat Reina tertarik untuk mengenal cowok itu lebih dalam.

Dalam Diam [ One Shot ]Baca cerita ini secara GRATIS!