1. Jao; Pria Gerhana

31.7K 2.5K 421

Menyarankan Jao agar membawa adiknya ke pesantren untuk mendapat penanganan khusus dari seorang kyai sama dengan meyakinkan orang-orang bahwa ikan bisa hidup di daratan. Ini bukan pesimis, tapi Prasetya sudah memperhitungkan peluang itu berdasarkan pemikiran Jao mengenai spiritualisme atau dunia supranatural.

Konon, saat mengenakan pakaian putih abu-abu, Prasetya mengenal Jao sebagai siswa yang cerdas, mengerikan, juga konyol sekaligus. Namun, obrolan mereka beberapa bulan lalu-setelah sepuluh tahun tidak bertemu-membuka sisi diri Jao yang lain, bagian tergelap darinya yang didengungkan sebagai modernitas berpikir. Terpisah selama satu dasawarsa ternyata mengubah segalanya. Lamat-lamat dalam ingatan, suara Jao mengumandangkan adzan terputar kembali, membawa nuansa berbeda ketika memori yang lain justru menyetel obrolan mereka tentang konsep ketuhanan. Bagi Prasetya sendiri, reuni itu benar-benar menakutkan. Jao yang rajin sholat, tidak pernah bolong saat berpuasa, juga bercita-cita menaikkan haji kedua orang tuanya berubah menjadi sosok lain dan berbeda.

Bagaimana perasaanmu melihat seorang malaikat di masa lalumu bertransformasi menjadi iblis yang lahir dari gerhana?

"Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?" Jao menatap Prasetya, melupakan sketsa wajah yang diarsir pada sebuah halaman buku sketch.

"Ya, Dia yang menciptakan semuanya."

"Tuhan menciptakan semuanya?" Ulangnya dengan nada yang lebih gelap.

"Ya. Semuanya." Prasetya memutuskan untuk menatapnya.

Dia tersenyum miring, sebentar namun kadar mengerikannya tidak bisa dibantah, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan kejahatan karena kejahatan itu ada. Kita menyadari bahwa apa yang kita lakukan menjelaskan siapa kita. Jadi, bisa diasumsikan bahwa Tuhan itu adalah kejahatan."

Kening Prasetya mengerut. Jao mau menyimpulkan apa kali ini? Batinnya bertanya-tanya. "Ntar dulu, menurut lo dingin itu ada nggak?"

"Tentu ada." Raut muka Jao tidak berubah.

"Kenyataannya, Jao, dingin itu nggak ada. Menurut hukum Fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Semua partikel menjadi diam dan nggak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menyebut dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas." Prasetya adalah seorang dosen di Fakultas MIPA dan mengampu mata kuliah Termodinamika, maka jangan sekali-kali meragukan kemampuannya terhadap materi tersebut.

Jao mencondongkan tubuh, tertarik, "Elo ingat bab mengenai kesesatan semantik dalam buku filsafat elo dulu?"

Prasetya tampak bingung.

"Biar gue ulangi secara singkat. Panas dan dingin adalah istilah subjektif. Menurut John Lock, keduanya merupakan contoh kualitas sekunder. Kualitas sekunder merujuk pada bagaimana kita merasakan suatu fenomena yang memang ada dan dalam kasus ini adalah pergerakan partikel atomik. Istilah dingin atau panas menunjukkan interaksi antara sistem saraf manusia dengan variasi kecepatan dalam partikel atomic di lingkungan. Jadi, yang sesungguhnya ada adalah suhu. Jadi, argument elo salah. Elo nggak membuktikan bahwa dingin itu nggak ada atau dingin itu ada tanpa status ontologis. Yang lo lakuin adalah mengatakan bahwa dingin hanya istilah subjektif karena suhu yang lo sebut dingin, -460F, akan tetap ada. Jadi, Pras..., menghapuskan istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan sebagai sebuah fenomena tidak menghapuskan keberadaan fenomena tersebut."

Prasetya mencoba memahami setiap kalimat yang diucapkan sahabatnya.

"Singkatnya begini, walau elo bilang dingin nggak ada, elo nggak bisa menghapus keberadaan dingin itu." Dan senyum Jao berubah jadi senyum iblis yang mempesona.

"Uhm, okay, bagaimana dengan gelap?" Prasetya belum menyerah.

Jao mengendikkan bahu, santai, "Lo masih mengulangi kesesatan logika yang sama, Pras."

Pria Gerhana Yang Membawa Cinta Untuk SurgaBaca cerita ini secara GRATIS!