CHAPTER 10

496 50 7

"Siapa kau?" jerit Sam sambil menangis, "Kenapa kau melakukan ini semua?"

Mata Sam tiba-tiba membelalak.Ia menyadari sesuatu.

"Victor Milgram!" serunya, "Kau pemburu itu kan?" hanya pria mengerikan itu yang terlintas di kepala Sam. Hanya dia-lah satu-satunya tersangka yang tersisa setelah semua temannya terbunuh.

Sam justru mendengar suara kekehan di balik topeng itu.

"Apa kau tak mengenaliku, Sam?"

Sam tercengang mendengar suara itu. Sudah setahun Sam tak pernah mendengarnya, terkecuali saat ia bermimpi buruk mengenai kejadian malam itu. Sudah setahun berlalu, namun Sam masih mengenali dengan baik siapa pemilik suara itu.

Namun itu tak masuk akal. Sama sekali tak masuk diakal.

"Mus ... mustahil ..." jeritnya, "kau sudah mati!"

"Kau sudah mati, Hope!"

***

Hope melepas topengnya dan menampakkan wajahnya yang penuh luka dengan sorot mata membeku bak es.

Tidak, pikir Sam. Ia memiliki suara dan wajah Hope, namun ia jelas bukanlah sahabatnya yang dulu ia kenal. Sahabatnya adalah gadis manis yang baik hati, bukan pembunuh berdarah dingin seperti ini. Dan fisiknya ... jelas ia telah berubah ...

"Apa kau juga menginginkan agar aku mati? Kau sama seperti yang lainnya, Sam! Aku pikir kau berbeda, namun nyatanya kau sama saja!"

"Tidak ..." Sam menggeleng, "Namun kami semua berpikir kau sudah meninggal saat itu. Apa yang terjadi? Kenapa ... kenapa kau berubah menjadi ..."

"Monster?" tanyanya dengan nada tajam, "Itukan yang hendak kau katakan? Ya, aku memang berubah menjadi monster, Sam. Namun kalianlah monster yang sesungguhnya! Di balik wajah rupawan dan penampilan fisik kalian yang sempurna, kalian semua adalah iblis! Dan kalian-lah yang menjadikanku seperti ini!"

"Me ... mereka tak bermaksud begitu, Hope!" pinta Sam dengan lelehan air mata menetes di pipinya, "Aku tahu apa yang mereka perbuat pada saudarimu itu kejam ... namun kami sangat menyesali apa yang terjadi malam itu! Jika kami bisa mengulangi kembali malam itu ..."

"TIDAK!" jerit Hope memecah malam, "AKU TAK INGIN MENGULANG APA YANG TERJADI MALAM ITU!"

Dengan napas tersengal penuh kemarahan, ia melanjutkan, "Apa kau tahu apa yang terjadi malam itu, Sam? Apa yang terjadi malam itu hingga aku berubah menjadi monster semacam ini?!"

Sam hanya bisa terdiam.

"Malam itu, saat kami terjatuh ke dalam jurang karena perbuatan Matt, aku tersadar bahwa walaupun terluka parah, aku masih hidup. Akupun menyadari apa alasannya. Aku jatuh di atas tubuh saudariku. Bahkan setelah meninggalpun, Dawn selalu ingin melindungiku. Tubuhnya melindungiku dari hantaman yang bisa membunuhku di dasar jurang. Walaupun aku saat itu berada di bawahnya saat kami tergantung antara hidup dan mati, namun setelah kami terjatuh, tubuh kami sempat terpental karena terbentur dinding jurang dan aku menimpanya."

"Namun di sanalah neraka itu dimulai. Aku berteriak minta tolong semalaman, namun tak ada seorangpun yang mendengarnya. Tak ada! Malam berakhir dan fajarpun menjelang, namun tetap tak ada yang mendengar teriakan minta tolongku. Hari berganti hari, namun tak ada yang datang. Aku tak punya kekuatan untuk bergerak sedikitpun dan ditelan keputusasaan, aku menanti ajal di dasar jurang itu. Kau tahu apa yang kulakukan selanjutnya, Sam? Apa kau tahu?!"

Sam masih menangis, membayangkan penderitaan Hope di dasar jurang itu.

"Aku kelaparan ... benar-benar kelaparan. Aku ingin menyerah, namun aku terus mencoba untuk hidup. Kau tahu apa yang menyulut semangatku? Kalian! Aku bersumpah aku harus keluar dari tempat terkutuk itu untuk membalas dendam pada kalian! Membalaskan kematian Dawn! Membalaskan semua perlakuan kalian padanya! Dan kau tahu apa yang akhirnya kulakukan?!"

Sam tak mampu membayangkannya, namun ia sudah tahu jawabannya.

