Bab 3: Anisir dan Salosinh

6 0 0


HAMPIR dua puluh empat jam dalam satu hari tiga orang Senair yang baru saja dinobatkan disibukkan oleh kunjungan warga Gnakam Boh. Mereka semua ingin dibuatkan ramuan obat atau hanya sekadar minta diperiksakan kesehatannya. Iredir, Ueyr dan Ueryel tidak menyangka akan jadi serepot ini. Sampai-sampai Ueryel lupa untuk menendang benda-benda yang ada di depan kakinya-selain karena Ueyr akan memarahinya.

Semakin hari kerepotan semakin bertambah. Wesam mereka jadi berantakan karena tiap hari banyak orang bertandang. Amua sampai marah-marah karena dia jadi tidak punya bilik lagi untuk melakukan kegiatannya. Akhirnya di sebelah wesam keluarga mereka dibangun wesam pengobatan yang khusus dipakai sebagai tempat membuat ramuan dan melayani pesakit. Kendatipun demikian, ada beberapa di antara penduduk Gnakam Boh yang tidak mau berobat pada mereka apalagi dibuatkan ramuan. Cukup wajar, mengingat ketiga Senair Gnakam Boh ini masih sangat muda dan dinobatkan dengan begitu tiba-tiba.

"Ueryel, lemparkan kendi yang di dekat kakimu itu!" teriak Ueyr sambil menghapus peluh yang membasahi dahinya. Dia sedang merebus daun meniran, temulawak dan rambut jagung untuk pasien yang terkena batu empedu.

"Gunakan tanganmu, jangan malas!" teriaknya lagi ketika Ueryel menyepak kendi yang diinginkan Ueyr dengan kakinya. Ueryel sedang sibuk menumbuk batang dan daun kapulaga.

"Apa Iredir sedang memeriksa pesakit yang terakhir? Aku lelah sekali! Dari tadi menumbuk terus, buat Emu Gnurah, dia sakit encok. Tidak sembuh-sembuh!" Ueryel merengek.

"Hari belum gelap. Itu tandanya mereka yang mengantre masih banyak," jawab Ueyr.

"Ternyata ada tidak enaknya juga jadi Senair," gerutu Ueryel.

"Tetapi tidak demikian dengan Senair Ikna," sahut Ueyr.

"Kenapa?"

"Dia itu bangga sekali dengan gelar Senair Agung yang dimilikinya," kata Ueyr, teringat terus kalau Senair Ikna ingin membuka pengadilan lagi untuk mereka.

"Kau kan iri!" kata Ueryel. Khawatir Ueyr marah, buru-buru dia menyambung, "Tapi sekarang dia punya saingan."

"Ya, kau benar," sahut Ueyr. Dua kakak beradik itu pun tertawa. Namun tawa Ueryel langsung hilang saat dengan tak sengaja ia menumbuk jempol kirinya sendiri. Tawa Ueyr bertambah keras sampai-sampai ramuan di atas tungku panas yang sedang diaduknya tumpah mengenai kakinya. Gantian Ueryel yang tertawa sekarang.

"Suara apa itu?" Ueryel berhenti tertawa tiba-tiba.

"Aku tidak dengar," jawab Ueyr tak peduli.

"Suara berisik yang teredam," kata Ueryel yakin.

"Itu suara Iredir yang memanggilmu."

Dari dalam bilik periksa memang terdengar Iredir yang memanggil-manggil Ueryel.

"Apa ramuan yang tadi sudah selesai? Iredir sudah memintanya," kata Ueyr. Ueryel mengangguk.

"Mungkin rasanya akan sedikit berbeda. Aku lupa mencuci tanganku," kata Ueryel.

"Apa yang kau lakukan dengan tanganmu sebelum meramu?" tanya Ueyr penuh selidik.

"Ada kaitannya dengan kotoran sapi," jawab Ueryel.

"Kau keterla..."

"Bercanda!"

Ueryel nyengir lebar sementara Ueyr mendelikkan matanya.

Kejadian setiap harinya selalu begitu. Sibuk tak kenal siang maupun malam. Sekarang tiga kakak beradik itu jarang pergi ke hutan Dou. Untuk memperoleh bahan-bahan ramuan mereka terpaksa meminta bantuan pada orang lain. Iru dengan sangat senang hati bersedia membantu. Apalagi ada Iresa dan Irefa yang lebih senang hati membantu.

Ramuan Racun AsylarunhBaca cerita ini secara GRATIS!