9. Peduli nggak ya? [EDITED]

62.3K 9.3K 1.2K

Ini panjang, kayak giginya Bobby. Jd comment pls.

















Oliv berusaha sekuat mungkin untuk membuka matanya. Jam baru menunjukan pukul delapan malam tapi Oliv sudah mengantuk luar biasa. Mungkin keadaan perpustakaan kota yang sepi dan hening serta angin semilir membuat Oliv mengantuk. Oliv memiringkan kepalanya lalu menatap Hanbin yang nampak begitu fokus pada bukunya. Sudah dua jam semenjak kedatangan mereka di tempat ini, Oliv heran mengapa cowok itu tidak mengantuk sama sepertinya.

"Bin..." panggil Oliv. Hanbin tak merespon. Tangan Oliv menepuk pelan pipi Hanbin.

"Hanbin..." panggil Oliv sekali lagi. Hanbin masih belum menjawab. Entah karena tidak mendengar atau tidak berminat untuk merespon.

"Aduh, perut gue sakit ! Bin, kayaknya gue maagh. Aduh, Bin..." Oliv berakting kesakitan untuk mencuri perhatian Hanbin. Namun gagal karena Hanbin belum juga mengalihkan pandangan.

Sepertinya Oliv memang tidak pernah berbakat dalam bermain peran. Pernah dirinya ditunjuk untuk mengikuti simulasi siswa yang harus berakting kesakitan untuk menguji para anggota UKS, tapi tidak ada satupun yang percaya dengan akting gadis itu.

"Cuekin aja terus, nggak apa-apa. Biar besok gue jalan sama June," ketus Oliv. Hanbin langsung menoleh dan menatap Oliv dengan tajam. Oliv memilih untuk membuang muka.

"Ke mana?"

"Ke mana aja asal hati gue seneng dan nggak tertekan lagi cuma gara-gara punya cowok nggak pedulian kayak lo."

"Gue nggak kasih izin," tegas Hanbin tak kalah ketus. Pandangannya sudah kembali terfokus pada buku yang tadi dibacanya.

"Mau lo izinin atau nggak juga gue bakal tetep pergi sama dia," Balas Oliv sinis.

"Nggak usah ngeyel kalau dibilangin."

"Bodo amat."

"Besok nggak usah ke mana-mana. Belajar aja di rumah."

Oliv menoleh cepat. "Sayangnya gue itu bukan lo." cerca Oliv penuh penekanan. Hanbin kembali menoleh dengan ekspresi datarnya.

"Nggak ada yang bilang lo itu gue," balas Hanbin. Oliv terdiam.

Peraturan yang ada dalam hubungan mereka adalah,  Hanbin tidak pernah salah. Jika Hanbin salah, maka kembali pada peraturan pertama. Hanbin selalu benar.

"Kenapa lo ngeselin banget sih?"

"Gue peduli."

"Peduli apanya, sejak kapan lo peduli? Lo itu nggak pernah peduli!"

"June itu nggak bener," cetus Hanbin. Oliv mengerutkan dahinya. Gadis itu terkekeh.

"Terus lo pikir lo itu bener?" desis Oliv.

"Seenggaknya gue nggak pernah ngajak lo main ke club atau ngerokok di atap sekolah."

Kali ini Oliv benar-benar terdiam oleh jawaban Hanbin. Kalau masalah clubbing, Oliv tahu Hanbin mengetahui hal tersebut. Tetapi jika mengenai rokok, Oliv tidak pernah mengira bahwa Hanbin juga akan mengetahuinya.

"Gimana lo bisa tau?" Oliv gugup mendadak gugup. Hanbin menghela napas.

"Gue diem bukan berarti gue nggak peduli. Gue tau semua yang lo lakuin," jawab Hanbin.

"Maaf."

"Temen itu berpengaruh. Kalau lo temenan sama pencuri, lo pasti bakal ikutan nyuri. Sebaliknya, kalau lo temenan sama orang baik, lo pasti ikutan baik. Pinter-pinter pilih temen."
"June, Bobby sama Donghyuk itu baik. Gue ngerokok karena gue sendiri yang minta padahal mereka udah ngelarang gue. Mereka bikin gue seneng, mereka bikin gue ketawa, nggak kayak lo. Selalu bikin sedih."

StayBaca cerita ini secara GRATIS!