Chapter 6

338 37 0

"Astaga, Marc! Caramu mengungkapkan perasaan sangatlah payah!"

Aku kembali ke bumi saat mendengar suara berisik dari belakangku.

"shut up!" Marc mendelik ke arah Alex yang tengah mendekat ke arahku.

"Jangan diterima, Bria. Suruh dia melakukan hal romantis padamu, baru kau boleh menerimanya." Alex tidak menghiraukan Marc yang terlihat kesal.

"Pergilah dari sini. Kau tidak dibutuhkan sekarang."

"Aku ingin mengambil minum, Marc. Lagipula ini rumahku juga, kau tidak bisa mengusirku." Alex masih santai walaupun Marc makin terlihat kesal.

"Sstt.." Kepalaku berbalik menatap Alex yang berbisik di telingaku, "Aku bercanda. Tapi kalau aku boleh jujur, itu pertama kalinya Marc mengatakan cinta pada seorang gadis. Kau beruntung, kakak ipar." Aku merasa pipiku memerah saat Alex mengatakan itu. Kakak ipar? Astaga, itu terdengar menggelikan.

"Jangan mengatakan hal aneh padanya, Alex! Aku akan merendammu ke dalam air kalau berani!" Marc berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Alex. Dia berhasil menangkap Alex lalu memiting kepalanya hingga adiknya itu memekik kesakitan.

"Marc! Sudahlah... Alex tidak berkata macam-macam padaku." Aku mengatakan itu sambil berusaha melepaskan pelukan Marc di leher Alex.

"Kakak ipar, tolong aku!" Alex berteriak lagi saat Marc tidak kunjung melepas tangannya.

"Marc, kau bisa membunuh adikmu."

"Aku tidak peduli. Dia terlalu banyak ikut campur urusanku." Aku memutar bola mata melihat tingkahnya. Aku lebih memilih kembali duduk di kursiku sambil melihat pertengkaran di depan sana.

"Kau payah! Payah! Payah!" Alex bukannya menyerah, tapi dia terus memancing kekesalan Marc. Dan lagi-lagi mereka bertarung seperti bocah lima tahun.

"Aku adukan pada ayah kalau kau selalu menggangguku. Sana pulang dan kembali pada ibumu! Dasar anak mama." Marc membalas ucapan adiknya itu dengan nada yang menurutku lucu. Astaga, mereka berdua...

"Kau anak ayah! Selalu mengadu padanya, payah!"

"Alex, kau benar-benar membuatku kesal." Marc membanting Alex ke lantai dan mulai menggelitikinya. Alex bergerak liar hingga menendang semua barang di dapur. Bahkan meja di depanku sampai bergerak dan kaleng bir milikku jatuh ke lantai. Ini sudah kelewat batas, dan aku harus bergerak cepat sebelum dapur ini kebakaran akibat pertengkaran mereka berdua.

"Hey, kids!" Aku menepuk tangan berusaha mengalihkan perhatian mereka. Dan itu berhasil, dewi batinku bahkan sampai membusungkan dada karena terlalu bangga. Alex dan Marc berhenti dan menatapku sambil mengerutkan kening.

"Coba ulangi lagi?" Alex membuka suaranya. Aku menaikan sebelah alisku bingung.

"Ulangi apa?"

"Yang kau katakan tadi." Kini Marc yang bersuara. Aku diam sambil mencoba mencerna apa yang mereka maksud.

"hey, kids?" ulangku tidak yakin. Marc dan Alex saling mematap dan kembali memfokuskan dirinya padaku. Apa aku salah bicara?

"Kenapa?" Tanyaku bingung. Mereka menggelengkan kepala bersamaan dan saling memberikan smirk aneh yang membuat perasaanku tidak enak. Sepertinya aku harus kabur dari tempat ini pada hitungan ketiga..

"Kau mengatakan kami seperti anak-anak?" Marc melepas Alex dan mereka berdua bangkit dari posisi mereka di bawah.

Dalam hati aku mulai menghitung.

Satu

"Jangan bergerak, kakak ipar." Sepertinya Alex menyadari kakiku yang sedang mengambil posisi tepat untuk berlari.

Race To Your HeartBaca cerita ini secara GRATIS!