3 - Kehilangan Kedamaian

667K 35K 2.9K

Karena waktu tidak bisa kembali.

-Ametta Rinjani-


Mungkin Metta merasa waktu berhenti disekitarnya. Atau bisa jadi hanya dirinya saja yang berhenti. Ia tidak tahu persis yang mana. Tapi melihat sosok itu sedang berdiri dari luar pintu kaca minimarket membuat Metta seakan tengah menghidupkan imajinasinya.

Sosok cowok bernama Raga yang tidak bisa ia lepas dari kepalanya beberapa hari itu juga tengah menatap Metta sama tajam. Tampilannya yang gagah dengan jaket kulit ditubuh tingginya sempat mempesona Metta sesaat. Membuat tubuhnya membeku sempurna hingga kantong plastik belanjaannya berakhir dilantai. Ia tidak mempercayai jika bisa sekebetulan ini bertemu.

Metta tentu saja berbohong pada Lala mengenai jika dirinya tidak pernah melihat Raga sejak kejadian malam itu. Kebohongan yang ia sering katakan untuk menyembunyikan ketakutan tak beralasannya. Ia acap kali melihat Raga dari ujung lorong ketika cowok itu baru saja tiba di pagi hari di parkiran motor. Lalu ia juga pernah melihat Raga sedang berada di lorong loker bersama seorang cowok yang Metta tidak kenal siapa. Bahkan saat di kantin pada jam istirahat kedua ia juga pernah melihat Raga disana.

Namun saat-saat seperti itulah Metta mulai kehilangan dirinya sendiri. Metta kebingungan karena mengetahui bagaimana dirinya yang begitu takut berhadapan dengan cowok itu. Jika Ametta Rinjani, yang biasanya memiliki kepercayaan diri melebihi apapun terhadap cowok, mampu mengangkat dagu setinggi-tingginya ketika berhadapan dengan orang lain, tidak pernah memiliki rasa rendah diri sama sekali, kali itulah Metta justru menemukan dirinya berlari menghindar saat melihat Raga. Satu hal yang sampai detik ini saja belum bisa ia pahami penyebabnya.

"Mbak, belanjaannya jatuh itu..." Sapaan ramah dari petugas minimarket membangunkan Metta dari keterkejutan. Ia sempat linglung melihat kearah lantai yang sudah berserakan dengan mie instan dan juga snack favoritnya. Tidak menyadari hanya dengan bertemu mata dengan Raga dapat membuatnya hilang kendali. Sangat bukan dirinya. Dengan cepat Metta berlutut kemudian memunguti belanjaan itu bersama petugas yang membantunya dengan sopan.

Pintu kaca yang terbuka dan ucapan selamat datang dari petugas lain toko cukup menjelaskan pada Metta jika cowok yang dilihatnya tadi sudah masuk. Jelas akan melewatinya karena posisinya berada di depan kasir. Sialnya hal itu membuat tangan Metta justru bergetar hingga tanpa sadar mencengkram mie instan terlalu keras.

Ketika kaki yang memakai sepatu hitam itu berhenti dihadapannya, seketika Metta menghentikan aktifitas memungutinya lalu refleks mengangkat wajah. Meski dadanya bergemuruh oleh perasaan tidak wajar ia tetap menampilkan ekspresi andalannya saat berhadapan dengan laki-laki. Metta yang dijuluki wanita penggoda sekaligus penakluk tidak akan membiarkan Raga tau jika dirinya memiliki reaksi aneh setiap kali melihat cowok itu.

Raga tersenyum dengan manisnya kearah Metta. Kemudian Raga yang menyusulnya berlutut dan membantunya membawa belanjaan. Sapaan lembut dari cowok itu membuai Metta hingga ia ingin mendengar suara cowok itu selamanya.

Mungkin seperti itulah yang tergambar dalam benak Metta.

Namun semua itu hanya berada di dalam bayangan Metta karena kedua kaki jenjang milik Raga justru melangkah melaluinya. Melewati Metta. Tanpa menunduk atau bahkan melihat kearahnya. Seperti Metta adalah sosok tak kasat mata.

Metta terbelalak beberapa saat. Cewek itu bahkan memerlukan waktu untuk memastikan jika Raga baru saja mengabaikan keberadaannya. Tidak ada seorang pun cowok yang hanya berjalan melewati dirinya tanpa mengambil kesempatan untuk menggoda. Bahkan petugas yang sedari tadi membantunya ini seolah rela merobek mulutnya sendiri untuk bisa memberi senyum pada Metta.

SIN [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang