Ingatan Yang Terbenam

3.2K 346 20

Berhubung Ririn adalah sosok Karin jadi pic Ririn author samain dg pic Karin kawan.. ^_^

Felix menyetir audinya dengan kencang hingga membuatku sedikit mual. Jalanan sepi membuat kami melaju tanpa hambatan. Daun-daun ditengah jalan beterbangan setiap kami melewatinya hingga menimbulkan suara gemerisik yang kering. Aku hanya melempar pandangan keluar jendela sambil mengamati pepohonan yang berdiri kokoh ditepi jalan untuk menyambut perjalanan kami. Jujur aku tidak tahu kemana Felix akan membawaku. Jika dilihat dari jalanan yang kami lalui, aku bisa menebak kalau ia mengajakku ketempat yang terpencil. Entah apa yang dialaminya akhri-akhir ini sampai ia melakukan perjalanan sejauh ini hanya untuk menceritakannya padaku. Apa yang dialaminya begitu penting dan mengganggunya? Sepertinya begitu, kerutan didahinya menunjukan kalau dia sedang stress berat. Dan sepertinya—ia tidak ingin ada orang lain yang mengetahuinya kecuali aku. Itu cukup membuatku tersanjung.

Sinar senja di ufuk barat menembus kaca dan menerpa wajahku saat kami melewati sebuah padang ilalang yang terhampar luas. Aku tidak bisa berfikir apa-apa lagi sekarang terkecuali hanya memikirkan 'Diriku yang lain' beserta gambaran-gambaran yang berkelebat di kepalaku. Karin... Yap, hantu itu terlahir bersamaku. Aku tidak bisa membayangkan diriku yang tertelungkup sambil berpelukan bersama hantu saat masih didalam kandungan. Tapi—jika dia memang diriku yang lain, apa itu berarti aku memiliki dua kepribadian yang berbeda? Jika iya, ini akan menjadi hal yang paling memalukan jika sampai ada orang lain yang tahu bahwa aku mengidap DID (dissociative identity disorder). Tapi—aku melihat Axcel memiliki pandangan lain tentang hal itu. Yap, sesuatu yang misterius dan sepertinya ia tak bisa menjelaskannya padaku. Malah dia memintaku untuk melakukan interaksi. Ya Tuhan! Sebenarnya apa yang terjadi denganku? Kesannya benar-benar horor dalam level membingungkan. Benarkah aku memang sakit?

Setelah terkurung beberapa jam di dalam audi akhirnya aku bisa merasa lega setelah Felix memarkirkan audinya. Kami berhenti disebuah bangunan yang tampak sepi dan satu-satunya ditengah hutan. Aroma pinus yang menyengat langsung merasuki penciumanku saat aku menjuntaikan kaki ketanah dan menyusul keluar. Kulihat hari mulai petang dan binatang malam terdengar berisik ditengah kesunyian yang agung.

"Masuklah! Ini villaku." Ucap Felix setelah membuka pintu.

"Kenapa kau mengajakku kesini?" Aku melangkah masuk dan mengedarkan pandangan sekitar.

Felix menutup pintu dan menguncinya. "Disini suasananya tenang dan membuat pikiranku jernih, dengan begitu aku bisa menceritakan sesuatu padamu dengan tenang dan tanpa khawatir." Felix menyalakan sebuah lilin dan memasukannya kedalam tabung kaca yang diatasnya terbuka. Tabung lilin itu ia gantung di gantungannya.

Bangunan ini tergolong kecil untuk dikatakan sebagai villa pada umumnya. Tapi—bangunan ini sangat unik dengan bentuk lingakaran. Dindingnya menggunakan kaca berwarna putih susu seluruhnya dengan kayu yang dibuat seperti akar yang merambat dengan indah. Kursi yang terbuat dari kayu saling berhadapan dengan meja yang terbaring diantara kursi. Ditepi ruangan ada sebuah tangga kayu yang melingkar menuju ke lantai dua.

"Inikah tempatmu untuk menyendiri?" Tanyaku masih memperhatikan ruangan secara detail.

"Aku harap kau menyukainya." Felix melepas sepatunya dan memasukannya kedalam rak. "Ayo naik." Ajaknya.

Aku melepas sepatuku lalu mengikutinya berjalan kelantai dua.

Dilantai dua, ruangannya sama seperti lantai utama tapi tidak seluas lantai dibawah. Disini hanya berisi satu tempat tidur kecil dilantai tanpa ranjang dan saku lemari meja disampingnya. Felix menyalakan lilin lagi dan memasukannya kedalam tabung yang sama persis lalu menggantungkannya.

Aku masih dibuat takjub oleh rumah ini. Rasanya aku sedang berada disebuah rumah peri dalam versi besar. Benda-benda yang berada ditempat ini begitu unik dengan bentuk seperti ukiran klasik yang indah. Entah dari mana ia mendapatkan koleksi barang-barang seperti ini.

Loizh III : ReinkarnasiBaca cerita ini secara GRATIS!