PART 1

1.9K 79 1


VOTE SEBELUM BACA !
YEEE BOOK 2 UDAH PUBLISH
SILAHKAN DIBACA JANGAN LUPA VOMMENTS !

            Mata harimau itu menatap ke segala arah. Mencari-cari siapa yang dapat ia pakai malam ini. Tapi tidak ada yang menarik perhatiannya. Ia terduduk di sebuah sofa yang berbentuk bulan sabit itu dengan lapisan yang berwarna merah bagaikan seorang raja yang ingin memilih pasangan untuk pangerannya. Ia menghempaskan nafasnya begitu saja saat seorang pelayan yang memakai pakaian seksi itu muncul di hadapannya. Tapi satu yang membuatnya ingin tertawa. Wanita ini terlihat begitu risih dengan pakaian yang ia pakai. Ia tertarik. Saat wanita ini membungkuk untuk menaruh segelas wine yang berada di atas nampan ke atas meja, Aaron, si mata harimau itu bangkit dari sandarannya.

            Ia tersenyum manis melihat wanita ini sambil matanya melihat pada tanda pengenalnya yang terpasang di kantong seragam pelayannya. Alice. Nama yang cantik sama seperti orangnya. Alice memeluk nampan yang ia pegang lalu matanya melihat pada mata Aaron dengan ragu-ragu. Ia tersenyum lalu mengangguk dengan sopan, ingin pergi dari hadapan Aaron.

            “Tunggu dulu,” Aaron menahan wanita ini dengan suaranya yang berat, membuat wanita yang telah berpaling dari Aaron membalikan tubuhnya kembali dan tersenyum sopan. “Alice,” sebut Aaron saat tangannya menyentuh tangan Alice yang putih itu dengan tangannya yang besar.

            “Duduklah sebentar,”

            “Tapi maaf Mr.Bieber, aku memiliki pekerjaan di sini,” tolak Alice dengan suaranya yang lembut. Ia berusaha untuk menjauhi atasannya ini karena banyak kabar yang ia dengar tentang lelaki ini. Lelaki yang memiliki suatu perkumpulan yang dapat membuat para wanita murahan kegirangan namun tidak baginya. Ia tidak ingin dilecehkan oleh lelaki ini. Nada suara dan tolakan dari wanita muda ini membuat telinga Aaron mendengar sesuatu yang asing. Tak pernah ia ditolak oleh seorang wanita sebelumnya. Kecuali adiknya, Grace. Sial.

            “Apa kau ingin kupecat hanya karena kau tidak ingin menuruti permintaanku?” ancam Aaron, sama seperti ayahnya dulu mengancam Alexis, ibunya sekarang. Pikiran Aaron sejalan dengan ayahnya, tapi sejalan dengan ayahnya yang dulu sebelum bertemu dengan Alex. Alice yang tidak ingin kehilangan pekerjaannya itu terduduk di ujung sofa dengan kaki yang ia himpit agar rok pendek yang ia pakai tidak semakin memperlihatkan tubuhnya. Ya Tuhan, mengapa ia harus memiliki pekerjaan seperti ini? Tapi mau bagaimana lagi? Kakaknya yang memaksanya untuk bekerja di sini agar ia mendapatkan uang dengan cepat. Mereka adalah orang miskin yang harus memenuhi kebutuhannya.

            “Mengapa kau merasa risih dengan pakaian itu? Apa kau takut ada yang menggodamu?” Aaron bertanya sambil jari telunjuknya yang panjang itu mengitari bibirnya yang tipis. Sungguh tampan. Luar biasa tampan. Pipi Alice merona saat lelaki ini menggodanya. Sial, mengapa jantungnya sekarang berdetak begitu kencang? Sebelum ia menjawab pertanyaan dari atasannya, ia mengerjapkan matanya berkali-kali.

            “Ak-aku tidak pernah memakai pakaian seseksi ini sebelumnya, Mr.Bieber,”

            “Tidak, tidak. Jangan panggil aku Mr.Bieber. Panggil saja Aaron, aku belum tua seperti ayahku,” Aaron menggelengkan kepalanya lalu tangan kanannya meraih gelas yang tinggi itu lalu mengambil botol yang baru saja Alice taruh di atas meja. “Rodd!” teriak Aaron saat seorang pelayan lelaki melewatinya. Sontak lelaki itu berhenti melangkah dan membalikan tubuhnya pada Aaron. Sial! Mengapa Aaron harus memanggil lelaki banci seperti ini?

            “Ya, Mr.Bieber?” suara banci yang dikeluarkan lelaki yang bernama Rodd ini membuat Alice menundukan kepalanya, menahan tawanya.

TOUCHING FIRE || HERREN JERKBaca cerita ini secara GRATIS!