Suryaputra

1.9K 117 2

Aku merasakan perasaan manusiawi kedua saat aku melihat seorang wanita sedang berdiri di tepi sungai, bersiap menghanyutkan seorang bayi yang tertidur dalam sebuah keranjang.

Dari pakaian dan perhiasannya yang mewah, aku menduga wanita itu berasal dari kaum bangsawan. Air mata mengalir di pelupuk mata wanita itu. Dia berkali-kali menghapus air mata, namun ketidak berdayaan membuat wanita itu meletakkan keranjang itu ke atas air, memasrahkan nasib sang bayi pada aliran sungai.

Secercah cahaya kecil melintas di sebelahku. Aku menyusul cahaya itu, cahaya yang kini mengikuti perjalanan si bayi kecil. Cahaya itu baru berhenti saat keranjang itu tersangkut pada tepi sungai di wilayah Champanagari. Efek tumbukan membuat bayi itu tersentak lalu menangis keras-keras. Lama sekali dia menangis, tanpa ada yang menghiraukan. Hingga kemudian, seorang wanita desa sederhana datang ke tepi sungai. Terkejut oleh suara tangisan bayi, Sang Wanita Desa meletakkan keranjang cuciannya, lalu menghampiri keranjang berisi bayi itu.

Aku masih bertanya-tanya, mengapa ada seorang ibu yang tega membuang bayinya ke sungai. Beberapa saat aku termenung di atas sungai. Memandang kepergian bayi yang kini dipungut seorang wanita desa.

"Semoga hidupnya berbahagia."

Suara itu menyadarkanku kalau aku tidak sendirian. Cahaya yang mendampingi bayi tadi kini mewujud di sebelahku. Sama sepertiku, Dewa Surya memandang kepergian Sang Wanita Desa. Dewa Surya mengertakkan gigi. Berusaha menahan kekuatan sinar dan panasnya hingga tak menyakitiku.

"Kau yang dikatakan Gangga sebagai Putri Saraswati?"

Mendengar ucapan itu, aku segera memberi salam dengan menyentuh kaki Dewa Surya. Aku segera mengeluarkan alat-alat tulisku untuk menuliskan kalimat.

Anda turun untuk menolong anak itu? aku bertanya.

Dewa Surya berkali-kali menghela napas. Kilat luka terlihat di matanya. Dia masih memandang tempat terakhir di mana wanita desa itu terlihat.

"Bayi itu... adalah putraku." Dia berkata dengan nada sedih. Dewa Surya kemudian menceritakan pertemuannya dengan Kunti, wanita yang memiliki anugerah mantra pemanggil Dewa. Dengan mantra itu, Kunti dapat memperoleh anugerah dewa, dengan kata lain... seorang putra dewa.

"Kunti adalah putri dari kerajaan Kuntiboja. Kewajibannya menjaga kehormatan kerajaan, membuatnya tak mungkin melahirkan anak saat masih belum menikah."

Wajah Dewa Surya yang terlihat murung, tanpa kusadari memengaruhiku sedemikian rupa. Kemarahan yang sebelumnya pernah kurasakan kepada Satyawati kini muncul kembali. Menimbulkan perasaan lain yang membuatku sesak. Kesedihan.

"Aku membantu mengeluarkan anaknya lewat telinga. Karena itu, putraku kunamakan Karna. Putraku akan menjadi pahlawan yang tangguh."

Kalau begitu, mengapa anda bersedih? tanyaku.

Dewa Surya memejamkan mata. Dia memandangku sejenak, dan kali ini pertanyaannya membuatku merenung.

"Sungguh sulit tidak melibatkan perasaan untuk sebuah perang sekejam ini," dia berkata, "Aku bertaruh, kau tidak akan sanggup melakukannya."

Mulutku membuka, tapi peringatan Gangga kembali terngiang. Dewa Surya yang mengetahui hal itu, tertawa lalu berkata dengan nada lebih gembira.

"Apa yang kau tahu tentang masa depan?"

Aku menggaruk kepala, bingung dengan apa yang dia katakan. Saat itu, Dewa Surya memandangku sejenak, lalu mengangkat tangannya ke kepalaku, memberikan sebuah berkat.

"Diberkatilah kau, Nak. Kapan pun kau memanggilku, aku akan datang," Dewa Surya tersenyum kepadaku, "Kau adalah putri Saraswati. Kau pasti menyukai kisah-kisah yang menarik. Jadilah teman dari putraku. Aku percaya, kau akan mendapatkan apa yang kau cari."

Legenda Negeri Bharata [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang