Epilogue: The Happiest Ending

1K 32 1

I only love you.

You truly are the reason i live.

Can i just call you my one?

You're stuck in my heart,

And i can't remove you.

Remember, that i love you.

ADRIAN

Sebuah kecupan yang mendarat di pipi, membuatku perlahan membuka kedua mata. Seulas senyum terbingkai di bibirku saat melihat wanita yang terbaring tepat di sampingku. Aku pun membalas senyuman itu, seraya bergelung dipelukannya.

"Bangun, sayang."

Aku menggeliat sambil berusaha memulihkan kesadaranku sepenuhnya. "Iya, Ma."

Mama mengusap kepalaku lembut. "Mama mandi dulu. Nanti habis itu kamu yang mandi ya, terus siap-siap."

Aku mengangguk.

Sejak 2 hari yang lalu, kami bertiga tidur bersama di apartemen Kak Senna. Mama yang memiliki ide ini, katanya ia ingin merasakan tidur dalam dekapan anak-anaknya sebelum keadaan kembali berubah. Mama bilang ia ingin kembali memperlakukan kami seperti dulu, sebelum pada akhirnya kami menjadi semakin dewasa.

Mama beranjak dari kasur, diikuti Kak Senna yang juga beranjak dari kasur, entah sejak kapan dia sudah terbangun. "Senna, kamu juga cepat mandi. Sejam lagi penata riasnya datang."

"Iya, nanti aku mandi bareng Adri."

Aku terperanjat mendengar ucapan ngaco Kak Senna. Rasa kantukku mendadak hilang, digantikan merinding yang menjalar ke seluruh tubuhku.

"Apaan sih Kak!" Protesku. "Adri udah dewasa. Masa mandi bareng Kakak!"

Kak Senna berdecak. "Kamu pikir Kakak ini lagi mengalami brother complex atau semacamnya? Kakak gak nafsu sama kamu!"

Aku bangkit dari kasur, lalu mengambil ponselku untuk membalas pesan yang dikirimkan kekasihku setengah jam yang lalu. "Kalo gitu ngapain ngajak Adri mandi bareng?!"

"Ya.. biar hemat waktu lah. Kamu kan mandinya lama!"

"Dih gak sadar diri. Kali-kali coba Kakak pasang stopwatch sebelum mandi, terus liat berapa lama waktu Kakak buat mandi doang."

Aku berjalan menuju kamar mandi, mengabaikan Kak Senna yang mengoceh tanpa henti.

Mama yang baru selesai mandi merasa heran dengan perlakuan anak-anaknya. "Kalian ini kenapa pagi-pagi sudah ribut?"

"Tuh Ma, masa Adri gak mau mandi bareng. Padahal kan biar cepet, udah tau aku mandinya lama, belum dandan. Duh!"

"Adrian kan sudah besar. Dia pasti malu mandi bareng Kakaknya. Apalagi kamu perempuan."

Aku tersenyum puas di ambang pintu. Dengan segera, aku menutup pintu kamar mandi, melepas bajuku, dan...

BRAK.

Kak Senna memasuki kamar mandi, lengkap dengan segala perlengkapan mandinya. "Biar cepet. Kakak mau dandan."

Aku hanya bisa memijat pelipisku ketika Kak Senna melepas pakaiannya satu per satu. Memang dasar Kakak tidak tau malu. Untung saja aku sedang buru-buru, kalau tidak mungkin aku sudah menendang Kak Senna keluar saat ini juga.

-----

Aku menatap pantulan diriku di cermin besar dihadapanku. Balutan tuxedo warna hitam terlihat sangat pas di tubuhku. Dilengkapi dengan tatanan rambut yang ku sisir rapi ke belakang.

Only One [Completed]Baca cerita ini secara GRATIS!