Interaksi

3.1K 338 23

Yap.. Diatas pic Axcel Achazia kawan.. ^_^

Aku mengenakan kemejaku saat Axcel baru keluar dari kamar mandi sambil mengibas-ibaskan rambutnya yang basah. Pagi ini tenagaku seperti terkuras habis. Kulihat diriku di cermin tampak mengerikan dengan kantung mata yang hitam seperti panda. Inilah efek samping yang terjadi saat aku kurang tidur. Semalam aku tidur dini hari dan itu belum cukup untuk mengobati kantukku. Mandi pagi hanya memberi efek kesegaran beberapa persen saja. Itupun kantukku hilang hanya saat aku menyentuh air dan setelah itu aku mataku kembali sayu dan terasa berat. Kulihat Axcel malah sebaliknya, ia tampak bugar dan cerah. Apa dia jarang tidur sampai-sampai ia terbiasa ?

Aku menguap untuk kesekian kalinya. Rasanya aku ingin membanting diri ke tempat tidur dan menarik selimut lagi lalu terlelap. Tapi sayangnya waktu memang tak kenal ampun dalam mengatur aktifitas dan istirahat. Seandainya saja aku bisa tidur beberapa jam lagi, mungkin saat ini juga aku langsung melompat ke tempat tidur yang seakan-akan memanggilku.

"Tidak ada toleransi membolos untuk karyawan baru." Ucap Axcel membaca pikiranku.

"Axcel aku butuh tidur." Pintaku merengek.

"Kau sudah tidur semalaman, itupun sudah ditambah dengan waktu pingsanmu. Masih kurang?"

Aku mengangguk lesu.

"Tidak. Pokoknya tidak. Kau harus bekerja Ririn. Gajimu akan dipotong jika kau bolos."

"Lima menit saja."

"Tidak".

"Baiklah, bagaimana kalau lima belas menit."

"Hey.. Lima menit saja kau tidak diizinkan apa lagi lima belas menit."

"Ya sudah, tiga puluh menit kalau begitu." Pintaku negosiasi.

Axcel menghela nafas dan melipat tangan. "Ririn!"

"Ayolah Axcel. Aku mohon beri aku waktu tambahan untuk tidur. Satu jam saja."

"Apa? Satu jam? Kalau aku tahu kau akan seperti ini, aku tidak akan mengizinkan kau tidur dirumahku." Jawabnya dingin.

"Kenapa?"

"Kedai dibuka sepuluh menit lagi. Jika kau keluar dari kamar satu jam kedepan, mereka akan melihat kemunculanmu dari bawah meja." Axcel menatapku lekat. "Kau tahu ini adalah rumahku. Tapi aku tidak ingin mereka tahu bahwa kedai ini adalah rumahku. Jika mereka tahu terutama Adelia, mungkin—kedai ini akan ditutup. Mereka akan takut menginjakan kaki ditempat ini karena—ini rumah seseorang yang mereka anggap penyihir."

Aku beranjak dari tempatku dan melangkah menuju ke westafle. "Paranormal bukanlah penyihir. Kenapa kau harus takut Axcel?"

Axcel mengikat rambutnya menjadi ekor kuda seperti biasa. "Itu memang benar. Tapi—kenyatannya tidak sesimple yang ada dipikiranmu."

Aku membasuh wajahku untuk kesekian kalinya untk mengurangi kantuk. Lalu mengelapnya dengan handuk dan kembali memakai bedak tipis diwajahku. Tampak guratan gelisah di dahinya yang tertutup poni sebagian.

"Pagi ini kau mau sarapan apa?" Tanyaku sambil memakai pita kecil untuk menghalangi poniku yang jatuh ke dahi.

"Aku tidak biasa dengan sarapan pagi."

Aku menoleh seketika dan entah kenapa aku menatap perutnya yang memang tampak mengempis dan selalu ramping.

"Kau sehari makan berapa kali?" Tanyaku sambil memperhatikan Axcel yang sedang merapikan kemejanya.

"Sehari sekali cukup." Axcel balas menatapku. "Makan sehari sekali tidak akan membunuhku."

Lagi-lagi Axcel mambaca pikranku.

Loizh III : ReinkarnasiBaca cerita ini secara GRATIS!