Sam tak menyadari pembunuh itu tengah mengendap-endap di sampingnya, terlebih lagi karena ada tirai putih yang memisahkan bathub-nya dengan sosok bertopeng itu.

Tepat waktu, Sam memutuskan membuka matanya dan menjerit melihat ada bayangan yang tengah mengangkat pisau di balik tirai putih bak mandinya.

"AAAAAAA!!!"

Pisau pembunuh itu segera mengoyak tirai itu sementara tangannya menghujam hingga ke dalam bathub.

"SREEEEET ... " terdengar suara robekan tirai itu. Bahkan pisaunya nyaris menyentuh tubuh Sam di dalam air.

Insting dan refleks Sam membuatnya dengan cepat melompat dan segera menjatuhkan tirai itu ke arah sang pembunuh, membuatnya terjebak di dalamnya sehingga memberi Sam kesempatan untuk kabur.

***

Lyra dan Mike menyentuhkan jari telunjuk mereka di atas lup yang akan mereka gerakkan di sepanjang papan ouija itu.

"Ayo, Jessica! Kau tunggu apa lagi?"

"Aku tak percaya kita memainkan ini sekarang." bisik Jessica.

"Hei, kita kan sering bermain Ouija saat kita berakhir pekan di resort ski ini. Apa kau lupa?" jawab Mike.

"Maksudku tidak setelah kematian Hope dan Dawn!"

"Apa kau takut hantu Dawn dan Hope akan beneran datang .... Ooooooo ..." Mike menirukan suara hantu.

"Sama sekali tidak lucu, Mike!" Jessica bertambah gusar.

"Aku belum pernah bertemu Dawn dan Hope. Jadi kurasa akan asyik jika bisa bertemu hantu mereka."ujar Lyra.

"Nah, dia saja setuju. Ayo kita mulai!"

Jessica dengan enggan akhirnya ikut menumpangkan jarinya ke atas lup itu.

"Oke, kita mulai ..." Mike menarik napas dalam-dalam, "Roh yang berada di sini ... mohon bimbinglah kami ... Jika kau berada di sini, mohon berikan kami tanda!"

Jessica menahan dirinya agar tidak tertawa cekikikan.

"Li ... lihat ... lupnya mulai bergerak!" ujar Mike terbata-bata.

Lup yang mereka pegangi bertiga mulai bergeser ke arah "Yes".

Tawa Jessica meledak, "Itu kau yang menggerakkannya, Mike!"

"Huh, kalian mau bermain-main atau mengundang hantu beneran?" Lyra mulai kesal."Mana biar aku saja yang melakukannya ..."

Mike dan Jessica bergidik ketika Lyra, sambil memejamkan mata, mulai mengucapkan sesuatu dalam bahasa yang tak pernah mereka dengar.

"A ... apa yang barusan kau ucapkan?" tanya Jessica. Aura seram mulai membungkus ruangan dimana mereka berada, apalagi saat itu mereka berada dalam kegelapan.

Lyra akhirnya membuka matanya setelah usai komat-kamit. "Itu mantra kuno yang sering diucapkan kaum gypsi Magyar di tempat asalku untuk memanggil roh. Tunggu saja, ia pasti akan datang."

"Apa-apaan ..." pekik Mike ketika lup yang mereka bertiga pegang mulai bergeser.

"Siapa kau?" tanya Lyra.

Lup itu bergeser ke huruf "I".

"Aku adalah 'aku'? Itu yang coba kau katakan? Itu tidak menjawab pertanyaanku." kata Lyra.

"Ta ... tanyakan pertanyaan lain." ujar Jessica yang mulai tertarik dengan permainan ini.

"Pertanyaan apa?" tanya Lyra.

"Kau Hope atau Dawn?" tanya Mike tiba-tiba.

"Mike!" sergah Jessica.

"Apa? Cuma mereka kan yang mati di sini?"kata Mike tanpa rasa bersalah.

HINGGA FAJAR MENJELANGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang