Part 19- Kehendak Hati

2.3K 196 2

Dua hari semenjak Cellyn mendengar semuanya dari Andra, ia bertekad untuk bicara baik-baik kepada Denin. Cellyn mencari cara supaya dia bisa dengan mudah mengatakan semua itu.

Kini ia sudah ada di kafe Angrrek menunggu Denin. Sembari menunggu, Cellyn mengotak-atik ponselnya. Sepi senyap, tidak ada notifikasi dari siapapun.

Cellyn menatap ponselnya nanar. Dulu ponselnya selalu penuh notifikasi dari Kevin.

Lihatlah, begitu besar dampak yang diberikan Kevin di kehidupan Cellyn. Bagaimanapun Cellyn berusaha mengelak, ia tidak akan bisa mengingkari hatinya sendiri. Perasaannya dengan Kevin masih sama sejak dua tahun yang lalu.

Semua hari yang pernah ia lalui dengan Kevin, tidak bisa terhapus dari ingatan Cellyn. Bahkan walaupun cowok itu telah menyakiti hatinya.

Entah bagaimana sekarang kehidupan Kevin, Cellyn mencoba untuk tidak mencari tau. Ia berhenti untuk mencari tau segala sesuatu yang berhubungan dengan Kevin. Cellyn memaksa dirinya untuk tidak lagi menjadi penggemar rahasia Kevin seperti dulu.

Jauh sebelum Kevin menyatakan perasaannya, Cellyn sudah menyukai cowok itu. Berbulan-bulan ia menjadi penggemar rahasia Kevin, bahkan sampai sekarang kalau saja Kevin tidak menjadi penyebab kematian kedua orang tuanya, Cellyn yakin pekerjaannya itu tidak akan berhenti.

Ketukan di meja menyadarkan Cellyn dari lamunannya. Cellyn mendongak mendapati Denin dengan setelan casual yang cocok dipakainya.

Cellyn akui, Denin memang ganteng, dia keren, dia perhatian, cowok setia, tetapi semua itu tidak bisa menjadi alasan Cellyn untuk membalas rasa suka Denin. Dirinya dan Denin hanyalah sebuah sahabat, tidak lebih. Begitulah yang Cellyn inginkan.

"Mikir apaan?" tanya Denin dan langsung duduk di kursi depan Cellyn.

Tangannya terulur untuk memesan makanan, tapi Cellyn mencegahnya.

"Nggak usah Den, gue nggak pingin makan."

"Terus lo maunya apa? Gue?" Denin mengerlingkan matanya.

Cellyn memukul kepala Denin menggunakan dompetnya. Cowok itu meringis.

"Gue mau ngomong soal Andra. Gak usah ngajak ribut dulu," geram Cellyn.

"Kenapa sama Andra? Dia baik-baik aja," sahut Denin.

"Den, apa yang akan lo lakuin seandainya Andra suka sama lo?" tanya Cellyn serius.

"Gue udah tau," jawab Denin santai.

"Hah?" Cellyn membelalakkan matanya tidak percaya. Jadi selama ini?

"Kenapa kalau lo tau Andra suka sama lo, lo masih deket-deket sama gue sih Den?"

Cellyn benar-benar tidak mengerti ke mana arah pikir Denin. Memang Andra batu apa tidak punya perasaan? Andra juga cewek, sama seperti Cellyn yang juga mempunyai perasaan seperti cewek lainnya.

"Andra udah suka sama gue sejak dulu. Andra sama gue udah sahabatan sejak lama Cell. Dia udah bilang ke gue berkali-kali kalau dia suka sama gue, tapi nyatanya walaupun udah gue coba suka sama Andra, tetap nggak bisa Cell. Nggak ada yang bisa maksa seseorang buat suka sama orang lain. Lo ngerti kan Cell? Sama seperti lo dengan Kevin." Denin menyenderkan bahunya di kursi.

Cellyn memandang Denin tidak percaya, dia seharusnya tidak berhak menyebut nama Kevin dihadapan Cellyn lagi.

"Nggak. Hubungan gue sama Kevin nggak seperti hubungan kalian. Gue masih bisa lepasin Kevin karena gue tau dia nggak baik buat gue. Sedangkan lo udah tau Andra itu cewek baik malah lo sia-siain. Dan lo milih gue yang jelas-jelas nggak bisa suka sama lo Den," meskipun begitu, sebenarnya Cellyn tidak tega bicara begitu.

Tapi apa boleh buat, tidak ada yang tahu kehendak hati akan memilih.

Cellyn berdiri dari duduknya, dia memandang Denin tajam. "Gue harap lo pikirin apa kata gue Den. Sekali aja, lo coba balas perasaan Andra."

Kemudian gadis itu berlalu pergi meninggalkan Denin dengan sejuta pikiran yang timbul akibat perkaaan Cellyn.


Secret Admirer ✔️Baca cerita ini secara GRATIS!