Kelahiran Drupadi

1.8K 120 4

Perang pertama yang kusaksikan adalah perang pembalasan Resi Drona terhadap Panchala. Saat itu, para serdadu-serdadu tertangguh diturunkan untuk melawan murid-murid Drona, 105 pangeran dari Hastinapura.

Srikandi memandang pertempuran itu dari istananya. Menunggu aba-aba Raja Drupada untuk turun tangan. Namun perintah itu tak pernah diturunkan. Kami hanya bisa melihat situasi perang dari ketinggian istana Srikandi. Memerhatikan semua taktik perang, sambil membahasnya seakan-akan kami memang berada di sana.

"Ada peraturan perang yang melarang para lelaki menyerang para wanita," kata Srikandi, "Ayah melarangku ikut karena peraturan itu. Padahal, Supriya... aku telah bisa memanah dengan baik saat aku berumur sepuluh tahun. Aku berhasil menguasai teknik perang beberapa tahun kemudian. Kukira, itu sudah cukup untuk membuatku menjadi pahlawan."

Aku memainkan lagu-lagu bernada riang dari sitarku untuk Srikandi. Sebaliknya, Srikandi membalas dengan menjelaskan semua peraturan perang yang dia kuasai. Itu adalah hiburan bagi kami, di tengah duka masing-masing.

"Tahukah kau, kalau astra-astra illahi itu sangatlah kuat?" suatu kali, Srikandi mengatakan hal itu kepadaku, "Senjata-senjata yang bisa menghancurkan musuh semudah kau meniup debu. Tidak semua ksatria bisa memilikinya. Pangeran-pangeran itu, Supriya... mereka memiliki astra-astra illahi. Aku khawatir, ayah akan sangat kewalahan kali ini."

Srikandi menunjuk arena pertempuran. Dengan ajna, aku melihat seseorang tengah menarik tali busurnya. Wajahnya—entah mengapa malah mengingatkanku akan Karna. Bahkan senjatanya mengingatkan aku akan kejadian beberapa tahun lalu, saat Karna membelokkan panahnya agar tidak menyakitiku.

Arjuna.

Bisik suara Saraswati dalam diriku. Jadi dialah putra Dewa Indra. Ksatria paling hebat di dunia. Aku mendesah memendam kegelisahanku. Putra Dewa Indra. Dalam pakaian perangnya, dia terlihat begitu perkasa. Alih-alih menyeramkan, wajahnya justru terlihat lembut. Hanya sorot mata setajam elang itu yang membuat wajahnya terlihat tegas. Sementara tubuhnya tegap dan ramping, lincah bergerak ke sana sini.

Aku melihat Arjuna mengarahkan panahnya ke kereta Raja Drupada. Beberapa kali, Raja Drupada menangkis serangan itu. Beberapa kali pula dia membuat pelindung, menyerang... namun semua usahanya menjadi sia-sia di tangan Arjuna.

Di satu kesempatan, Arjuna berhasil memaksa Raja Drupada turun dari kereta. Kini mereka bertarung dengan pedang. Aku melihat kilatan pedang mulai berayun dan beradu. Raja Drupada mengerahkan kemampuan terbaiknya dalam melawan murid Resi Drona itu. Namun, kembali... satu tebasan dari pedang Arjuna melontarkan pedang Raja Drupada. Sedetik saat Raja Drupada telah benar-benar lemah, Arjuna mengarahkan pedangnya ke leher Sang Raja.

Kekalahan Panchala mengakhiri perang itu. Dengan segera, sangkakala dibunyikan, dan bendera Hastinapura berkibar dengan gagah berani.

Srikandi menundukkan wajahnya, memendam rasa geram karena tidak dilibatkan. Saat kami dikumpulkan di balairung agung saat itulah kami tahu. Skenario mimpi buruk kami akan segera dimulai...

***

Raja Drupada terikat dan berlutut di bawah singgasana. Sementara di atas, Drona dan Aswatama putranya, berdiri menikmati kemenangan mereka.

Aku mendengar Resi Drona mengutarakan sakit hatinya. Srikandi memandangku sekilas, lalu berbisik membenarkan pendapatku soal dendam dan sakit hati.

"Tidak kuduga, pertapa kumal yang datang bertahun-tahun lalu itu adalah sahabat ayah," Srikandi mengungkapkan, "Aku pernah melihatnya di koridor istana. Dia mengatakan kepada anaknya, bahwa ia akan segera mendapatkan susu... sesuai yang diinginkan si anak."

Jadi, semua ini hanya karena masalah susu? Aku bertanya.

"Anak itu merasa kecewa saat tahu dirinya dibohongi. Ibunya terpaksa mencampurkan tepung dan air. Saking miskinnya mereka. Pasti mereka tidak sanggup membeli sapi untuk diperah. Waktu itu, Drona datang untuk meminta sapi itu kepada ayah. Dan ayah hanya berniat memberikan sapi sebagai sedekah. Hal itu membuat Drona merasa amat terhina."

Aku menatap Aswatama—putra Drona yang kini mengenakan mahkota Panchala. Anak yang pernah memimpikan susu, kini bisa memperoleh susu sesuka hati. Dia bahkan mendapatkan sebuah kerajaan di bawah kakinya.

Di lain pihak, Drupada, berlutut dan dipermalukan. Drupada telah mengatakan agar Arjuna membunuhnya. Namun hal itu tidak dilakukan. Bahkan di saat Drupada tunduk tak berdaya.

Aku melihat Drona menghapus air mata di sudut mata. Dia turun, menghampiri Raja Drupada. Lalu tanpa ragu, Drona melepaskan ikatan Raja Drupada, memeluk sahabatnya itu erat-erat.

"Hari ini, semua dendamku telah terhapuskan," Resi Drona berkata puas, "Dan mulai sekarang, kita akan kembali bersahabat."

Di sini... di Panchala, hari ini aku mempelajari sesuatu yang sangat penting. Saat Drona berbahagia mendapatkan sahabatnya kembali. Namun di sisi lain, Drupada kehilangan setengah dari kerajaan dan kehormatannya.

***

Setelah pindah dari istananya yang megah, Drupada mengadakan pemujaan terhadap Dewa Agni. Percikan api dendam dalam hatinya telah menuntut pembalasan. Dan itulah yang dia tuntut dari Sang Dewa Api. Dia memerintahkan semua pelayan untuk berpuasa dan berdoa dengan khusyuk. Sementara dia sendiri bermeditasi selama berhari-hari, meresapi dendamnya agar berubah menjadi sebuah kekuatan yang bisa menghancurkan mantan sahabat yang kini telah menjadi musuh besarnya.

Drona.

Namun ternyata, para dewa memiliki rencana yang berbeda dari keinginan Drupada. Drupada memohon putra yang akan membalaskan dendam. Namun para dewa menambahkan anugerah yang membuat Drupada tak puas.

Putra yang lahir dalam api pembalasan dendam itu datang di hari ketujuh. Aku melihat beberapa pelayan mulai pingsan lalu dicambuk kembali. Penyiksaan yang sama berlaku untuk para resi yang sedang melakukan ritual yang sama. Harapan-harapan berubah menjadi keputusasaan. Namun belas kasih para dewa rupanya datang di saat semua orang mulai diam-diam mengubah doa mereka...

Ya, Dewa... mohon segera bebaskan kami dari ritual ini...

Dewa, kami menderita! Kami tak bisa berbuat apa-apa untuk melawan perintah raja. Akan tetapi, kami tak kuat lagi!

Oh Dewa, tolong lakukan apa saja untuk menghentikan semua siksaan ini...

Aku meringis ketika mendengar doa yang mereka panjatkan dalam hati. Ingatan akan batas para dewa membuatku tak memanjatkan doa apa pun. Aku hanya memerhatikan apa yang terjadi di sekitarku. Angin berhembus membawa hawa musim dingin. Semua tangisan kini bercampur teriakan dan cambukan-cambukan yang semakin sering dilecutkan.

Lalu dia datang.

Aku mendengar suara ledakan yang besar. Beberapa pelayan yang berada di dekat api tersentak hingga terlempar. Seorang pangeran dengan pakaian perang berdiri di tengah-tengah api. Di satu tangannya tergenggam pedang yang memancarkan kilau kematian.

Drupada yang saat itu datang ke tempat upacara, kaget dan terlihat sangat gembira. Aku tahu, inilah saatnya karma itu mulai berbuah... saat Pangeran Drestayumna memamerkan senyuman berbahaya yang membuat jiwaku berguncang oleh ketakutan.

Namun ternyata semua belum selesai. Api di dalam tempat pemujaan kembali bergerak dengan suara-suara retihan kayu. Membumbung dengan cahaya biru putih yang sangat indah. Para pelayan, refleks menjauh—takut akan ledakan dashyat berikutnya.

Ledakan itu tidak pernah terjadi. Api itu terus bercahaya dan berkilau, namun tak pernah ada satu letupan di dalamnya. Cahaya biru dan putih itu bergumpal perlahan-lahan, mewujudkan sesosok gadis paling jelita yang pernah kulihat.

Raja Drupada,

Segala sesuatu memiliki dua sisi.

Kau memanggil seorang putra untuk membantumu membalas dendam.

Semesta memintamu menjaga seorang putri yang akan mengubah sejarah.

Demikianlah nasib yang tertulis.

Pangeran Drestayumna.

Putri Drupadi.

Setelah kehadiran mereka, semua yang terjadi di Tanah Arya tidak akan pernah sama lagi.

Drupada menelan ludahnya. Melihat Drupadi yang masih berdiri di tempat pemujaan. Semua lelaki di ruangan itu menahan napas, terkesima oleh kecantikannya. Namun bagi Drupada, kecantikan itu sama sekali tidak berarti apa-apa.

#StopPlagiarism

Author Putfel

Legenda Negeri Bharata [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang