Chapter 8: Azura

18.7K 2.4K 57


Lidio memangkas ranting-ranting pohon yang menghalangi jalannya dengan menggunakan pedang.

Lidio berani bersumpah, hutan Negeri Atro ini sangatlah luas. Suasana hutan ini pun lebih menyeramkan dari pada hutan di Negeri Leuco.

Sudah dua hari Lidio menjelajahi hutan itu, memuaskan rasa laparnya dengan memakan dedaunan mentah.

Tak banyak hewan-hewan yang Lidio jumpai. Entah di manakah hewan-hewan di hutan Atro ini bersembunyi. Lidio sudah sedari tadi menanti-nanti kemunculan si hewan mungil pemakan wortel. Namun, tak ada satu pun kelinci yang muncul hingga detik ini. Yang muncul hanya semut, kelabang, jangkrik, capung, dan hewan lainnya yang tidak memungkinkan bagi Lidio untuk disantap. Oh. Ayolah. Hutan Negeri Atro itu membuat Lidio mendadak jadi vegetarian.

Ini benar-benar menyebalkan. Jika bukan karena ingin cepat pulang ke tempat asalnya, Lidio tidak akan mau melakukan hal seperti ini.

Lidio berhenti melangkah lalu menghela napas frustasi. Sudah lima kali dia menelusuri hutan. Jika dia melakukannya lagi maka hasilnya akan tetap sama, dia tidak akan menemukan apa pun. Hutan ini terasa seperti tak berpenghuni.

Lidio berdongak menatap tebing di depan, satu-satunya tempat yang belum Lidio telusuri. Sebenarnya, sudah sejak kemarin Lidio ingin naik ke tebing itu, namun tebing tersebut terlalu tinggi. Lidio takut merasa lapar jikalau dia terlalu lelah. Meski, sekarang dia memang lapar, setidaknya Lidio merasa bahwa energinya untuk bertahan di hutan itu masih banyak. Namun, tak ada pilihan bagi Lidio selain naik ke tebing itu.

Lidio akhirnya naik ke tebing tersebut. Untung lah tak terlalu curam, sehingga Lidio tak perlu memanjat. Tak ada lagi pohon membuat Lidio berkeringat karena terkena terik matahari. Kian lama berjalan membuat kakinya terasa semakin pegal.

Yang di tunggu-tunggu Lidio akhirnya tiba, dia telah sampai di atas tebing. Lidio duduk sejenak, meluruskan kaki, dan mengatur deruan napasnya. Dia berkali-kali mengumpat. Segala macam umpatan lama atau umpatan gaul dari tempat asalnya terucap begitu saja.

Lidio tersenyum, dia mencoba untuk mengumpulkan semangatnya saat teringat pada sang Ibu. Ini adalah kesempatan terakhir. Jika dia tidak menemukan pasangannya lagi, maka dia akan kembali ke Leuco dan bersiap-siap menerima hukuman dari Pangeran Moriz.

Lidio mulai menelusuri tebing itu. Suara kicauan burung lebih keras terdengar daripada suara hembusan angin. Terdapat banyak pohon. Sandal ala Negeri Leuco yang di pakai oleh gadis itu menimbulkan suara setiap menginjak dedaunan kering.

Lidio berhenti melangkah saat melihat sebuah goa yang sangat besar di depannya. Tiba-tiba saja banyak kelelawar keluar dari goa itu. Lidio memekik dan merendahkan tubuh agar para kelelawar itu tidak menabraknya.

Saat sudah tak ada lagi kelelawar yang keluar dari dalam goa, tanah menjadi sedikit bergoyang. Sehingga Lidio mengira bahwa terjadi gempa saat ini.

Tanah semakin cepat bergoyang. Lidio berjongkok dan berusaha menyeimbangkan tubuhnya.

Dari dalam goa, keluar lah seekor naga yang sangat besar. Naga itu mendekati Lidio.

Tak sekali pun Lidio berkedip menatap wajah garang sang Naga. Naga berwarna hijau lumut itu memiliki manik mata berwarna kuning keemesan. Melihat jejeran duri-duri besar di kepala hingga ke hidung naga itu membuat Lidio meneguk ludah.

Sang naga merendahkan wajahnya agar sejajar dengan tubuh Lidio. Hal itu membuat Lidio reflek melangkah mundur. Lantas naga itu menggeram. Dia mengepakkan sayapnya seolah memamerkan diri bahwa dia tampak luar biasa.

Lidio menatap wajah garang naga itu. Begitu pun sebaliknya. Geraman hewan bersayap itu kini telah berhenti. Sehingga Lidio menghirup udara sebanyak-banyaknya setelah menahan napas. Bukan bermaksud ingin melawak, aroma mulut naga itu sangat bau. Lidio tak tahan hingga ingin muntah.

The LeucoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang