Takut? Tidak. Indira justru senang, mengetahui hal mutlak dari ekspresi Satria atas kejadian kemarin. Sudah jelas ia cemburu.


***

Indira kembali keruangannya dengan hati yang melambung. Sesuai dengan harapannya, Satria sangat terpancing. Dan sikap Satria yang suka berbicara langsung, ternyata sangat mempermudahnya.

Indira memicingkan matanya sejenak lalu meraih gagang telpon.

"Hallo Sita."

"Iya. Mbak."

"Bisa disambungkan ke Pak Satria? Ada yang mau saya konfirmasi."

"Oh. Baik mbak sebentar ya."

"..."

"Ada apa?" sahut ketus Satria dari seberang.

"Sepulang kerja. Ke atap. Mengenai pertanyaanmu tadi. Aku rasa kita bisa membicarakannya lebih pribadi disana."

"..."

Tut... tut...

Indira menyeringai, sepertinya Satria sangat kesal dengannya.


***

Indira menenteng dua cup kopi yang dibelinya di coffee shop yang ada di deretan gedung di sebelah kantornya, lalu duduk di kursi panjang yang ada di lantai tertinggi bangunan tempat ia bekerja. Hembusan angin menerpa hingga anak rambut mengenai sisi wajahnya, sesekali Indira mengambil sejumput rambut lalu menautkannya ke daun telinga.

Entah kenapa ia yakin jika Satria akan menemuinya, meskipun tadi Satria menutup telponnya sepihak.

Derap langkah dari arah belakang tampak mendekat. Indira tersenyum miring lalu merubah mimik wajahnya dengan cepat ketika ia menoleh ke belakang.

"Aku sudah menunggu lebih dari lima belas menit, kukira kamu tidak datang."

Satria menatap datar dengan kibasan dasi yang tertiup angin, tak perlu di perintah ia langsung duduk disamping Indira, disekeliling tempat mereka duduk hanya menampakkan gedung pencakar langit juga warna langit yang mulai berubah karena hari telah sore.

"Aku sengaja membeli ini. Untuk menemani kita mengobrol." Indira mengambil satu cup dari dalam kotaknya dan memberikan pada Satria.

"Katakan apa yang ingin kamu katakan?" ucap Satria namun tetap menerima minuman pemberian Indira.

"Tadi kamu menyerangku ketika diruanganmu. Coba lihat keadaan sekarang, bukankah kita akan lebih mudah membahas sesuatu yang lebih pribadi jika seperti ini," ucap Indira sembari menyesap kopinya. "Apa yang kamu tanyakan tadi akan ku jawab sekarang."

Indira mengarahkan pandangan ke depan sementara Satria duduk menyamping menatapnya serius. "Aku bilang menyukaimu dan kamu saat itu juga menolakku. Sebagai wanita normal apa aku harus menunggumu? Aku punya kesempatan sebebas-bebasnya untuk mendekati pria manapun."

Satria berdecak sinis, "ck, jadi itu penjelasanmu. Cukup membuat penilaianku tak salah. Terima kasih."

"Dia temanku." Potong Indira cepat saat Satria bergerak ingin berdiri, "bukan. Sahabatku. Tepatnya sahabatku dari kecil. Aku makan malam dengannya karena ia melakukan kesalahan dan itu sebagai permintaan maaf darinya. Aku tidak sedang mencari alasan. Itulah yang sebenarnya terjadi dan disana aku tak sengaja bertemu denganmu. Makan malam dengan kekasihmu. Begitukan?" Indira menatapnya lekat Satria tidak menemukan kebohongan apapun dimatanya.

"Aku hanya makan malam dengan sahabatku dan kamu makan malam dengan kekasihmu. Lalu sebenarnya siapa yang harus merasa marah disini?" Satria tercenung dengan Indira yang masih menatapnya lurus. "Apakah seorang pria harus seegois itu? Mengikat semua wanita yang menyukainya dan memastikan hanya menyukainya seorang, tak boleh yang lain."

Revenge Baca cerita ini secara GRATIS!