Diriku

3.7K 412 47

Aku mengangkat kepalaku setelah hampir setengah jam aku membenamkan diri didalam bathube. Nafasku sedikit tersengal-sengal. Sekarang aku sudah membuat rekor baru dalam diriku untuk tidak bernafas selama dua puluh tiga menit sekian detik. Itu sudah menjadi kebiasaan yang bagiku cukup menyenangkan. Tidak bernafas dan terlelap didalam air membuatku merasa sedikit tenang.  Mungkin orang lain akan heran melihat kebiasanku. Kulihat jam sudah menunjukan pukul setengah tujuh pagi. Yap, hari ini adalah hari pertamaku kerja di bar milik bibi Eliyana. Aku meraih piyama handukku setelah selesai keramas. Pagi ini benar-benar segar sekali.

Sebenarnya aku ingin sekali melanjutkan kuliah, tapi orang tuaku tidak sanggup membiayai kuliahku. Tapi—yahh mau bagaimana lagi. Aku tidak bisa memaksakan keadaan meskipun sebenarnya nafasku sedikit sesak jika mengingat hal itu. Yap, aku ingin sekali terus bersekolah dan menjadi orang besar. Tapi, kenyataan selalu membuatku meronta dalam diam.

Saat aku membuka pintu kamar mandi, aku dikejutkan oleh sosok laki-laki yang sudah berbaring santai di tempat tidurku sambil membolak-balikan buku novel kesayanganku. Dia—Felix Adalbrectha, pemuda yang dijodohkan denganku. Aku hanya terdiam kaku saat melihatnya dikamarku yang masuk dari entah mana. Aku baru melihatnya lagi setelah satu minggu aku berkunjung kerumahnya bersama keluargaku.

"Felix?" Panggilku lirih.

Felix hanya melirik sejenak lalu kembali fokus pada bukunya.

"Sejak kapan kau disini?" Aku menatap pintu kamar sejenak lalu memutar kenopnya. Pintu itu masih terkunci sama seperti waktu aku belum mandi. "Bagaimana kau bisa masuk kekamarku? Apa orang tuaku tahu kau datang kemari?"

Felix meliriku lalu terbangun dengan malas dari pembaringannya sambil melempar bukuku yang sudah tampak usang ke tempat tidurku.

"Kau mandi lama sekali." Felix melirik jam dinding yang terpajang manis disamping foto wisuda SMA-ku. "Kau mandi selama setengah jam lebih? Bagaimana jika kau terkena flu?"

"Aku sudah terbiasa berlama-lama didalam air, jadi kau tidak perlu khawatir." Jawabku santai. "Kau belum menjawab pertanyaanku." Aku mengusap-usap rambutku dengan handuk secara kasar.

Felix terduduk dikursi yang berdekatan dengan meja kamarku sambil menyenderkan punggungnya. "Aku masuk lewat jendela. Dan orang tuamu, aku tidak perduli mereka mengetahui kedatanganku atau tidak. Yang terpenting adalah menemuimu."

Aku melirik tak percaya. "Kalau kau ingin menjadi menantu yang baik kau harus menemui orang tauku dulu sebelum menemuiku. Tidak seperti ini caranya. Dasar tidak sopan!" Aku menggeleng-gelengkan kepala dengan tatapan sedikit sinis.

"Baik atau tidaknya aku, orang tuamu akan tetap mau menerimaku bukan? Bahkan jika wajah mereka kujadikan sebagai lap kakiku sekalipun, mereka akan tetap menerimaku sebagai menantunya."

Aku terdiam sejenak dan mencerna ucapan yang baru keluar dari mulutnya yang terdengar sombong. Ucapan itu membuat emosiku meningkat tajam dalam sekejap. Aku mengepalkan tangan untuk menahan amarahku yang hampir keluar. "Apa karena kau orang kaya kau berbicara seenaknya seperti itu? Sombong sekali kau."

Felix tampak menyadari reaksiku hingga akhirnya ia terbangun dari duduknya dan mendekatiku. Tapi aku justru malah sebaliknya. Ia melangkah seiring mundurnya diriku hingga akhirnya kurasakan punggungku sudah menempel di dinding.

"Apa kau lupa, alasan apa yang membuat orang tuamu menikahkan putri bungsunya dengan putra Adalbrectha? Kau pasti menyadari hal itu Ririn. Dan ibumu menamparma karena hal itu kan? Kau menolak untuk dinikahkan denganku." Felix menyeringai. "Dan sekarang aku menginginkanmu layaknya orang tuamu yang menginginkan harta keluargaku." Felix menempelkan kedua tangannya di dinding dan mengunci pergerakanku. Namun aku sudah menyiapkan kakiku jika ia berani macam-macam denganku. "Orang tuaku mungkin tidak menyadari hal itu karena ayahku dan ayahmu adalah sahabat karib. Tapi aku bisa melihatnya dari mata kedua orang tuamu. Dan aku juga tahu tentang Grisha, kakakmu yang ternyata juga wanita matrealistis." Lanjutnya lagi.

Loizh III : ReinkarnasiBaca cerita ini secara GRATIS!