1. Dimas; The Man Who Can't Be Moved

326K 11.2K 848


Policeman says, "Son, you can't stay here."

I said, "There's someone I'm waiting for if it's a day, a month, a year.

Gotta stand my ground even if it rains or snows.

If she changes her mind this is the first place she will go."

The Script - The Man Who Can't Be Moved

1. Dimas; The Man Who Can't Be Moved

Namanya Dimas, 16 tahun dan belum pernah pacaran. Bukan karena Dimas pemilih, bukan juga karena dia kurang ganteng untuk dipilih. Tapi Dimas masih stuck dengan cinta pertamanya sejak SD, namanya Savira. Satu-satunya cewek yang dianggap cantik dan manis selain Mama dan kakaknya. Status hubungannya dan Savira, digantung kayak jemuran yang nggak kering-kering, alias nggak bakal diangkat. Dan entah sampai kapan Dimas harus menunggu hubungan mereka 'kering' sampai akhirnya Savira mau mengangkatnya dan nggak lagi menggantung cintanya.

Dimas merasakan tepukan di kepala belakangnya, membuat dirinya dengan sangat terpaksa harus bangun. Padahal Dimas baru saja berhasil terlelap di atas sweatshirtnya yang dilipat sebagai bantal lima menit setelah Fahrozi, alias Oji si ketua kelas mengungumkan bahwa kelas mereka akan kosong selama dua jam ke depan karena guru-guru akan rapat.

Dimas memutar kepalanya ke samping, melihat orang kurang ajar mana yang berhasil mengganggu tidurnya. Dan tepat seperti dugaan Dimas, Gio lah yang baru saja melayangkan tepukan di kepala belakangnya. Dugaan Dimas tidak pernah meleset, karena Dimas tau hanya Gio lah satu-satunya orang yang berani bersikap kurang ajar padanya. Namanya juga sahabat, kalau belum kurang ajar ya belum sahabatan namanya.

"Tidur mulu, pantes jomblo!" ucap Gio sambil mengunyah ciki jetznya.

Dimas bersiap menimpuk kepala Gio dengan apa saja yang ada di hadapannya namun terlambat karena Gio sudah lebih dulu mendudukkan tubuhnya di samping Dimas dan merangkulnya sangat dekat, membuat Dimas bahkan bisa mencium aroma coklat dari mulut Gio. "What the heck, Yo! Jaga jarak, njir!" omelnya membuat Gio mendengus sambil mengendurkan rangkulannya.

Gio lalu menepuk-nepuk bahu Dimas yang sudah bersiap untuk merebahkan kepalanya kembali ke atas lipatan sweatshirt abu-abunya. Hal itu jelas membuat Dimas menggeram. "Apa sih, Yo? Nggak bisa lihat gue seneng dikit, apa?"

"Justru gue mau ngasih lihat pemandangan yang bakalan bikin lo seneng." Gio berkata sambil cengengesan. Gio mengedikkan dagunya ke arah luar kelas.

Dimas mengikuti arah yang ditunjuk Gio tetapi dia tidak menemukan apa pun di luar sana selain kepala-kepala milik teman sekelasnya yang mejeng di balkon. "Apaan?" tanyanya sambil mengernyit. "Nggak ada apa-apa."

Gio berdecak. "Sabar, kita hitung mundur." Gio mengeluarkan sebelah tangannya dari bungkusan ciki berwarna pink tersebut. Tangannya langsung menghitung mengikuti suaranya, "Satu...dua...tiga!"

Tepat setelah Gio mengucapkan kata tiga, segerombolan anak perempuan berseragam olahraga melintasi koridor depan kelas Dimas. Seketika suasana ramai di depan kelas mendadak hening hanya diisi suara gerombolan tersebut. Hal itu jelas membuat Dimas semakin memperdalam kernyitan di dahinya. "Man, bidadari lewat!"

"Mana?" tanya Dimas polos, membuat Gio sweetdrop seketika.

Gio mendengus sambil kembali merogoh kantung cikinya, namun sayang kantung itu sudah kosong. "Itu lo nggak lihat tadi? Itu ada cewek badainya sekolah kita."

Dimas menatap Gio datar membuat Gio menepuk jidat sahabatnya tersebut, hal yang selalu Gio lakukan jika Dimas sudah berekspresi datar. "Rachel, Dimas! Ada Rachel. Itu loh, model yang lagi naik daun itu!"

Knock Me OutTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang