AUDRIAN

31 0 0
                                        

1. Perkenalan

Waktu itu, matahari sedang malu-malunya. Ya, dia sedang ingin tenggelam. Pertanda waktu sudah mulai sore. Aku pun segera mandi dan mempersiapkan diri untuk sholat magrib berjamaah bersama papi, ibu, dan abangku.

Setelah sholat magrib, tiba-tiba aku melihat laptopku, kupandangi sebentar, lama, lama... Lalu akhirnya aku menyalakan laptopku, dan kulihat beberapa tulisanku jaman dulu. Ya, gak dulu-dulu banget, sih. Mungkin sekitar beberapa tahun atau bulan yang lalu.

Entah mengapa, tanpa aku sadari, tiba-tiba air mata mengalir, membasahi pipiku, sambil berusaha kutahan karena aku sebetulnya sudah tidak mau menangisi, atau bahkan sekedar mengingat hal ini.

Dia adalah Audrian. Aku tidak yakin harus menceritakan tentang dia atau tidak. Karena, aku yakin, kamu, yang membaca, bisa ikut jatuh cinta sama dia. Tapi jangan salahkan aku kalau pada akhirnya kau akan memendam kebencian padanya.

Lengkapnya Audrian Luksanto, temanku sejak aku duduk di kelas 1 SD. Ya, sejak masih kecil, masih imut-imut, belum ngerti apa-apa tentang 'hal itu'.

Apa itu 'hal itu'? Nanti kujelaskan. Aku agak malas juga untuk menyebutnya. Tapi, argh, kalau gak disebut, susah untuk dimengerti nanti.

'Hal itu'adalah 'cinta'. Oh ya, namaku Alana Mustona Eliana.

Seumur hidupku, aku sudah sangat sering suka sama seseorang. Kagum akan kegantengannya, kagum akan kecerdasannya, skill dia dalam suatu hal. Namun, Audrian lah yang pertama, dan mungkin yang satu-satunya, membuat aku benar-benar merasakan 'hal itu' alias cinta.

Aku punya alasan mengapa aku agak malu untuk menyebutnya cinta. Masalahnya, aku suka sama Audrian dari aku kelas 6 SD, sampai aku kuliah sekarang. Tapi, kalau sekarang, aku sudah berani menyebutnya cinta. Bahkan, bukan hanya sekedar itu.

Aku... Aku... Menyayangi Audrian.

2. Bertemu (Lagi) dengan Audrian

Pagi itu, ketika aku masuk kelas, kelas sudah ramai, ada yang sibuk ngerjain PR yang belum kelar, ada yang lagi nyatok rambut, dan sebagainya. Sampai ada salah satu temanku, namanya Japira (aku tidak mengubah namanya, memang menggunakan J dan P, sudah begitu di akte kelahirannya, hahaha), dia bertanya padaku,

"Na, udah tau kabar? Audrian katanya mau balik lagi sekolah di sini!"

"Ah serius? Gila, udah lama gue gak liat dia!"

Ngomong-ngomong, waktu Japira menanyakan itu padaku, aku belum ada rasa sama Audrian. Karena Audrian belum bertingkah yang macam-macam ke akunya. Oh iya, aku tuh satu SD sama Audrian, terus, satu SMP juga, tapi pas masuk SMP, dia cuma sekolah tiga bulan waktu kelas 7, setelah itu dia pindah ke Bali karena kerjaan papanya. Tapi, pas kelas 9, dia balik lagi ke Jakarta, dan kembali ke sekolah lamanya.

Info tentang datangnya Audrian kembali telah berhembus selama tiga bulan, dan tidak kejadian. Namun, tiba-tiba, aku ingat sekali, hari Kamis, karena seragamnya batik waktu itu. Aku datang ke sekolah, dan baru di depan pintu kelas, temanku sudah ngeledek (bukan ngeledek karena aku suka, aku belum ada apa-apa sama Audrian waktu itu),

"Na, liat tuh ada murid baru!" seru Japira.

Kulihat, dia sedang berdiri menyender ke balkon, mungkin sedang melihat-lihat kembali sekolah lamanya tuh gimana, dia pakai seragam putih, karena batik lamanya sudah dijadiin lap pel kali, ya?!

Akhirnya, bel pun berbunyi. Semua murid masuk kelas. Termasuk Audrian. Dia duduk paling belakang, sendiri. Dulu sih, aku biasa aja mau lihat dia gimana juga. Tapi, kalau sekarang, aku gak tega, kasian kalau liat dia begitu, hahaha!

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 28, 2016 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

AUDRIANWhere stories live. Discover now