Axcel Achazia

3.1K 381 27

Aku bosan !

Padahal baru tiga hari aku bekerja di kedai tuan Frederick tapi begini-begini saja. Aku tidak tahu kenapa aku merasa cepat bosan. Kulirik gadis di sebelahku yang tampak sabuk mengucir rambutnya lalu mengelap mejanya. Axcel, mungkin dia yang membuatku bosan. Seramah apapun lingkungan di tempat kerja itu takan membuatnya bergeming dari sifat dinginnya. Kebekuan sikapnya tidak terpengaruh oleh suasana sekitar yang menurutku jauh lebih hangat dari suasana dirumahku. Padahal aku pikir dengan percakapan kami waktu itu, menandakan bahwa hatinya akan luluh dan mau terbuka denganku sebagai partnernya.

"Tetap membeku diantara kobaran api." Lirihku. Itulah yang terlintas dalam pikiranku saat ini. "Axcel Achazia. Si gadis es."

Kulirik lagi gadis yang kini terduduk santai dan membelakangiku. Ia menguap sejenak, kepalanya terkulai di sanadaran kursi. Entah sampai kapan ia akan terus bersikap seperti ini padaku.

"Axcel." Panggilku.

"Jangan memanggilku jika tidak ada keperluan."

Mataku terpejam dengan kening berkerut. Jawaban macam itu? Selalu saja begitu. "Kenapa kau jarang sekali berbicara pada orang lain? Apa dirumah kau juga pendiam seperti itu?" Aku terduduk menopang dagu. "Kita partner bukan?" Mekipun mendapat respon yang dingin tapi aku mulai merasa ringan dengan beban dihatiku setelah menanyakannya secara langsung.

"Memangnya kau mau aku bicara apa pada orang lain?"

"Ya setidaknya ada obrolan dan bersosialisasi dengan orang lain. Apa kau punya masalah sampai kau jadi pendiam?"

Axcel memutar posisi duduknya hingga kami saling menatap. "Aku seperti ini sejak kecil. Kenapa kau berpikir aku bermasalah dalam hal sosialisasi?"

"Aku hanya merasa sikapmu terlalu dingin dan—"

"Itu karena aku lahir pada saat musim dingin, apa masalahnya?" Sergahnya cepat.

Aku menghela nafas sejenak. "Ya Tuhan! Axcel, kau ini perempuan—"

"Lalu?"

"Sikapmu terlalu dingin untuk seorang gadis."

"Memangnya kenapa?"

"Bagaimana kau bisa seperti itu? Apa kau tidak pernah memperdulikan sekitarmu?"

Axcel menatapku lama, namun sesaat ia mendesah lelah. "Kalau kau tidak suka dengan kepribadianku untuk apa kau bertahan disampingku? Kau bisa pindah ambil bagian lain dalam pekerjaan ini. Kalau kau ingin tukar pekerjaan dengan karyawan lain, sepertinya di bagian koki adalah susasana kerja yang kau inginkan. Disana adalah kumpulan orang-orang yang berisik."

"Tapi pekerjaan kita dituntut untuk ramah bukan?"

"Kau pikir aku tidak ramah dalam melayani pelanggan?"

Iya, aku melihatnya terseyum dan ramah dalam melayani pelanggan. Axcel jauh lebih hangat dari biasanya disaat ada pelanggan yang datang. "Axcel. Aku ingin sekali kau seramah itu bukan hanya pada pelanggan, tapi pada karyawan lain juga kau harusnya begitu."

"Baiklah. Nanti aku telepon tuan Erick untuk memindahkanmu ke bagian yang lain."

"Apa? B-bukan begitu maksudku—"

"Kau tidak ingin memiliki partner kerja sepertiku kan? Dari pada kau merasa tidak nyaman, lebih baik aku meminta tuan Erick untuk memindahkanmu."

Berhati-hatilah pada gadis itu. Ia selalu membawa kutukan. Entah kenapa ucapan Adelia selalu membuatku penasaran.

"Axcel." Aku langsung melonjak dari kursi dan memeluknya. Aku bisa merasakan tubuhnya yang tampak shock dengan tingkahku yang terlalu blak-blakan. "Aku hanya kesepian dengan sikap dinginmu. Aku ingin kau membuka dirimu sedikit saja dan itu—cukup aku saja yang menyimpannya jika kau merasa berat untuk membagi salah satu rahasiamu."

Loizh III : ReinkarnasiBaca cerita ini secara GRATIS!