Part 21-Penggemar Rahasia Punah

3.4K 202 11

Senyum Cellyn mengembang lebih lebar dari biasanya. Di hadapannya kini berdiri gedung Universitas yang menjulang tinggi. Perjuangan Cellyn untuk bisa menjadi mahasiswi di sini tidaklah mudah. Dia harus bersaing melawan ribuan orang.

Sekarang dengan penuh percaya diri, kakinya memasuki gerbang Universitas. Dia memilih jurusan Kedoteran. Cellyn bertekad untuk menyelamatkan nyawa orang lain agar anak-anak tidak kehilangan kelaurganya seperti dirinya. Cellyn menjadikan pengalamannya untuk mencapai cita-citanya. Bagi gadis itu, menjadi dokter adalah sebuah pekerjaan mulia yang ingin dilakukannya.

Kepalanya menoleh ke samping kanan mencari seseorang barangkali ia kenal. Namun, dari arah belakangnya malah ada yang menyentaknya.

"Siapa yang suruh lo di sini?

Cellyn membekap mulutnya untuk tidak berteriak karena terkejut. Siapa tau yang menyentaknya adalah kakak tingkatnya.

"Tidak ada. Saya mau ke lapangan," Cellyn menjawab dengan sangat hati-hati. Dia tidak mau hari pertamanya di sini menjadi buruk.

"Bhahahahaha." Tunggu, bukannya mendengar omelan lagi, Cellyn malah mendengar tawa yang membahana. Dia juga sepertinya kenal dengan suara tawa yang ingin membuatnya menendang orang itu.

Cellyn berbalik dan benar dugaannya. Denin si tai onta itu.

"Kampret lo Den. Gue kira lo kakak tingkat!" Cellyn terus memukuli lengan Denin kesal. Untung saja dia tidak pernah mempunyai riwayat penyakit jantung, kalau tidak bisa-bisa dia melanjutkan kuliahnya di rumah sakit.

"Eits, sejak kapan lo berkata kasar. Kampret?" Denin menaikkan sebelah alisnya dan kembali tertawa memegangi perutnya yang keram.

"Gue keceplosan!" jawab Cellyn tidak terima. Dia menghentakkan kaki kesal dan melanjutkan jalan ke lapangan.

Namun tiba-tiba sebuah tangan menarik lengannya sehingga badannya kini membentur orang di belakangnya. "Gue sengaja." Denin menaikkan sebelah alisnya.

"Den lepasin, lo mau gue distrap beneran di sini?" Cellyn berusaha melepaskan Denin yang memeluknya. Cellyn bahkan tidak habis pikir dengan cowok ini, ya walaupun Cellyn tau, Denin telah berkali-kali menyatakan cintanya dan Cellyn menyanggupi akan mencoba menerimanya, tetapi tidak se-frontal ini juga kan? Ini di depan umum, apalagi di tempat baru.

"Santai aja, kalau lo distrap, gue juga distrap. Jadi kita dihukum bareng." Denin megedipkan matanya.

Cellyn memutar bola mata jengah. Ah, dia punya ide. Dengan sekuat tenaga, Cellyn menginjak kaki Denin sehingga cowok itu melepaskan pelukannya dan memegangi kakinya yang berdenyut. Lagipula siapa suruh dia macam-macam.

"Wleee." Cellyn segera berlari menjauh dan bergabung dengan peserta ospek lainnya.

Mereka berdua, Denin dan Cellyn memang satu kampus, lain halnya dengan ketiga sahabat Cellyn dan Andra yang memillih kampus lain.

Andra memang berkata terus terang kepada Cellyn kalau dia mau melupakan semua perasaannya kepada Denin dan membuka kesempatan untuk orang yang tepat.

Begitulah penjelasan Andra. Cellyn tidak pernah mau mencoba membuka hatinya kembali jika saja Andra tidak menasehatinya.

"Tidak akan ada orang yang sama di kesempatan yang berbeda. Mungkin saja orang yang lo benci suatu saat adalah orang yang paling lo sayangi." Perkataan Andra itu masih tergiang-ngiang di telinga Cellyn.

Cellyn tau maksud Andra adalah agar dia mau membuka hatinya untuk Denin, orang yang benar-benar sayang kepadanya. Bukannya menaruh hati di tempat yang salah seperti dulu.

Cellyn menghela napas, mungkin inilah saat yang tepat untuk melupakan seseorang yang ia gemari di balik pintu cokelat yang berhalangan pohon besar.

Saatnya berhenti menjadi pengagum rahasia, dan saatnya membuka diri untuk lingkungan yang baru dan cinta yang baru pula.

*****

Ospek berjalan sangat melelahkan. Cellyn tidak menyangka ospek ini akan menyita banyak waktu dan menguras banyak tenaganya.

Saat sore hari, barulah ospek berakhir. Jujur, meskipun Cellyn berpakaian seperti maba yang lainnya, banyak anak laki-laki baik seangkatan maupun kakak tingkatnya yang memperhatika dirinya. Beberapa ada yang menggodanya, tapi Denin tidak tinggal diam, dia siap sedia menjadi pengawal Cellyn kemanapun gadis itu pergi.

Ya, memang ospek hanya berlangsung satu hari. Sudah kebijakan kampus mereka menetapkan hal ini.

"Den makasih ya."    

Kening Denin mengkerut mendengar Cellyn mengucapkan kalimat itu. "Buat?"

"Yaelah lo amnesia ya? Ya buat pertolongan lo hari ini." Cellyn mencibik kesal.

"Oh, santai aja. Nggak lo minta pun gue bakal lindungin lo. Sekarang, lo kewajiban gue kalau abang lo nggak di sini."

Melting? Terbang? Tidak. Cellyn tidak bisa merasakan itu semua jika Denin yang mengatakan. Ternyata, membuka hati yang pernah tersakiti untuk orang baru sangatlah sulit, lebih sulit daripada rumus kimia yang bejibun.



An: 

Just info, ini adalah part terakhir sebelum epilog. Sorry tadi kepotong kalimatnya.

Secret Admirer ✔️Baca cerita ini secara GRATIS!