Part 18- Ada Pengganti

2.6K 202 12

Hari- hari yang berat berhasil Cellyn lalui. Melalui bantuan dari sahabatnya, keluarga terdekatnya, juga tidak lupa Denin. Meskipun awalnya Cellyn merasa terganggu dengan kehadiran Denin, namun dia mulai terbiasa akan sikapnya.

Ternyata bentuk semua perilaku Denin semata-mata hanya karena dia ingin menghibur Cellyn.

Saat ini Cellyn sudah hampir lulus, hampir dua tahun dia tidak pernah mendengar kabar Kevin lagi.

Kevin, cowok itu tidak pernah menampakkan dirinya lagi. Terakhir kali Cellyn melihatnya saat di kantin waktu itu. Tidak ada yang tau ke mana perginya sang pewaris sekolah, yang pasti tidak ada satu pun yang berani membicarakan ketidakhadirannya lagi di sekolah. Seolah semua mereka simpan rapat-rapat sebagai suatu rahasia besar.

"Gue bantuin ya Cell?" Denin berdiri di samping Cellyn dengan senyum yang mengembang.

Cellyn membalas senyumnya. "Nggak usah Den, gue bisa kok angkat kursi sendiri."

"Nggak, ntar lo bisa kenapa-napa kalau nggak kuat terus kursinya jatuh," Denin tetap bersikukuh dan langsung mengangkat kursi Cellyn untuk diletakkan di atas meja.

Hari ini ada lomba kebersihan kelas, maka dari itu semua kursi dinaikkan ke atas meja agar mudah menyapu lantai.

"Lo itu terlalu baik Den," ucap Cellyn sambil berjalan ke taman membantu teman-teman yang lainnya.

"Terlalu baik, maksudnya?" tanya Denin bingung.

"Ya gue nggak enak hati sama lo. Selama ini lo selalu ada saat gue butuh, tapi gue nggak bisa ada buat lo Den. Apa lo nggak capek begini terus?" Cellyn menata pot yang berntakan sambil bicara dengan Denin.

Denin ikut berjongkok, "gue nggak butuh lo balas semua yang gue lakuin Cell, cukup lo bahagia gue juga bahagia," senyumnya kembali muncul.

Cellyn menghela napas. "Maafin gue ya. Gue terlalu bodoh untuk lo cintai."

Pot yang dipegang Cellyn diambil alih Denin. "Denger ya Cell, lo nggak perlu minta maaf. Sudah seharusnya ini terjadi, gue udah seneng."

Andra mendengarkan semua perbincangan mereka. Mulai dari di dalam kelas sampai mereka keluar Andra tau.

Karena tidak memperhatikan langkahnya, kaki Andra tergelincir dan masuk ke dalam selokan kecil yang kering di depan kelas. Satu tangannya yang ia gunakan untuk mengantung pot di atas lepas, sehingga pot itu hampir saja jatuh mengenai wajahnya.

Tetapi sebelum hal itu terjadi, ada seseorang yang menahan pot itu.

Mata Andra masih terpejam karena takut melihat apa yang terjadi sekarang.

Saat semua siswa mulai bersiul jail, barulah Andra membuka mata.

"Gue kira Denin," batin Andra.

Hatinya sedikit mencelos, tidak mungkin Denin menolongnya. Andra merutuki dirinya sendiri bisa berpikiran seperti itu. Yang menolongnya adalah Daffa.

"Ndra lo gappaa?" Cellyn mendekat dan mencoba melihat kaki Andra yang tergelincir.

"Kayaknya lo keseleo," ucap Cellyn setelah melihat kaki Andra yang membiru.

"Nggak papa kok, gue bisa jalan. Tenang aja, nih gue jalan ya." Andra berdiri dan mencoba berjalan namun dia jatuh lagi.

"Bener kan Ndra, lo keseleo. Ke UKS aja, biar Denin bantu lo. Gue obatin di sana."

Andra menggeleng pelan. Dia bukannya tidak mau diobati Cellyn yang menjabat sekertaris PMR, tetapi dia tidak mau dibantu Denin ke sana. Sudah ujian cukup besar dia berada sekelas dengan Denin, tidak mungkin jantungnya bisa tahan nanti.

Secret Admirer ✔️Baca cerita ini secara GRATIS!