"Aku terpaksa memakan jenazah saudariku! Aku memakannya mentah-mentah! Semua itu kulakukan untuk bertahan hidup!"

Sam menutup telinganya sembari menjerit. Ia berharap tak perlu mendengar kelanjutan cerita yang amat mengerikan itu.

"Ada dongeng Indian kuno yang menyebutkan bahwa seseorang akan dikutuk menjadi iblis bernama wendigo ketika mereka mencicipi daging manusia dan menjadi kanibal. Itulah yang terjadi padaku. Entah mengapa, aku menikmati sekali daging itu ... daging manusia memberikanku kekuatan ... bahkan tubuhku berubah perlahan-lahan ... dan setelah jenazah Dawn kuhabiskan, akupun mulai memanjat naik untuk mencari makanan lain. Dan aku beruntung menemukan rumah Victor Milgram, si pembunuh berantai itu ..."

"Pembunuh berantai?" Sam terkesiap.

"Ya. Aku membunuhnya dan sangat kebetulan, ada banyak makanan di basement-nya. Daging-daging yang dicincangnya ... itu memberikanku makanan segar selama beberapa bulan. Kemudian Josh datang ..."

"Josh?"

"Ya, dia menemukanku. Awalnya dia ketakutan dengan perubahan fisikku. Tapi baginya, aku tetaplah adiknya. Ketika ia mengajakku kembali, aku menolak. Takkan ada yang mau menerimaku dengan kondisiku seperti ini, bahkan orang tuaku sendiri. Maka Josh setuju untuk merahasiakannya. Bahkan ia sangat baik padaku dengan memberikanku persediaan makanan dari kamar mayat ..."

Sam hampir muntah mendengarnya.

"Namun dendam tetaplah dendam ... harus dibalaskan! Oleh karena itu, kami mulai menyusun rencana dengan mengundang kalian semua ke sini."

"Josh ... Kau memanfaatkannya!" kesedihan dan kengerian yang tadi dirasakan Sam kini berubah menjadi kemarahan, "Dia bukanlah pembunuh ... Kau-lah yang menjadikannya seperti itu!"

Dawn tertawa, "Kau memang sangat mengerti dirinya. Bahkan dia sejak awal tak mau melibatkanmu. Namun, pesta tanpamu takkan seru, bukan?"

Dia mengacungkan kapak yang ia pegang, "DAN SEKARANG SAATNYA UNTUK MENGAKHIRI PESTA INI!"

"TIDAK! JANGAN!" tiba-tiba seorang pemuda menerkam Hope dari belakang dan berusaha menjatuhkan kapak itu.

"Josh!" jerit Sam, "Kau masih hidup!"

"Lepaskan dia, Hope!" pinta pemuda itu, "Sam tak ada hubungannya dengan semua ini!"

"Justru dia-lah yang pantas mendapatkan hukuman paling berat, Josh!" bantah Hope yang masih bergelut dengan kakaknya itu, "Dia-lah yang menyebabkanmu depresi! Karena dia meninggalkanmu begitu saja!"

Sam tersentak mendengarnya. Apakah sepenting itu dia bagi kehidupan Josh hingga kepergiannya membuat pemuda itu terpuruk?

Benarkah semua kesedihan itu bukan karena kematian Dawn dan Hope, namun karena kepergiannya?

Apa ini berarti selama ini Josh menyimpan perasaan yang sama terhadapnya?

"Hentikan semua ini! Aku telah menuruti semua keinginanmu! Sekarang akhiri saja permainan ini!"

"TAKKAN PERNAH! TIDAK SEBELUM IA MATI!"

Hope berusaha mengayunkan kapaknya. Sam melihat percikan api ketika kapak itu bersentuhan dengan dinding gua.

"Sam, lari! Gua ini dulunya pertambangan batu bara! Cepat lari!"

"Ti ... tidak ..." isak Sam, "Aku takkan meninggalkanmu, Josh ..."

"CEPAT PERGI! AKU TAK BISA MENAHANNYA SELAMANYA!"

Dengan berurai air mata, Sam berlari meninggalkan mereka. Sementara itu, dari belakang ia masih mendengar suara pertarungan Josh dan adiknya.

Sam berlari sekuat tenaga untuk menemukan ujung gua. Ketika ia akhirnya mencapai mulut gua itu dan merasakan udara dingin dari luar menyergap badannya, tiba-tiba terdengar suara ledakan dari dalam gua. Ledakan itu menghempaskan tubuhnya hingga lagi-lagi ia pingsan di atas tumpukan salju.

Malam itu pun berakhir ketika fajar akhirnya menjelang, meninggalkan tubuh Sam dengan cahaya matahari yang perlahan menyingsing.

BERSAMBUNG


HINGGA FAJAR MENJELANGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang