Part 20-Graduation

2.5K 209 5

Beberapa hari yang lalu, Cellyn telah melaksanakan Ujian Nasional. Selama ini ia telah belajar maksimal, dan untunglah semua soal bisa Cellyn jawab dengan mudah.

Namun, Cellyn sedih karena hari ini adalah hari kelulusannya, tetapi tidak ada satupun yang hadir untuk menemaninya. Orang tuanya sudah meninggal, Darrel sibuk dengan perusahaan. Tidak ada yang memberikannya sebuket bunga ketika semua siswi mendapatkannya.

Air mata Cellyn menetes. Di titik inilah ia merasa benar-benar sendiri tanpa seorang pun yang mau jadi sandarannya.

Seseorang menepuk pundaknya.

"Lo nangis ya?" Cellyn segera menghapus air matanya menggunakan tangan.

Denin duduk di samping Cellyn. Cowok itu tidak mau menuruti perintahnya untuk mencoba menyukai Andra. Katanya walaupun dicoba, Denin tetap tidak bisa menganggap Andra lebih dari seorang sahabat.

"Nggak kok," Cellyn jelas-jelas bohong.

"Nih ada tisu. Ntar muka lo bisa belang kalau pake tangan. Make upnya bisa luntur." Denin menyodorkan tisu ke Cellyn. Namun gadis itu tak menanggapi.

"Mau banget ya dilap sama cogan kayak gue."

Cellyn memukul lengan Denin. "Siapa juga yang minta. Gue bisa lakuin itu sendiri." Cellyn mengambil beberapa helai tisu dan menggunakannya.

Denin tau kalau tidak ada satu pun orang yang mewakili Cellyn untuk acara kelulusan ini. Dia ingin menghibur sebisanya.

"Lo tau nggak? Kata orang, kalau ada orang yang nangis waktu hari bahagia, maka orang itu ..."

"Gak usah ngarang lagi. Gue udah hafal sama tinghak lo," sela Cellyn.

"Yah, jadi gak seru kan Cell." Denin berpura-pura sedih.

Tiba-tiba Andra ikut gabung. Tidak akan ada yang menyangka kalau cewek itu sebenarnya tomboy. Dengan balutan kebaya, seperti Cellyn membuat Andra terlihat anggun.

"Susah banget gue jalan ke sini," adu Andra. Memang ia terlihat ribet sendiri dengan pakaiannya. Mungkin karena baru pertama kalinya.

"Lagian lo kayak tante-tante rempong tau Ndra." Denin terkiki geli melihat penampilan Andra.

"Omongan lo disaring dulu Den," Cellyn bebisik ke telinga Denin. Cowok itu kemudia menggaruk kepalanya.

"Sorry," ucap Denin merasa bersalah kepada Andra.

"Gue udah kebal sama omongan lo Den. Saking tebelnya tembok belakang sekolah kalah." Andra mencoba tertawa, tetapi Cellyn tau, tawa itu palsu.

Cellyn kembali mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan.

"Cellyn!" teriak Naya cetar membahana.

"Pasti lo cari kita kan?" tanya Katrina dengan nada tidak jauh beda.

"Maaf ya kita telat. Nungguin Naya tuh lemot banget." Katrina langsung memeluknya. "Gue nggak nyangka bentar lagi jadi anak kuliahan. Berarti kita jarang ketemu dong?" raut wajahnya berubah sedih.

"Tenang aja, meskipun nanti kita nggak satu kampus, gue bakal luangin waktu untuk kumpul bareng kalian tiap weekend," ucap Cellyn menenangkan. Dia mengusap-usap punggung Katrina.

Naya ikut bergabung bersama mereka. Mereka berpelukan erat. Mungkin setelah ini, mereka jarang bertemu karena kesibukan mahasiswa baru.

Mereka segera bergabung bersama anak satu kelas. Sedangkan para orang tua sudah berkelompok di kursi yang telah disediakan.

Kepala sekolah mulai membacakan nama-nama siswa yang masuk ke dalam jalur undangan untuk berkuliah.

Cellyn was-was menanti kesempatan ini. Gadis itu tidak ingin merepotkan Darrel dengan biaya yang besar, Cellyn mau berkuliah dengan usahanya sendiri.

Ketika namanya disebut, Cellyn terlonjak senang. Berkali-kali gadis itu mengucap rasa syukur.

"Wah selamat ya Cell." Naya memeluknya.

"Iya, selamat ya Cell." Katrina juga.

Kini mereka hanya bertiga, Edel sudah meninggalkan mereka untuk selamanya. Tuhan lebih sayang kepadanya.

"Selamat Cell." Denin ikut senang juga. Dia menjabat tangan Cellyn, mengurungkan diri untuk memeluknya.

"Lo juga selamat ya," balas Cellyn.

"Selamat ya Cell." Andra juga ingin memeluk Cellyn, namun kakinya tidak seimbang sehingga ia hampir jatuh kalau saja Denin tidak menangkapnya.

Mereka berpandangan cukup lama. Cellyn tersenyum penuh arti dan menyadarkan mereka sebelum menjadi tontonan gratis semua orang.

"Ekhm, dilanjut nanti aja ya. Sekarang ayo kita maju ke depan, bawa tropinya pulang."

Cellyn, Andra, dan Denin memang lolos. Tetapi nasib Naya dan Katrina tidak seberuntung mereka.

Semua orang tersenyum senang dan memberikan tepuk tangan meriah untuk mereka bertiga. Mereka adalah lulusan terbaik tahun ini. Prestasi mereka memang sudah menjanjikan. Beberapa universitas bahkan sudah menerima mereka tanpa tes sekalipun. Tetapi Cellyn tetap ingin mendaftarkan dijalur undangan.

Setelah semua acara selesai, perlahan ruangan yang tadi penuh sesak, sekarang terasa lenggang. Masih ada beberapa murid yang bertahan di sana untuk berkumpul sebelum berpisah ataupun untuk foto kelulusan.

Teman-teman Cellyn sudah berfoto dengan orang tua mereka. Raut wajah kebahagiaan terpancar setiap kali flash kamera mengambil gambar mereka.

Bahkan orang tua Naya yang super sibuk menyempatkan datang. Begitu juga dengan orang tua Katrina yang tidak kalah sibuknya juga hadir.

Sekarang giliran keluarga Denin dan Andra. Denin dan Andra dipaksa Naya dan Katrina agar mau foto bersama.

Sebenarnya mereka berdua terlihat cocok, sayangnya sikap Andra yang main pukul ke Denin membuat mereka seperti pasangan yang lucu.

Cellyn tersenyum di tempatnya semula. Dia hanya mengamati semua kegiatan temannya tanpa ikut foto bersama. Lagipula kalau mau foto, Cellyn tidak tau mengajak siapa.

"Jangan sedih ya Dek. Abang udah ke sini masa kamu kasih air mata lagi." Darrel meyerahkan sebuket bunga ke depan wajah Cellyn.

Cellyn menoleh kaget.

"Abang! Aku kira abang nggak mau pulang!" Cellyn memeluk Darrel erat. Dia berputar-putar saking senangnya.

"Jangan sedih lagi. Meskipun nggak ada Mama sama Papa, kan ada abang." Darrel mengusap kepala Cellyn. "Adik abang udah besar ya, udah jadi anak kuliahan. Padahal rasanya baru kemarin kamu nangis minta ice ream."

"Ye, aku udah gede bang. Abang aja yang jarang di rumah, makanya nggak tau."

"Oh ya, abang mau foto sama Naya." Darrel mengerling genit.

"Dasar!"

Cellyn memutuskan keluar untuk menghirup udara bebas. Dia duduk di pinggir lapangan futsal. Tangan sebelah kanannya masih memegang bunga dari Darrel. Kakinya ia ayunkan ke depan dan belakang. Kepalanya menunduk dalam.

"Hai, gue disuruh ngasih bunga ini ke lo." Seorang cowok menyerhkan buket bunga yang lebih besar.

Cellyn memandangnya dengan alis berkerut. "Siapa yang ngasih?"

"Gue nggak boleh kasih tau namanya. Lo terima aja ya, gue nggak mau ambil resiko." Tanpa menunggu persetujuan Cellyn, cowok itu langsung menjejalkan bunga ke tangan Cellyn.

Siapa juga yang memberinya bunga ini?

Cellyn melihat kertas yang terselip di tengah-tengah bunga.

Selamat atas kelulusan kamu. Untuk bunga ini, aku berikan sebagai tanda terima kasih karena kamu udah buat aku sadar bahwa uang dan jabatan bukan segalanya. Terima kasih sudah sempat mengisi sebagian cerita SMA ku. Maaf nggak bisa cantumin nama.

Your Secret Admirer.

Cellyn punya penggemar rahasia? Ada yang mengaguminya selagi dia mengagumi orang lain? Bahkan Cellyn tidak pernah memikirkan itu.

Secret Admirer ✔️Baca cerita ini secara GRATIS!