Awal Luka Semesta

2K 126 9

Ketika Maharaja Sentanu naik tahta beberapa generasi kemudian, Gangga mewujudkan diri sebagai seorang manusia. Gadis jelita yang tinggal di tepi sungainya. Demikianlah kisah besar ini dibuka... dengan sebuah kisah sederhana mengenai cinta.

Gangga bertemu dengan Maharaja Sentanu saat Sang Raja sedang berjalan-jalan bersama para pengawalnya. Seperti yang sudah disuratkan, Sang Maharaja langsung jatuh cinta kepada Gangga. Aku melihat maharaja yang mabuk kepayang itu berkali-kali datang bersama iring-iringannya, hanya untuk menatap Gangga, kemudian mulai mendekat untuk bertegur sapa.

Tak memerlukan waktu yang lama bagi Maharaja Sentanu untuk melamar Gangga. Dengan membawa berbagai emas, perak, beserta gulungan-gulungan sari yang mahal, Raja Santanu datang ke tepi Sungai Gangga.

Aku mendengar suara musik yang dimainkan di antara iring-iringan itu. Gangga tersenyum hingga pipinya memerah saat mendengar kata-kata manis terucap dari mulut Raja Sentanu.

"Jadilah istriku, duhai perempuan yang kecantikannya setara dengan Dewi Gangga," demikian raja itu berucap, "Aku akan memberikan apa pun yang kau inginkan. kerajaanku. Seluruh hartaku. Bahkan nyawaku."

Gangga tersenyum mendengar rayuan dari Sang Maharaja. Dia menatap seluruh hadiah dari Maharaja Sentanu yang baginya hanya merupakan benda-benda duniawi.

"Sebenarnya, aku tidak menginginkan semua ini, Maharaja Sentanu," jawab Gangga untuk lamaran itu, "Aku bersedia menjadi istrimu. Tapi hendaklah kau mengingat syarat-syarat dariku ini."

"Syarat apakah itu, Dewiku?" Raja Sentanu agak bingung dengan jawaban itu.

"Dengarkan ini, Maharaja Sentanu. Aku akan mendampingimu, namun baik engkau atau orang lain, tak boleh menanyakan siapa aku dan dari mana asalku."

"Itu hal yang mudah."

Gangga memamerkan senyuman yang berhasil memikat hati Sang Maharaja, membuat Maharaja Sentanu makin bersemangat memboyong calon permaisurinya.

"Kau tak boleh marah kepadaku, apa pun alasannya. Kau tak boleh mengatakan sesuatu yang membuatku sedih."

Raja Sentanu mengangguk menyatakan kesanggupannya.

"Satu hal yang terpenting, Maharaja. Kau tak boleh melarangku melakukan apa pun. Tak boleh mengomentari apakah tindakanku itu baik atau buruk," rahang Gangga mengeras saat dia mengatakan hal ini, "Saat kau melanggar satu saja dari semua syarat-syaratku tadi, maka saat itu pula... aku akan meninggalkanmu."

Maharaja Sentanu sempat mengernyitkan alis mendengar perkataan Gangga, namun dia mengangguk dengan ragu-ragu.

"Demi cintaku kepadamu, aku akan melaksanakan apa pun persyaratanmu," Maharaja Sentanu berkata, berusaha meyakinkan Gangga.

"Iring-iringan pengantin akan segera datang. Bersiaplah, Dewiku... kau akan menjadi Maharani tercantik di Hastinapura."

***

Gangga memanggilku setelah iring-iringan lamaran itu pergi dari kediamannya. Rasa penasaran membuatku segera mewujud lalu bergerak untuk menyentuh sebuah anting bertahtakan berlian dan batu ratna yang bersinar.

Anda akan menjadi pengantin yang cantik, Ibu, aku menulis di atas batu paras pemberian Gangga. Itu adalah satu-satunya alat komunikasi yang bisa aku gunakan.

Gangga menyentuh salah satu kalung susun penuh permata. Senyuman Gangga terlihat miris. Dia menatapku sejenak, lalu mulai berkata dengan nada resah.

"Tak heran Kakak Saraswati mengatakan kalau keinginan hanya membuat kita semakin fana," ujarnya sambil memandang sari merah berbordir mawar, menggeleng-geleng dengan sedih.

"Kadang-kadang mengetahui suratan takdir sambil terlibat di dalamnya sungguh membuatku terasa tersiksa," Gangga berkata, lalu menepuk bahuku perlahan-lahan, "Ingat-ingatlah pesan Kak Saraswati, Putriku." Dia memelukku selama beberapa saat. Aku merasakan kesedihannya bergulung-gulung bagai gelombang di sungainya.

"Jagalah Sungai Gangga selama aku pergi," dia berkata, "Aku akan kembali saat Maharaja Sentanu melanggar janji."

***

Aku melihat kepergian Gangga dalam sebuah tandu berkilauan, dalam iring-iringan termegah yang pernah aku lihat. Saat itu, aku sama sekali tidak mengerti apa maksud perkataan Gangga. Dengan semua yang dilakukan Maharaja Sentanu kepada Gangga, apakah Sentanu akan sanggup melanggar janji?

Jawaban atas pertanyaanku perlahan-lahan terlihat saat Gangga mulai menenggelamkan bayi pertamanya ke dalam sungai. Setelah itu, setiap tahun... Gangga datang, mengulangi apa yang dia lakukan. Terus... dan terus.

Maharaja Sentanu mengetahui tindakan Gangga di tahun ketiga. Sekitar empat kali, aku melihatnya memandang Gangga dari kejauhan. Tangannya mengepal. Dia melangkah ragu-ragu... lalu berhenti.. Selalu begitu. Tiap tahun, Sang Maharaja melangkah, lalu berhenti. Namun lama-kelamaan jarak pemberhentiannya semakin dekat dengan Gangga. Kemarahan Maharaja semakin memuncak karena Gangga telah tega membunuh putra-putranya dengan cara begitu kejam.

Di tahun ke delapan, aku melihat Maharaja Sentanu akhirnya berdiri di sebelah Gangga. Kemarahan berkobar-kobar di dalam matanya. Kalimat demi kalimat pedas meluncur begitu saja dari mulut Sang Maharaja. Dia mengatakan Gangga ibu yang keji, sadis... Sederet kata-kata yang memerahkan telinga terdengar begitu keras. Saat Gangga membuka jati dirinya, barulah aku melihat Maharaja Sentanu terkesima dengan wajah begitu pucat.

Aku melihat Gangga datang dengan wajah lega, sekaligus murung. Tugasnya telah selesai. Di tangannya saat itu, tergenggam seorang bayi laki-laki yang sangat gagah.

"Aku tidak tahu, apakah harus kasihan atau bahagia pada anak ini," saat itu Gangga berkata, "Dewabrata. Anakku yang akan menjadi ksatria yang termasyur dalam kemegahan sejarah."

Kalau begitu, mungkin seharusnya anda berbahagia, tulisku.

Ada kilat luka yang membuat senyuman Gangga terlihat sedih. Aku agak heran melihat sikapnya yang menggendong bayi itu sambil mendendangkan nada yang sendu.

Ada apa, Ibu? Tanyaku.

"Aku hanya sedang memikirkan Maharaja Sentanu," katanya dengan nada bersedih.

Karena dia akan bersedih atas kepergian ibu?

Gangga menggeleng, "Tidak, Putriku... aku hanya bersedih kalau memikirkan, kata-kata yang dia gunakan untuk melamarku... akan dia gunakan lagi untuk melamar wanita lain."


#StopPlagiarism

Author Putfel

Legenda Negeri Bharata [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang