For every story tagged #WattPride this month, Wattpad will donate $1 to the ILGA
Pen Your Pride

PROLOG

Ruangan apa ini?

Gelap yang begitu mencekam membuat perempuan yang baru saja bangun dari posisinya itu panik dalam sekejap. Tidak ada sumber cahaya. Hanya ada hitam dimana-mana. Sempat terdengar derap langkah orang dari atas langit-langit tadi. Itu justru membuatnya semakin panik.

Sial, pikirnya. Apakah orang yang berjalan di atas tadi akan menyelamatkanku, atau justru akan melakukan hal yang tidak ingin kubayangkan saat ini?

Perempuan itu pun memutuskan untuk duduk di lantai yang dilapisi karpet, menenangkan diri. Ia tidak mengerti dimana ia sekarang dan untuk apa ia ada di ruangan gelap ini. Beberapa jam yang lalu ia baru pulang dari pekerjaan paruh waktunya saat seseorang menaruh sapu tangan tepat di hidungnya dari belakang, kemudian semua menjadi gelap dan setelahnya ia berada di ruang aneh dan gelap ini. Ia masih belum yakin bahwa ini ulah Arxa, kakaknya. Kakaknya adalah seorang pemakaipemakai narkobadan mungkin ini salah satu ulahnya di bawah pengaruh benda terlarang itu.

Arxa pernah bilang padanya kalau ia akan menjaganya dengan sepenuh jiwa dan raganya karena... orang tua mereka sudah tiada karena kasus pembunuhan. Perempuan itu sangat menginginkan Arxanya yang dulu kembali menjadi Arxa yang ia kenal, bukan Arxa yang seperti sekarang. 

Ceklek.

Tiba-tiba pintu dibuka dan memunculkan secercah cahaya.

Refleks, perempuan itu langsung bangun dari duduknya. Ia melihat tiga lelaki yang berdiri tegap sambil menatapnya dingin. 

Cih, aku tak suka tatapan mengintimidasi seperti itu. 

Di belakang tiga lelaki itu berdiri seseorang dengan pakaian serba hitam. Dia juga menatap perempuan itu dingin, sama seperti orang di depannya. Melihat tatapan yang tidak ia sukai itu, ia menyembunyikan kepanikkannya rapat-rapat.

"Halo Alexandra Alexis. It's nice to meet you." Kata orang berpakaian hitam itu.

Perempuan ituAlexandra balas menatapnya dingin. "Who the hell are you?"

Dia tersenyum licik. "Hati-hati dengan ucapanmu, Alex."

"Aku bertanya siapa kau?!" Suara Alex meninggi, namun agak bergetar. Kepanikkannya mulai muncul lagi.

Salah satu dari tiga lelaki itu maju ke arahnya, ia nampak kesal. Namun lelaki berbaju hitam ini menahannya, "Sabarlah, Leo. Dia hanyalah gadis biasa yang belum mempunyai pendirian. Sama seperti kakaknya."

Seketika darah Alex naik ke ubun-ubun, "Jangan bawa-bawa kakakku! Keluarkan aku dari sini, sekarang!" Serunya.

Laki-laki mengangkat alisnya sedikit. Wajahnya terlihat dingin namun tenang di satu sisi. "Tidak semudah itu, young lady. Kau harus patuh padaku, baru kau boleh bebas dari sini."

Alex menatap lelaki itu tak percaya. Patuh? Patuh, hah?! Mana mau aku patuh dengan lelaki arogan sepertinya?

"Arxa telah menyerahkanmu padaku, Alex."

Deg.

Apa maksudnya?

"Jangan coba-coba membohongiku." Kata Alex tegas. 

Ini adalah lelucon terburuk yang pernah kudengar selama hidupku. Dimana aku? Siapa dia?

Prok prok!

Laki-laki serba hitam ini bertepuk tangan dua kali. Seketika muncullah dua orang laki-laki yang sedang memapah orang lain.

Orang yang sedang dipapah itu adalah Arxa.

"Arxa, beri tahu semuanya ke adik tersayangmu itu."

Arxa menatap adiknya lemah. Mata kemerahannya menyiratkan ketenangan, seolah meyakinkan adiknya bahwa semua akan baik-baik saja lalu berkata, "Alex...aku telah menyerahkanmu.. pada.. laki-laki ini.. ma-maaf.."

Menyerahkan! Memangnya aku barang?!

"See? Arxa telah memberitahukannya padamu, jadi mulai sekarang kau harus patuh padaku."

"Arxa, jelaskan semuanya padaku!" Alex meminta dengan suara bergetar. Ia ingin menangis sekarang dan melayangkan pukulannya ke Arxa untuk menghentikan lelucon ini.

Arxa terbatuk sekali. Ia pun mulai berbicara. "Alex, kau tahu aku adalah seorang pemakai narkoba, dan uhuk... aku tidak punya banyak uang karena uangku telah digunakan untuk membiayai kehidupan kita dan uhuk...  kuliahmu. Maka waktu itu aku meminta narkoba pada lelali ini, lalu uhuk... aku berjanji aku akan menyerahkanmu padanya kalau ia memberikan... narkoba itu padaku. Maafkan aku, Alex."

Alex tak mampu lagi membendung air matanya mendengar ucapan Arxa. 

"Seperti inikah kakakku?" Alex tersenyum miris. "Mengapa ia berubah seratus delapan puluh derajat? Dimana Arxa yang penyayang? Dimana Arxa yang pengertian? Dimana sosok kakakku yang menyayangi adiknya?!"

Kemudian tanpa sempat menjawab, Arxa ditarik paksa oleh dua lelaki di sebelahnya. Ia pun hilang di balik lelaki berbaju serba hitam itu. Ia maju beberapa langkah ke arah Alex, sedangkan perempuan itu diam tak berkutik, berusaha menetralkan hatinya yang kaget karena pernyataan Arxa tadi.

"Kenalkan, Harry Styles. Jangan tanya aku siapa, karena kau akan segera tahu dari benda yang ada di tangan kiriku,"

Alex pun mengalihkan pandangannya ke tangan kiri lelaki berpakaian hitam itu yang ternyata bernama Harry. 

Oh shit. A gun

Rasa was-was langsung naik ke ubun-ubun Alex dalam sekejap.

"Selamat datang di permainan maut yang tidak pernah ada habisnya."

*  *  *  

The 17th FloorBaca cerita ini secara GRATIS!