2 - Menutupi Kegelisahan

876K 38.5K 3K

Terlalu banyak terbayang. Terlalu banyak usaha melupakan.

-Raga Angkasa-

"Berapa kali saya harus bertemu kamu dalam seminggu? Apa hobimu memang untuk memancing amarah saya?"

Saking kencangnya suara teriakan itu membuat Metta sedikit berjengit dikursinya. Sikap pongah tanpa hormat dan tidak peduli yang sedari tadi ia tampilkan sepertinya sukses memancing amarah Ibu Selfi hingga mencapai batasnya. Buktinya, kedua bahu wanita itu naik turun, terlihat sedang menahan diri melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan seorang guru terhadap murid.

"Saya gak hobi, Bu. Tapi kayaknya Ibu yang seneng banget ketemu sama saya." Jawab Metta santai. Bertolak belakang dengan kemarahan yang ditahan dari orang dihadapannya.

"Diam kamu!" Teriak Bu Selfi lagi. Tatanan rambut bob miliknya bergoyang sedikit. Meja yang berada diantara mereka bahkan bergetar karena telapak tangan berjari gemuk itu menghentak keras diatasnya. Wajah Bu Selfi tidak menampakkan keramahan sedikit pun. Jelas sekali ia tidak menyukai Metta. Murid perempuan yang berlangganan dipanggil ke ruang BP. Dan cewek itu pun tidak berusaha mengubahnya.

"Ini sekolah. Tempat dimana segala peraturan sudah ditetapkan. Kamu memiliki tanggung jawab untuk mengikuti semua peraturan yang ada disini. Kamu tidak bisa seenaknya melanggar hanya karena kamu berani melakukannya."

Metta diam. Ia sudah hapal diluar kepala ceramah ini. Hampir ratusan kali pula teriakan bernada tinggi yang sama itu ia dengar. Metta sendiri pun heran kenapa Bu Selfi seperti tidak pernah bosan mengulangi kalimat itu. Ia sendiri saja sudah ingin menguap.

"Kami disini mendidik pelajar, bukan pembangkang. Dengan catatan pelanggaran sebanyak ini mau jadi apa kamu nantinya." Bu selfi menarik nafas. Ia terlihat menutup mata dan mengontrol emosi. Ini sudah ketiga kalinya dalam minggu ini ia memanggil Metta. Tentu saja karena pelanggaran yang tidak henti ia lakukan. Ametta Rinjani seolah tidak pernah takut namanya menjadi yang paling banyak disebut di buku 'anak-anak bermasalah'.

Mulai dari pakaian yang tidak sesuai, sering terlambat datang kesekolah sekaligus memaksa untuk tetap masuk walau ditahan satpam. Sampai ketahuan ingin pulang di saat jam belajar dengan percaya diri lewat gerbang sekolah.

Yang paling parah dilakukan cewek ini adalah membuat seorang guru sejarah menangis berlari ke ruang guru. Pasalnya guru itu tidak menemukan satu orang pun siswa di kelas saat ia ingin mengajar. Padahal itu bukan jam istirahat tentu saja.

Semua anak di kelas itu ternyata diboyong oleh Metta kekantin untuk ditraktir. Ia sengaja melakukan itu agar tidak ada siswa yang mengikuti pelajaran sejarah. Alasannya, karena Metta tidak suka dengan cara mengajar guru sejarah itu.

Masih mendengarkan teriakan Bu Selfi, Metta memilih tidak bersuara dikursinya. Memberikan waktu untuk wanita itu meluapkan emosi. Ia hanya memperhatikan kukunya yang patah bekas menghajar Rio tadi. Harusnya ia menggunakan tongkat bisbol saja. Sekarang Metta harus memperbaiki kukunya hanya gara-gara cowok brengsek itu.

"Saya harap kamu mengerti akan apa yang sudah kamu lakukan. Ini bukan perkara kamu salah dan mendapat hukuman lalu selesai. Kamu sudah berlaku kriminal,"

"Saya gak salah bu," sela Metta tidak terima. "Dia cowok brengsek yang hampir memperkosa saya. Kalau ibu ngomongin tindak kriminal, dia itu orangnya."

"Jaga bahasa kamu saat bicara sama saya," sela Bu Selfi dengan mata melotot. Ia membenarkan letak kacamata yang menggantung di hidungnya dengan gusar.

"Maaf kalau begitu, tapi apa yang saya bicarakan adalah kebenaran. Saya tidak akan mematahkan hidung Rio jika dia tidak memulai mencari gara-gara. Saya hanya memberi pelajaran sama dia." Metta menyilangkan tangan didepan dada. Kalimatnya keluar secara datar tanpa emosi. Seperti ia sedang membicarakan cuaca di siang hari. Tidak nampak sedikit pun penyesalan didalam dirinya karena telah memukuli anak laki-laki. Bu Selfi yang sudah meradang, semakin dibuat emosi oleh Metta.

SIN [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang